Senin, 20 Februari 2017

6 Kaum yang Dibinasakan Allah Karena Kezaliman

Alquran menceritakan sejumlah kaum dibinasakan oleh Allah karena melakukan kezaliman dan kemaksiatan di muka bumi, seperti mengingkari ke-esaan Allah bahkan memusuhi Rasul yang diutus kepada mereka. Kehancuran dan kematian menjadi balasan atas kemungkaran dan kemaksiatan yang mereka lakukan sendiri.
“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun, kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka” (QS Hud: 100-101)
Sisa-sisa kehancuran mereka pun hingga kini masih bisa disaksikan. Para peneliti sejarah dan arkeologis telah banyak menemukan keberadaan kota-kota yang hilang tersebut. Kota-kota ini memiliki ciri sebagaimana yang disebutkan dalam Kitab Suci Alquran dan manuskrip-manuskrip tua tentang kaum yang dibinasakan.
Pembinasaan kaum-kaum ini dikisahkan Alquran agar menjadi bahan pembelajaran untuk kaum-kaum yang hidup di masa setelahnya dan tidak melakukan kezaliman dan kemaksiatan yang sama. Ada banyak kisah kaum yang diazab Allah karena kemungkarannya.


1.Kaum Nabi Nuh as

Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun yang menjawab seruan dakwahnya untuk beriman kepada Allah sangat sedikit. Kebanyakan kaumnya justru mendustakan bahkan memperolok-olok Nabi Nuh. Kezaliman dan kemungkaran yang dilakukan kaum Nabi Nuh mengundang azab Allah. Allah lalu memerintahkan Nabi Nuh dan pengikutnya untuk membuat bahtera. Mereka pun tidak mengetahui untuk apa bahtera itu dibuat. Sementara kaumnya yang ingkar, mencomooh tindakan Nabi Nuh membuat bahtera yang dianggap bodoh.
Saat waktu yang ditentukan tiba, Allah memerintahkan agar Nabi Nuh beserta pengikutnya dan hewan-hewan berpasang-pasangan untuk menaiki bahtera tersebut. Allah lalu mendatangkan banjir yang besar. Seluruh kaum yang ingkar saat itu mati tenggelam. Termasuk istri dan anak Nabi Nuh.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS Al- Ankabut: 14)
Nabi Nuh bersama kaumnya yang taat pun selamat setelah berlayar menggunakan bahtera yang terbuat dari kayu. Setelah berlayar cukup lama, dikisahkan bahtera Nabi Nuh berlabuh di sebuah daratan tertinggi saat itu.
“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.” (QS Al-Qamar: 11-13)
Dalam riwayat disebutkan, air bah yang menenggelamkan kaum Nabi Nuh ketika itu menutupi juga hampir dua pertiga bumi. Nabi Nuh beserta dengan pengikutnya yang beriman berhasil selamat dari azab tersebut atas izin Allah SWT. Namun hingga kini, belum diketahui secara pasti dimana lokasi berlabuhnya bahtera yang membawa Nabi Nuh dan pengikutnya.


2.Kaum Nabi Hud as

Nabi Hud diutus untuk kaum ‘Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Nabi Hud menyeru kepada kaumnya agar mengesakan Allah dan meninggalkan kemaksiatan yang dilakukan. Namun segala seruan dan ajakan Nabi Hud berbuah ejekan, cemoohan dan pengingkaran dari bangsa ‘Ad.
Kaum ‘Ad dikenal sebagai bangsa yang cerdas dan memiliki teknologi untuk membangun gedung-gedung bertingkat. Namun kehandalan dan kehebatan mereka menjadikan mereka sombong, berlaku bengis, zalim, dan mengingkari seruan dakwah yang disampaikan Nabi Hud as.
Akibat kedustaan-kedustaan yang dilakukan bangsa ‘Ad, Allah SWT menurunkan azabnya sangat pedih. Alquran menjelaskan dengan sangat jelas tantang hal ini.
“Adapun kaum ‘Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus; maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka.” (QS Al Haaqqah, 69: 6-8)
Bukti-bukti reruntuhan peradaban bangsa Ad ditemukan para peneliti Barat pada tahun 1990-an di sebuah wilayah yang dikenal ‘Ubar, di wilayah Yaman. Menariknya, apa yang mereka temukan sama persis seperti yang dikisahkan dalam Alquran.
Dr Zarins, seorang anggota tim penelitian yang memimpin penggalian mengatakan karena menara-menara itu disebut sebagai bentuk khas kota ‘Ubar, dan karena Iram disebut mempunyai menara-menara atau tiang-tiang, maka itulah bukti terkuat sejauh ini, bahwa situs yang mereka gali adalah Iram, kota kaum ‘Ad yang disebutkan dalam Alquran:
“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad, (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.” (QS Al Fajr, 89: 6-8)

3.Kaum Nabi Saleh as

Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Misi Nabi Saleh as sama seperti para nabi lainnya, yaitu menyeru manusia untuk bertauhid (mengesakan Allah). Namun seruan Nabi Saleh as justru mendapat tantangan dan cemoohan dari kaumnya, bangsa Tsamud. Bahkan mereka tetap mempertahankan penyembahan terhadap berhala yang diyakini sebagai penyembahan warisan nenek moyang.
Kaum Tsamud juga dikenal sebagai bangsa yang cerdas. Jika kaum ‘Ad mampu membangun gedung-gedung tinggi, lain halnya dengan bangsa Tsamud. Mereka mampu mengubah tebing-tebing dan batu-batu besar menjadi istana-istana yang megah dan indah. Mereka mampu memahat bebatuan sehingga menjadi tempat tinggal. Lagi-lagi, kehebatan yang dimiliki mereka, membuat mereka ingkar dan zalim kepada Allah SWT.
Kaum ini tinggal di dataran bernama “Al Hijr” terletak antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk jajahan dan dikuasai oleh suku Aad yang telah binasa karena dilanda angin topan yang dikirim oleh Allah sebagai pembalasan atas pembangkangan dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Hud.
Seekor unta betina yang keluar dari celah batu sebagai mukjizat Nabi Saleh as pun tidak cukup untuk meyakinkan mereka untuk beriman kepada Allah. Kaum Tsamud justru membunuh unta betina tersebut.
Nabi Saleh memberitahu kaumnya bahwa azab Allah yang akan menimpa di atas mereka akan didahului dengan tanda-tanda, yaitu pada hari pertama bila mereka terbangun dari tidur, wajah mereka menjadi kuning dan akan berubah menjadi merah pada hari kedua dan hitam pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah azab Allah yang pedih.
Mendengar ancaman azab yang diberitahukan oleh Nabi Saleh, kaumnya malah merencanakan pembunuhan sebelum azab itu turun. Mereka mengadakan pertemuan rahasia dan bersumpah bersama akan melaksanakan rencana pembunuhan itu di waktu malam, di saat orang masih tidur nyenyak. Rancangan mereka ini dirahasiakan sehingga tidak diketahui dan didengar oleh siapapun.
Ketika mereka datang ke tempat Nabi Saleh di malam yang gelap-gelita dan sunyi-senyap jatuhlah di atas kepala mereka batu-batu besar yang datang dari langit dan yang seketika mereka bergelimpangan di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Demikianlah Allah telah melindungi rasul-Nya dari perbuatan jahat orang-orang yang ingkar.
Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu, dengan izin Allah berangkatlah Nabi Saleh bersama para pengikutnya menuju Ramalah, sebuah tempat di Palestina, meninggalkan Hijr. Kaum Tsamud habis binasa ditimpa halilintar yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.
Hal ini dikisahkan dalam Alquran di sejumlah ayat.
“Dan sesungguhnya penduduk-penduduk kota Al Hijr telah mendustakan rasul-rasul.” (QS Al Hijr: 80)
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata. “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS Al A’raf:73)
“Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS Al A’raf:74)
“Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Saleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Saleh diutus untuk menyampaikannya”. (QS Al A’raf:75)
“Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu”. (QS Al A’raf:76)
“Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Saleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. (QS Al A’raf:77)
“Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayit-mayit yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.” (QS Al A’raf:78)
“Maka Saleh meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat”. (QS Al A’raf:79).

4.Kaum Nabi Luth as

Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Kendati sudah diberi peringatan, mereka tak mau bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri.
“Kaum Luth telah mendustakan rasul-nya, ketika saudara mereka Luth, berkata kepadamereka “ Mengapa kamu tiidak bertakwa?”. Sesungguhnya aku adalah seorang rasulkepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas. Mereka menjawab “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang yang diusir”. Luth berkata “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu.“ (QS Asy-Syu’ara 160-168).
“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu belerang yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda(kebesaran Kami) bagi orang-orang yang meperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak dijalan yang masih tetap (dilalui manusia).” (QS Al Hijr 73-76)

5.Kaum Nabi Syuaib as

Nabi Syuaib diutuskan kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh Allah karena mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan. Bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi. Allah pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendati mereka berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas. Akhirnya, mereka binasa.
“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka.” (QS Attaubah: 70)
“(yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir’aun): “Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?” Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia,lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa.” (QS Thaaha: 40)
“dan penduduk Madyan, dan telah mendustakan Musa, lalu Aku tangguhkan (azab-Ku) untuk orang-orang kafir, kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencian-Ku (kepada mereka itu).” (QS Alhajj: 44)
Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah. Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pepohonannya sangat rimbun. Kaum ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula dengan penyembah hutan lebat (Aikah)
“Dan sesungguhnya adalah penduduk Aikah itu benar-benar kaum yang zalim.” (QS AlHijr: 78). Penduduk Aikah ini ialah kaum Syu’aib. Aikah ialah tempat yang berhutan di daerah Madyan.
“Dan Tsamud, kaum Luth dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu (menentang rasul-rasul).” (QS Shaad: 13)
“Dan penduduk Aikah serta kaum Tubba’ semuanya telah mendustakan rasul-rasul maka sudah semestinyalah mereka mendapat hukuman yang sudah diancamkan.” (QS Qaaf: 14)

6. Firaun

Kaum Bani Israil sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun atas kezaliman yang diperbuatnya. Nabi Musa dan Harun menyeru agar Firaun beriman kepada Allah swt dan bersikap adil terhadap rakyatnya. Namun seruan Nabi Musa as bak angin berlalu. Bahkan Firaun dengan kesombongannya menentang seruan Nabi Musa dan mengaku sebagai tuhan.
Saat hari yang ditentukam tiba, Allah swt memerintahkan agar Nabi Musa dan umatnya keluar dari Mesir dengan menyeberangi laut Merah. Mukjizat yang Allah berikan berupa tongkat yang dapat membelah lautan menjadi jalan bagi Nabi Musa dan umatnya untuk keluar dan hijrah. Nabi Musa dan umatnya keluar dari Mesir pada malam hari untuk menghindari ancaman dari Firaun. Namun kepergian Nabi Musa dan umatnya ternyata diketahui oleh Firaun. Firaun lantas bersama ribuan bala tentaranya mengejar Nabi Musa as.
Nabi Musa dan umatnya menyeberangi lautan melalui jalan yang telah terbentuk. Tatkala Nabi Musa dan umatnya telah tiba di seberang, Firaun dan bala tentaranya baru mencapai pertengahan jalan. Seketika lautan yang terbelah itu langsung menutup kembali. Firaun dan bala tentaranya pun tenggelam di laut Merah.
Allah Maha Besar, jasad dan kereta perang Firaun terjaga dan berhasil dikeluarkan setelah ribuan tahun terkubur di kedalaman lautan. Hingga kini jasad Firaun masih bisa disaksikan di museum mumi di Mesir.
“Dan (ingatlah) tatkala Kami belahkan lautan untuk kamu, maka Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan kaum Fir’aun padahal kamu melihat sendiri.” (Al Baqarah: 50)
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Yunus: 92)
”Dan berkata Firaun kepada orang-orang di sekelilingnya; ” Hai Pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” (QS Al Qashas: 38).





Sumber Tulisan:
https://pungeblangcut.wordpress.com/

Senin, 09 Januari 2017

Totalitas Islam Dalam Semua

Allah memerintahkan kepada kita semua, orang-orang yang beriman, agar memeluk Islam itu secara kaaffah. Totalitas.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ


Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian menuruti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. [QS. Al-Baqarah : 208)

Asbab An-Nuzul

Seandainya kita coba menelaah Kitab Asbab An-Nuzul yang berkenaan dengan ayat tersebut, maka kita akan mengetahui bahwasannya–dalam satu riwayat–ayat tersebut berkenaan dengan sekelompok kaum Yahudi yang menghadap Rasulullah SAW yang hendak menyatakan keimanannya, namun disamping itu mereka pun (orang-orang Yahudi tersebut) meminta pula kepada Nabi SAW agar dibiarkan merayakan hari Sabtu dan mengamalkan Kitab Taurat pada malam hari. Mereka menganggap bahwa hari Sabtu merupakan hari yang harus dimuliakan, dan Kitab Taurat adalah kitab yang diturunkan oleh Allh SWT juga. Oleh karena itu, berkenaan dengan peristiwa tersebut, maka turunlah ayat tersebut di atas, yang merupakan perintah agar tidak mencampur-baurkan agama. Di antara orang-orang Yahudi yang menghadap kepada Nabi itu adalah: Abdullah bin Salam, Tsa’labah, Ibnu Yamin, Asad bin Ka’ab, Usaid bin Ka’ab, Sa’id bin ‘Amr, dan Qais bin Zaid (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ikrimah).

Beragama Islam secara kaffah (totalitas) paling tidak mencakup empat hal:

Pertama, kaaffah dalam pengertian keseluruhan ajaran Islam.

Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah berikan kepada kita untuk mengatur keseluruhan aspek kehidupan. Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah. Salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain kita buang.
Jadilah pemeluk Islam yang berangkat dari iman yang mendalam, dari inti keyakinan, dari penyerahan diri secara total, yang mencakup segala-galanya, lahir dan batin, spiritual dan intelektual, ibadah dan muamalah, akidah dan syariah, tarikat dan hakikat, personal dan sosial, individual dan komunal, keluarga dan negara, ekonomi dan politik, seni dan budaya, rakyat (ma’mum) dan pemimpin (imam), sehingga terciptalah kedamaian lahir-batin dan terjauh dari tipu muslihat setan beserta konco-konconya.
Banyak orang yang ketika shalat menggunakan tata aturan Islam, tapi sayang ketika berjual beli tidak mau diatur Islam. Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata aturan Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta, tapi saat berpolitik tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam sehingga bermain culas, lalu korupsi dan suka berbohong. Banyak yang punya anggapan ini masalah politik, bukan masalah agama. Seakan-akan kalau berpolitik lalu boleh berdusta dan culas. Padahal Islam sesungguhnya sebagaimana mengatur tentang shalat dan puasa juga mengatur tentang dagang dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara berbusana. Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi bahkan saat tidur. Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara bahkan dunia.
Perlu ditegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah adalah agar kita jadikan pedoman hidup. Kita amalkan semua ajarannya. Bukan sekedar kita baca untuk mencari pahala, sementara tata aturannya kita tinggalkan. Kita ambil mana yang kita suka dan kita buang mana yang kita tak suka.
Sungguh, Allah mengecam berat terhadap orang-orang yang beragama secara parsial.

Yang kedua, kaaffah (totalitas) dalam pengertian tempat.


Artinya, kita harus mengamalkan ajaran Islam di mana pun kita berada. Karena Islam diturunkan oleh Allah untuk semua manusia di seluruh kolong jagat ini.
Ada yang punya pandangan bahwa Indonesia bukan Arab, maka tak bisa diatur dengan Islam. “Beda dengan Arab,” kata mereka. Ini adalah pandangan yang sangat keliru. Bumi Arab adalah Allah penciptanya, dan bumi Indonesia adalah sama, Allah penciptanya. Dan, memang bumi ini secara keseluruhan di mana saja adalah Allah Penciptanya. Maka siapa saja yang tak mau diatur oleh Islam yang diturunkan oleh Allah hendaknya tidak berada di bumi yang diciptakan oleh Allah. Di mana bumi dipijak, di sana langit harus dijunjung. Di bumi mana pun kita berada, hendaknya hukum langit kita patuhi.
Ada juga di antara kita yang saat berada di kota Madinah atau Makkah tunduk dan patuh kepada aturan Islam, rajin ke masjid, berdoa dan menangis beristighfar dan bertaubat, tapi sayang tidak lagi seperti itu bila sudah pulang ke kampung halaman. Ini berarti tidak kaaffah secara tempat. Apakah kita mengira Allah itu ada hanya di Makkah dan Madinah, dan tidak ada Allah bila sudah di Sumatera, di Jakarta, atau di Jayapura?!
Perlu kita sadari, sebagai orang beriman, bahwa Allah melihat kita di mana saja kita berada. Di Arab dilihat Allah, maka di Amerika, Eropa, Mesir, Cina, Indonesia dan dimana saja juga sama dilihat Allah. Tidak ada tempat di muka bumi ini, sejengkal pun, yang manusia boleh seenaknya berbuat dosa.

Yang ketiga, kaaffah (totalitas) dalam pengertian keseluruhan waktu.


Artinya, kita harus berislam, tunduk dan patuh kepada Allah kapan saja. Pagi maupun sore. Siang atau malam. Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at dan Sabtu.
Ada di antara kita ke Masjid kalau hari Jum’at saja. Padahal kita dipanggil oleh Allah lima kali dalam setiap hari. Bahkan ada yang hanya ‘Idul Adha dan ‘Idul Fithri saja. Termasuk banyak di antara kita yang rajin ibadah hanya di bulan Ramadhan saja. Setelah bulan Ramadhan, selesai semuanya.

Yang keempat, kaaffah dalam pengertian keseluruhan keadaan.

Artinya, kita harus berislam, tunduk dan patuh kepada Allah baik dalam kondisi gembira atau susah, lapang atau sempit, sehat atau sakit, suka atau duka.
Ada orang yang ketika sehat rajin shalat, tapi ketika sakit tidak lagi. Atau sebaliknya, ketika sakit rajin shalat dan berdzikir serta berdoa, tapi ketika sehat lupa kepada Allah. Ketika miskin rajin ke Masjid, tapi ketika sudah kaya dan jadi pejabat tak lagi ke masjid.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ


Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. [Al-Hajj : 11]

Nabi bersabda:

تَعَرَّفْ إِلى اللهِ فيِ الرَّخاءِ يَعْرِفْكَ فيِ الشِّدَةِ

Ingatlah kamu saat senang, niscaya Allah mengingatmu saat susah" [HR. Thabrani]

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaaffah (totalitas),”
Kita dipanggil agar ketika kita telah menyatakan diri sebagai orang yang beriman maka kita harus benar-benar menerima dan mengamalkan keseluruhan dari ajaran Islam di mana pun, kapan pun dan dalam kondisi apa pun.



Sumber:
https://www.eramuslim.com/khutbah-jumat/beragama-islam-secara-totalitas.htm
http://www.tafsir-albarru.com/tafsir-alquran/tafsir-al-baqarah/al-baqarah-ayat-208/

Kamis, 29 Desember 2016

Kali Biru, Keindahan Alam di Sekitar Sentani

Sentani itu…. ibu kotanya kabupaten Jayapura
Sentani itu… salah satu gerbang menuju propinsi Papua
Sentani itu… nama sebuah bandara
Sentani itu… salah satu danau besar di Papua

Dibalik itu semua ada banyak pesona keindahan yang dapat saksikan di sekitar Sentani. Tanah Papua memiliki banyak spot-spot cantik baik yang ada di pegunungan maupun di pesisir pantainya. Jangankan mengeksplor seluruh Papua, satu bagian kecil saja keindahannya udah berlimpah. Bagian kecil itu adalah Sentani.

Jarak dari kota Jayapura ke kota Sentani sekitar 30-an km, bisa ditempuh dalam waktu tak lebih dari satu jam. Setelah melewati bandara Sentani akan ada pertigaan, pilihlah jalur kiri ke arah Sarmi. Dari satu kita akan disuguhkan jalanan  yang tak begitu besar namun cukup untuk dua kendaraan saling berpapasan. Kondisi jalannya berkelak-kelok dan variasi tanjakan serta turunan, memang ada beberapa bagian jalan saat itu dalam kondisi rusak sehingga tidak disarankan kalau menggunakan kendaraan jenis sedan. Hal yang membuat mata ini terus terjaga adalah pemandangan alam sepanjang perjalanan yang begitu indah. Di sisi kiri ada hamparan danau Sentani yang begitu luas dengan pulau-pulau kecil di tengahnya, sedangkan disisi kanan pemandangan gunung batu kapur serta pepohonan yang rindang. Rasanya rugi bila keindahan dilewatkan begitu saja tanpa diabadikan.

Setelah melewati pinggiran danau Sentani, kini pemandangan berikutnya baik sisi kiri maupun kanan adalah pepohonan hutan, jalanannya sepi hanya beberapa perkampungan yang ditemui dengan jarak yang relatif jauh dari satu kampung ke kampung lainnya. Pastikan bahan bakar kendaraan sudah penuh terisi pemuh karena tidak terdapat SPBU di jalur ini.

Memasuki daerah Baim ada pertigaan, jalur kiri kea rah Genyem,  Nimbokrang, dan Sarmi sedangkan jalur lurus menuju Kali Biru, Berap, dan Demta. Destinasi kali ini adalah Kali Biru, maka kemudi diarahkan lurus ke arah utara menuju titik tujuan Kali Biru. Setelah berjalan hampir dua jam atau sekitar hampir 60-an km dari kota Sentani akhirnya sampailah di tempat tujuan yaitu Kali Biru.
Sesuai namanya Kali Biru, air yang mengalirnya pun warnanya memang biru dan bersih. Kalaupun ada kotoran itu hanyalah daun-daun yang telah rontok dari pepohonan di sekitar sungai. Ada papan untuk melompat bagi yang hendak mengasah adrenalinnya untuk menjeburkan diri di derasnya aliran kali biru. Anak-anak penduduk asli sekitar tempat itu tampak asyik menyaksikan para pengunjung yang melompat atau sekedar berenang atau berendam dalam dinginnya air kali biru. Tiba-tiba mereka saling dorong dan menceburkan ke dalam kali dan berenang dengan enjoy-nya. Wuih anak sekecil itu udah berani lompat dari ketinggian jebur dan berenang di kali yang lumayan dalam. Saya aja untuk berani melompat butuh waktu berfikir lama dan dorongan maupun dukungan banyak pihak. Hehehe… maklum inget umur.. hehe.

Amazing… keindahan alam Papua yang menakjubkan :


Anak-anak sekitar Kali Biru melihat para pengunjung yang sedang berenang di kali.



Bergembira bersama anak-anak asli Papua
Ayo terjun menembus beningnya air kali



Kali Biru.... oh.... Kali Biru

Rabu, 07 Desember 2016

Potret Kecil Pulau Buru (Namlea)

Bila mendengar Pulau Buru ada dari kita akan membayangkan sebuah tempat yang seram karena mengenalnya sebagai pulau pengasingan alias tempat pembuangan para tahanan politik (tapol) di masa orde baru. Namun saat ini bayangan yang menyeramkan itu sulit ditemui. Pulau Buru merupakan salah satu pulau terbesar di Kepulauan Maluku, menempati urutan ketiga setelah Pulau Halmahera (Maluku Utara), dan Pulau Seram. Meskipun Pulau Buru lebih luas dibandingkan Pulau Ambon yang merupakan ibu kota Propinsi Maluku, namun namanya tak dikenal luas seluas ukurannya. Secara administrasi pulau ini merupakan wilayah Kabupaten Buru dengan ibu kota Namlea yang terletak di Buru Utara Timur.

Perjalanan dari kota Ambon ke pulau Buru hanya dapat ditempuh dengan perjalanan laut. Semula memang pernah ada jalur udara, namun saat ini jalur penerbangan pesawat rintis jenis twin otter itu berhenti beroperasi. Mau tak mau harus gunakan tranportasi laut dengan 2 pilihan, menggunakan kapal ferry atau dengan kapal ekspres. Waktu tempuh dengan kapal cepat dari Ambon ke pelabuhan Namlea sekitar empat jam, sedangkan untuk kapal fery ditempuh dengan waktu sekitar 8-10 jam. Karena alasan tertentu pilihan untuk menuju ke pulau Buru dengan menggunakan kapal ferry.

Jadwal perjalanan kapal ferry pun dari pelabuhan Galala Ambon jam 20.00. Tiba di Pelabuhan Ambon bersiap mengantri bersama ratusan calon penumpang yang lain. Beruntung kami masih mendapatkan tiket kelas eksekutif dengan harapan bisa beristirahat di kapal karena besok harus langsung turun ke lokasi objek yang ditinjau.
Ombak laut selat Manipa yang begitu bersahabat mengayun-ayun lembut hingga membuat lelap tidur sepanjang malan perjalanan. Jam 4 kurang dini hari, awak kapal ferry Wayangan mengumumkan bahwa kapal segera menyandar di pelabuhan Namlea. Tepat waktu bahkan lebih cepat sedikit dari jadwal kapal telah bersandar di pelabuhan. Puluhan kendaraan roda dua dan roda empat, serta ratusan penumpang menunggu antrian keluar dari perut ferry.

Suhu dan cuacanya lumayan panas, siang hari suhunya sekitar 33¤ bahkan bisa mencapai 40¤. Suasana kota Namlea sendiri tentu tidak seramai ibu kota kabupaten di Jawa. Jalanan dalam kota yang begitu lengang, tidak pernah ditemui titik kemacetan. Tak jauh dari pelabuhan Namlea berdiri berbagai gedung-gedung pusat pemerintah daerah.
Masjid Agung Al-Buruj berdiri kokoh di pusat kawasan pemerintahan. Kantor Bupati Buru terletak tak begitu jauh dari masjid agung. Tugu kota Namlea tegak menjulang di tengah bundaran menjadi salah satu ikon kabupaten Buru.

Perjalanan berikutnya menuju arah selatan-timur ke wilayah Mako, Waeapo, dan Lulung Guba yang berjarak sekitar 45 km dari Namlea. Pemandangan kanan kiri jalan dipenuhi bebukitan dengan jalan berkelok-kelok namun datar. Setelah melewati jalanan berbukit memasuki kawasan daerah transmigran dengan hamparan sawah yang menghijau. Saluran irigasi dengan aliran air yang jernih memanjang mengairi sawah para transmigran. Sektor perkebunan sudah mulai dirintis beberapa tahun terakhir diantaranya perkebunan karet.

Bukan hanya sektor pertanian dan perkebunan di kabupaten Buru juga terdapat penambangan emas di gunung Botak. Semula penambangan di gunung Botak ini dilakukan secara liar oleh para penambang perorangan yang datang dari berbagai daerah, namun saat ini penambangan dilakukan oleh suatu badan usaha.

Adapun kalau ke arah utara-timur Namlea menuju wilayah kecamatan Air Buaya, jalannya lurus menyisiri tepi laut. Pohon-pohon kelapa menjulang tinggi meneduhi sebagian jalan raya dari terik matahari. Tak jauh dari Namlea ada wisata pantai yang indah namanya Pantai Jikumarasa. Untuk masuk ke lokasi wisata tak bayar alias gratis. Sayang saat mampir tidak ada pengunjung, maklum hari kerja. Suara deburan ombak yang menghantam pantai pasir putih mampu melepas rasa lelah seharian.

Ada satu hal yang unik di kota ini, sepanjang jalanan setiap kali menemui rumah makan padang selalu bernama 'ayah' atau 'ayah atas'. Sangkaanku apa mungkin mereka merupakan usaha waralaba, atau dalam keisenganku mungkin ibunya di Jakarta sebab di Jakarta kan banyak rumah makan padang 'bundo kanduang', sedangkan "ayah" nya yang merantau ke Namlea (hehe.. canda ini mah). Ternyata bukan begitu asal muasalnya. Kata salah seorang pedagang rumah makan padang dahulu orang yang pertama berjualan nasi padang di Namlea ini bernama 'Ayah' dan mereka adalah satu keturunan, jadi gak ada yang saling meributkan nama 'ayah' yang disematkan di rumah makan mereka. O gitu toh... Salah tebak deh.




Amnesti Pajak Berakhir, Objek Baru Lahir

Hiruk pikuk pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang berlangsung selama periode Juli 2016 sampai dengan Maret 2017 tel...