Senin, 30 Juni 2014

Ramadhan bulan Tilawah Al-Qur'an



الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ(30)


 Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

Keutamaan bagi para pembaca Al-Qur'an

-                  -   Mendapatkan 10 kebaikan setiap huruf yang dibacanya
 
عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pelajarilah Al Quran ini, karena sesungguhnya kalian diganjar dengan membacanya setiap hurufnya 10 kebaikan, aku tidak mengatakan itu untuk الم  , akan tetapi untuk untuk Alif, Laam, Miim, setiap hurufnya sepuluh kebaikan.

-                     -   Semakin banyak bacaannya, akan semakin besar balasannya

عنْ تَمِيمٍ الدَّارِىِّ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ

“Tamim Ad Dary radhiyalahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.

-                         - Keagungannya akan bertambah jika dibaca pada saat sholat

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلاَثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ قُلْنَا نَعَمْ. قَالَ « فَثَلاَثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ

“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah salah seorang dari kalian jika dia kembali ke rumahnya mendapati di dalamnya 3 onta yang hamil, gemuk serta besar?” Kami (para shahabat) menjawab: “Iya”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Salah seorang dari kalian membaca tiga ayat di dalam shalat lebih baik baginya daripada mendapatkan tiga onta yang hamil, gemuk dan besar.” (HR. Muslim).

-                       - Bagiakan buah utrujjah

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ (البخاري)

Perumpamaan orang mukmin yang membaca Alquran adalah seperti buah utrujjah; aromanya wangi dan rasanya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Alquran adalah seperti buah kurma; tidak ada wanginya, tetapi rasanya manis. Orang munafik yang membaca Alquran adalah seperti tumbuhan raihaanah (kemangi); aromanya wangi tetapi rasanya pahit, sedangkan orang munafik yang tidak membaca Alquran adalah seperti tumbuhan hanzhalah; tidak ada wanginya dan rasanya pahit.” (HR. Bukhari-Muslim)

-                        -  Kualitas bacaanya akan menentukan kemuliaaan pembacanya

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).

-                         -   Mendatangkan syafaat bagi pembacanya

عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

“Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya” (HR. Muslim).

Lamanya untuk mengkahatamkan bacaan Al-Qur’an

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ شَيْبَانَ عَنْ يَحْيَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَوْلَى بَنِي زُهْرَةَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ وَأَحْسِبُنِي قَالَ سَمِعْتُ أَنَا مِنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِي شَهْرٍ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً حَتَّى قَالَ فَاقْرَأْهُ فِي سَبْعٍ وَلَا تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ

Telah menceritakan kepadaku Ishaq Telah mengabarkan kepada kami Ubaidulloh bin Musa dari Syaiban dari Yahya dari Muhamamd bin Abdurrahman Maula Bani Zuhrah, dari Abu Salamah ia berkata; -dan aku menduga ia berkata- Aku mendengar dari Abu Salamah dari Abdulloh bin Amru berkata; Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al Qur`an itu dalam satu bulan.” Aku berkata, “Sesungguhnya aku lebih mampu dari itu.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, bacalah (khatamkanlah) ia dalam tujuh hari, dan janganlah melewati batas itu.”

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ الْبَاهِلِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ حَكِيمِ بْنِ صَفْوَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ جَمَعْتُ الْقُرْآنَ فَقَرَأْتُهُ كُلَّهُ فِي لَيْلَةٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي أَخْشَى أَنْ يَطُولَ عَلَيْكَ الزَّمَانُ وَأَنْ تَمَلَّ فَاقْرَأْهُ فِي شَهْرٍ فَقُلْتُ دَعْنِي أَسْتَمْتِعْ مِنْ قُوَّتِي وَشَبَابِي قَالَ فَاقْرَأْهُ فِي عَشْرَةٍ قُلْتُ دَعْنِي أَسْتَمْتِعْ مِنْ قُوَّتِي وَشَبَابِي قَالَ فَاقْرَأْهُ فِي سَبْعٍ قُلْتُ دَعْنِي أَسْتَمْتِعْ مِنْ قُوَّتِي وَشَبَابِي فَأَبَى

Aku khawatir terlalu lama hingga engkau menjadi bosan, bacalah dalam satu bulan. Aku menjawab, Biarkanlah aku enjoi dgn kemampuan & masa mudaku. Beliau bersabda: Bacalah dalam sepuluh hari, aku menjawab, Biarkanlah aku enjoi dgn kemampuan & masa mudaku. Beliau bersabda: Bacalah dalam tujuh hari, aku menjawab, Biarkanlah aku enjoi dgn kemampuan & masa mudaku, namun beliau tak setuju.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَمْ يَفْقَهْ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ

Tidak akan dapat memahami orang yg membaca Al Qur`an kurang dari tiga hari.


Sardana

Selasa, 17 Juni 2014

Atas pembetulan SPT, dikenakan Surat Tagihan Pajak (STP) berupa bunga lebih dari 24 bulan, apa yang harus dilakukan?


Hak Wajib Pajak untuk melakukan pembetulan SPT

Adakalanya sebagai Wajib Pajak saat menyampaikan SPT baik SPT Tahunan PPh maupun SPT Masa PPh atau PPN terdapat kekeliruan, sehingga perlu melakukan pembetulan SPT.

Apabila terdapat kekeliruan dalam pengisian SPT yang dibuat oleh Wajib Pajak, Wajib Pajak masih berhak untuk melakukan pembetulan atas kemauan sendiri dengan menyampaikan pernyataan tertulis, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum mulai melakukan tindakan pemeriksaan.

Namun hal lain yang harus diperhatikan dalam melakukan pembetulan SPT, adalah apabila pembetulan SPT menyatakan rugi atau lebih bayar, pembetulan SPT harus disampaikan paling lama 2 (dua) tahun sebelum daluwarsa penetapan.


Sanksi sehubungan adanya pembetulan SPT

Dengan adanya pembetulan SPT baik SPT Tahunan PPh maupun SPT Masa atas kemauan sendiri membawa akibat penghitungan jumlah pajak yang terutang dan jumlah penghitungan pembayaran pajak menjadi berubah dari jumlah semula. Atas kekurangan pembayaran pajak sebagai akibat pembetulan SPT tersebut dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan. 

Perhitungan sanksi administrasi berupa bunga tersebut sebagai berikut:
a)  untuk SPT Tahunan PPh, bunga yang terutang atas kekurangan pembayaran pajak tersebut, dihitung mulai dari berakhirnya batas waktu penyampaian SPT Tahunan sampai dengan tanggal pembayaran,
b)   untuk SPT Masa, dihitung sejak jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran.

Misalkan, Pak Surya menyampaiakan pembetuan  SPT Tahunan PPh tahun pajak 2012 dengan jumlah kurang bayar Rp10.000.000,00 pada tanggal 18 Juni 2014, pembayaran kurang bayar Rp10.000.000,00 dilakukan pada tanggal 16 Juni 2014. Dengan demikian Pak Surya akan dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar:

15 bulan X 2% X Rp10.000.000,00 = Rp3.000.000,00

Perhitungan 15 bulan didapat dari berkahirnya batas waktu penyampaian SPT Tahunan PPh orang pribadi tahun pajak 2012 yaitu 31 Maret 2013 sampai dengan tanggal pembayaran yaitu 16 Juni 2014.

Pengenaan sanksi admintrasi berupa bunga akibat dari adanya pembetulan SPT  ditetapkan dalam STP.


Sanksi bunga karena pembetulan SPT melebihi jangka waktu 24 bulan

Apabila memperhatikan ketentuan tata cara perhitungan sanksi administrasi berupa bunga akibat adanya pembetulan SPT, maka pengenaan sanksinya dapat saja melebihi dari nilai kurang  bayar yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang menyampaikan pembetulan SPT.

Misalkan, Pak Surya menyampaikan pembetulan SPT Tahunan tahun pajak 2009 dengan jumlah kurang bayar Rp7.000.000,00 pada tanggal 18 Juni 2014, pembayaran kurang bayar Rp7.000.000,00 dilakukan pada tanggal 16 Juni 2014. Dengan demikian Pak Surya akan dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar:

51 bulan X 2% X Rp7.000.000,00 = Rp7.140.000,00

Padahal jika Wajib Pajak dilakukan pemeriksaan pajak dan terdapat kurang bayar yang dikenakan sanksi  berupa bunga, maka jumlah bunga yang dikenakan untuk paling lama 24 bulan.


Mengajukan Permohonan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi
Lantas bagaimana jika Wajib Pajak menyampaikan pembetulan SPT dan dikenakan sanksi berupa bunga yang melebihi jangka waktu 24 bulan. Jika hal tersebut terjadi, Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi kepada Direktur Jenderal Pajak.

Berdasarkan Pasal 8 Peraturan Meneteri Keuangan Nomor 8/PMK.03/2013 mengatur sebagai berikut:

  1. Dalam hal permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi terkait sanksi administrasi yang tercantum dalam STP berdasarkan Pasal 8 ayat (2) atau Pasal 8 ayat (2a) Undang-Undang KUP dan sanksi tersebut melebihi jangka waktu 24 bulan, berlaku ketentuan sebagai berikut:
a.   Pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi hanya dapat diberikan apabila sanksi administrasi tersebut belum dibayar atau belum dilunasi oleh Wajib Pajak; dan
b.    Pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi hanya dapat diberikan apabila jumlah pajak yang kurang dibayar dalam pembetulan SPT yang menjadi dasar penerbitan STP telah dilunasi oleh Wajib Pajak
2. Terhadap permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi yang memenuhi ketentuan sebagaimana  dimaksud pada ayat (1) diberikan pengurangan sanksi administrasi sehingga besarnya sanksi administrasi sebesar 2% per bulan menjadi 24 bulan.

Semoga bermanfaat.

Sardana

Senin, 16 Juni 2014

Ramadhan, bulan untuk tingkatkan keikhlasan


Rasulullah bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ


"Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya."

Puasa mendidik pelakunya pada keikhlasan. Sebab puasa adalah ibadah rahasia, yang tahu hanyalah dirinya dan Tuhannya. Karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa puasa itu tidak dirasuki oleh riya’ pada saat menjalankannya, dan hanya dimasuki riya’ dari aspek memberitahukannya. Bandingkan dengan ibadah lainnya sangat rentan dari termasukinya unsur riya’ , seperti sholat, zakat, haji.

Keikhlasan dalam ketaatan merupakan kinci strategis bagi setiap hamba yang melaksanakan ibadah dan berbagai amalan. Inilah nilai strategis ikhlas bagi kita:

  • Hakikat hidup adalah beribadah dan ibadah tergantung pada niatnya  
Dalam ajaran Islam, hakikat hidup yang sesungguhnya ialah melaksanakan instrukri robbani (ibadah). Dan dalam melaksanakan ibadah ini semata-sama harus dilakukan dengan penuh keikhlasan, menggapai keridhoan Alloh.  Tiada artinya seluruh aktivitas ibadah yang dilakukan tanpa diiringi dengan keikhlasan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
  • Ibadah tidak akan diterima tanpa adanya pemahaman yang benar dan ikhlas
Dikisahkan oleh Imam Tirmidzi dalam kitab Sunan-nya bahwa Syufayya Al-Ashbahi suatu ketika memasuki kota Madinah, ternyata ada seseorang yang dikerumuni orang-orang. Syufaiya bertanya: “Siapa dia?” Mereka menjawab: “Abu Hurairah.” Aku mendekatinya lalu  aku duduk di hadapannya sementara ia tengah asyik menyampaikan wejangan dan nasihatnya.  Saat diam dan selesai, aku berkata padanya: “Aku bersumpah atas nama Al-Haqq, sampaikanlah  suatu hadits padaku yang kau dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang kau pahami dan yang kau ketahui.”
Abu Hurairah pun menjawab: “Baik, aku akan menyampaikan kepadamu suatu hadits yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepadaku yang aku pahami dan aku ketahui.” Abu Hurairah menangis terisak-isak sampai pingsan, setelah terdiam sejenak, kemudian beliau sadar dan bertutur: “Aku akan menyampaikan kepadamu suatu hadits yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepadaku di rumah ini, tidak ada orang lain bersama kami.” 
Setelah itu Abu Hurairah menangis terisak-isak sampai pingsan lagi, kemudian beliau sadar dan mengusap wajahnya lalu berkata, “aku akan menyampaikan kepadamu suatu hadits yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepadaku di rumah ini, tidak ada orang lain bersama kami.”
Kemudian beliau sadar dan mengusap wajahnya lalu berkata, aku akan menyampaikan kepadamu suatu hadits yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepadaku di rumah ini, tidak ada orang lain bersama kami.”
Setelah itu Abu Hurairah menangis terisak-isak sangat keras sampai jatuh tersungkur pingsan lagi di atas wajahnya lalu aku menyandarkannya di badanku selang berapa lama. Setelah sadar beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceritakan kepadaku, bahwa Allah Tabaaraka wa Ta’ala pada hari kiamat akan turun kepada para hamba untuk memutuskan di antara mereka dan masing-masing umat berlutut.
Orang pertama yang dipanggil adalah orang hafal Al-Qur`an, orang yang berperang di jalan Allah dan orang yang banyak hartanya. Allah berfirman kepada penghafal Al-Qur`an: “Bukankah Aku telah mengajarimu sesuatu yang Aku turunkan pada rasul-Ku?” Ia menjawab: “Benar, wahai Rabb.” Allah bertanya: “Apa yang kau amalkan dari ilmu yang diajarkan padamu?” Ia menjawab: Dengannya, dulu aku shalat di malam dan siang hari.” Allah berfirman padanya: “Kau dusta.” Para malaikat pun berkata padanya: “Kau dusta.” Allah berfirman, “Tapi kau ingin memperoleh pujian bahwa si fulan ahli membaca Al-Qur`an dan memang telah kau peroleh ujian itu.”
Setelah itu pemilik harta didatangkan, lalu Allah bertanya kepadanya: “Bukankah Aku dulu melapangkan rizkimu hingga Aku tidak membiarkanmu memerlukan kepada siapa pun?” Orang itu menjawab: “Benar, wahai Rabb.” Allah bertanya: “Lalu apa yang kau lakukan dengan apa yang Aku berikan padamu?” Ia menjawab: “Aku menyambung silaturrahim dan bersedekah.” Allah berfirman padanya: “Kau dusta.” Para malaikatpun berkata padanya: “Kau dusta.” Allah berfirman, “Tapi kau ingin peroleh gelar bahwa si fulan dermawan dan memang telah kau peroleh gelar itu.”
Kemudian orang yang terbunuh di jalan Allah didatangkan, Allah bertanya kepadanya: “Karena apa kau terbunuh?” Ia menjawab: “Aku diperintahkan berjihad di jalan-Mu lalu aku berperang hingga aku terbunuh.” Allah berfirman padanya: “Kau dusta.” Para malaikatpun berkata padanya: “Kau dusta.” Allah berfirman, “Tapi kau ingin dijuluki si fulan pemberani dan memang telah kau peroleh gelar itu.” Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memukul lututku dan bersabda, “Hai Abu Hurairah, ketiga orang itulah makhluk Allah pertama-tama yang neraka dinyalakan karena mereka pada hari kiamat.”
  • Hidup adalah pertarungan hak dan batil, Allah akan memenangkan mereka yang ikhlas
Sejarah mencatat bahwa salah satu faktor yang menyebabkan kekalahan umat islam dalam berperang adalah ikhlas. Saat perang uhud, sebagian pasukan islam memburu ghonimah (rampasan perang) dan mereka lupa kepada Allah. Sehingga pasukan umat islam saat itu mengalami kekalahan.  Begitupula saat perang  Hunain, jumlah pasukan islam lebih banyak jumlahnya dibanding pasukan musuh. Segelintir orang tidak memiliki rasa ikhlas, mereka merasa di atas angin karena jumlah pasukan yang banyak. Namun yang terjadi justru pasukan islam mendapat kekalahan. Baru setelah bertaubat kepada Alloh, pasukan islam mendapat kemenangan berkat bantuan tentara malaikat yang diturunkan langsung oleh Allah Swt.
Ada hikayat yang semoga bisa menjadi belajaran berharga tentang pentinganya ikhlas dalam memenangi pertarungan al-haq dan al-bathil. Kisah tentang ketekunan ibadah seorang pemuda pada masa Bani Israel. Suatu saat ketekunan ini terusik oleh realitas prilaku suatu masyarakat yang menyembah-nyembah pohon besar. Ia tidak mungkin membiarkan hal ini, sebab menegakkan dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar termasuk kewajiban agama dan bagian dari ibadah. Usut punya usut dalam pikirannya, sang pemuda menemukan pangkal penyebabnya; yakni pohon besar itu. Semangat dan ghirah keagamaannya benar-benar telah menyatu dengan tekad untuk menebang pohon tersebut.
Suatu hari berangkatlah pemuda itu dengan menentang kapak besar di tangan, tujuan cuma satu, tumbangkan pohon karena jadi sumber kesesatan. Di tengah jalan, ia dihadang oleh Iblis yang menjelma manusia. Sekedar basa-basi sebentar, lantas Iblis laknat menanyakan tujuan pemuda tersebut. Dengan kekuatan aspirasi keikhlasan, pemuda itu menjawab, menumbangkan pohon. Tetapi sang Iblis tetap menghalang-halangi. Maka terjadilah duel, antara pemuda yang sholeh itu dan manusia jelmaan Iblis. Tidak disangka sang Iblis untuk kesekian kali terpukul mundur, sampai terjungkal-jungkal karena bantingan pemuda ikhlas tadi. Duel memang benar-benar tidak seimbang. Sang Iblis merasakan ada kekuatan ekstra luar biasa yang menyelimuti diri pemuda. Sebelum terlalu dipecundangi oleh pemuda ini, Iblis sadar, bahwa untuk mengalahkan pemuda ini, maka sumber kekuatan yang luar biasa itu harus diputus.”Okey, okey, saya menyerah. Aku kapok.” Iblis mulai memasang taktik. Pemuda sholeh dan lugu ini menghentikan serangannya. Iblis dengan lagak benar-benar telah damai mendekati pemuda.“Persoalan masyarakat terlalu rumit. Walaupun pohon itu anda tumbangkan, toh masih ada banyak pohon. Saya melihat anda tidak pernah memikirkan diri sendiri. Tampaknya anda ini orang yang miskin butuh uang.” “Memang aku miskin, memangnya kenapa?” Pemuda ini mulai terpancing oleh logika yang dipasang oleh Iblis”. “Saya kasihan dengan keadaanmu ini. Masalah menebang pohon masih banyak waktu, silahkan ditebang. Tetapi kalau hari ini anda membatalkan penebangan dan kembali ke rumah, saya berjanji, setiap habis tidur, di bawah bantal anda akan ada uang yang cukup untuk belanja hidup anda setiap hari,” mendengar penuturan Iblis yang menyamar manusia ini, sang pemuda menjadi tertarik. Ia mulai berpikir bahwa penundaan penebangan cukup masuk akal; toh masih ada waktu. Itu pertama. Yang kedua, apa salahnya membuktikan ucapan orang ini. Yang pertama berdasarkan pertimbangan rasional, dan yang kedua dilandasi oleh tamanni (membayangkan sesuatu yang belum tentu hasilnya). “Baiklah, tawaranmu aku terima.” Jawab sang pemuda. Sang Iblis menarik nafas lega dengan sedikit menarik urat keningnya sambil berkata dalam hati: “Kena, kau pemuda!” Barang kali begitu reaksi Iblis.
Racun Iblis dipastikan telah memenuhi pikiran dan hati. Yang dinanti-nanti cuma satu; kapan datang malam dan bangun tidur. Benar, saat pemuda itu bangun tidur, langsung ia membalik bantal, uang. Sang pemuda tersenyum. Besuknya, begitu juga, uang. Dan sampai pada hari ketiga, begitu juga, Iblis telah masang uang. Tetapi saat memasuki hari berikutnya. Sang pemuda, kecewa berat. Karena di bawah bantal tidak ada uang. Ia merasa dikhianati. Maka kemarahan hatinya meluap. Tekad telah bulat untuk menumbangkan pohon besar tersebut; sebuah azam yang tertunda. Di tengah jalan, sang Iblis muncul; lebih santai, rilek dan penuh kepercayaan diri.“Mau ke mana, wahai pemuda!”“Kau mengingkari janji. Perjanjian telah putus. Aku akan merobohkan pohon tersebut,” sentak pemuda. Ketika hendak melangkah, sang Iblis menghalangi.“Kalau kau bisa melangkahi tubuhku, silahkan,” Iblis menantang duel. Tak pelak, perkelahian terjadi. Tetapi kondisi sangat bertolak belakang dengan pertarungan awal. Pada pertempuran kali ini, malah sang pemuda yang menjadi bulan-bulanan Iblis, beberapa kali pemuda itu dibanting oleh Iblis. Seluruh kekuatan telah dikerahkan, tetapi sia-sia. Iblis tampak lebih unggul. Akhirnya ia menyerah kalah.“Hari ini engkau begitu kuat, jauh di atas saya. Aku mengaku kalah. Tetapi bagaimana bisa terjadi, padahal tempo hari kau benar-benar tidak berdaya,” pemuda ini mengeluhkan keadaannya.“Wahai pemuda, ketahuilah. Aku ini Iblis., pada pertarungan awal engkau digerakkan oleh semangat keikhlasan karena Allah. Aku tidak akan mampu menjungkalkan hamba yang dipenuhi oleh kemurnian ibadah semata-mata karena Allah. Tetapi semangat merobohkan pohon kali ini, engkau digerakkan oleh semangat kekecewaan karena tidak mendapatkan uang di bantal. Ibadahmu telah kau kotori dengan aspirasi duniawiyah. Dan itulah yang membuat agamamu melenceng dan bagai debu-debu yang berterbangan.” Begitulah Iblis, begitu pula kemampuannya memanej dunia untuk menyesatkan hamba-hamba Allah.
  • Diberikan energi yang besar dan nafas yang panjang dalam menjalankan ibadah 
Dalam realitas keseharian, permasalahan seringkali kali datang menimpa kita. Kekecewaan, ketidakpuasan setiap saat akan terus menghampiri kehidupan setiap insan. Maka dibutuhkan sumber kekuatan besar untuk menghadapi itu semua agar tetap tidak berputus asa. Kesadaran bahwa hidup hakikatnya adalah kehendak dari Allah, maka ikhlas akan memberikan energi besar untuk terus beramal secara berkesinambungan.
Dengan sifat ikhlas, kita akan memiliki nafas panjang dalam beribadah. Karena ibadah yang dilakukan murni karena Alloh semata, bukan manusia, organisasi, jemaah, atau organisasi.
Wallahu 'alam bi showab


Diambil dari berbagai sumber.

Sardana

Amnesti Pajak Berakhir, Objek Baru Lahir

Hiruk pikuk pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang berlangsung selama periode Juli 2016 sampai dengan Maret 2017 tel...