Kamis, 09 Juli 2015

Rahasia Istighfar

Istighfar adalah memohon ampun pada Allah dengan kalimat "Astaghfirullaah al adhiim" dengan ikhlas, menyesal atas kesalahan dan tekad untuk memperbaiki diri. 
Meskipun Nabi Muhammad terbebas dari dosa, ternyata beliau juga beristighfar setiap hari minimal 70 kali!

Bagaimana dengan kita? 

Yuk kita ketahui 7 rahasia di balik istighfar, agar kita termotivasi untuk mengucapkannya setiap hari...

1. Mendatangkan ampunan 

"Maka aku katakan kepada mereka Mohonlah ampun kepada Rabbmu sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun". (QS Nuh: 10-12) 

2. Solusi & pintu rizki 

"Barang siapa beristighfar secara rutin, pasti Allah memberinya jalan keluar dalam mengatasi setiap kesulitan, setiap kesempitan dan memberi rizki yang tiada terhingga kepadanya". (HR. Abu Daud)

”Sesungguhnya seorang hamba bisa tertahan rizkinya karena dosa yang dilakukannya.”(HR.Ahmad, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah).

3. Menambah kekuatan 

"Dan (Hud berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu lalu taubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu…"(QS Hud: 52) 

4. Memperoleh kenikmatan

"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan”(QS Hud:3) 

5. Turunnya rahmat 

"Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat" (QS An-Naml:46) 

6. Sebagai kafaratul majlis 

"Barangsiapa yang duduk dalam satu majlis (perkumpulan orang) lalu di dalamnya banyak perkataan sia-sianya, kemudian sebelum ia bangkit dari majlis membaca (istighfar): "subhaana kallaahumma wabi hamdika asyhadu allaa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik" maka ia akan diampuni kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya selama di majlis itu" (HR Turmudzi) 

7. Terhindar dari adzab 

"Dan tidaklah Allah akan mengadzab mereka sedang mereka meminta ampun" (QS Al Anfal:33) 

Itulah 7 dahsyatnya istighfar. Mari kita sebarkan ilmu ini. 

Semoga bagi yang membaca dan menyebarkan diberi kemudahan Allah untuk senantiasa beristighfar setiap saat. Aamiin ya robbal aalamiin.  والله أعلم بالصواب


Sardana


Dari berbagai sumber

Selasa, 07 Juli 2015

Orang Yang Dirindukan Surga

Berdasarkan hadist di bawah ini:
قال رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم: ألجنّة مشتاقة لأربعة نفر : تالي القرآن وحافظ اللّسان ويطعم الجيعان وصوم رمضان

"Syurga itu rindu kepada empat golongan, yaitu orang yang membaca Al-Qur'an, orang yang menjaga lisan, orang yang memberi makanan kepada yang kelaparan, dan orang yang puasa di bulam Ramadhan".

Pertama, تاَلِى الْقُرْآنِ  orang yang senantiasa membaca al-Quran. Al Quran sebagai wahyu dari Allah SWT yang diturunkan kepada baginda nabi Muhammad Saw yang menjadi pedoman bagi setiap umat manusia. Jika satu buku memiliki suatu nilai manfaat dari setiap isinya, maka al Quran jauh lebih banyak memiliki manfaat dan menjadi tuntunan hidup atau pegangan manusia. Apakah kita menyadari di antara deretan huruf yang jumlahnya , lebih kurang 6666, 30 juz dan 114 surat, yang  jika di bacakan hati menjadi tenang, bisa dengan mudah di hafal oleh semua kalangan bahkan anak-anak sekalipun, mempunyai nilai sastra yang sangat indah, mengandung peristiwa masa lalu, begitupun masa depan, tuntunan ibadah berupa syariat yang di tetapkan oleh Allah SWT, bahkan banyak rahasia science terungkap karenanya. Jika bukan campur tangan Allah SWT yang menyampaikan kalimat dan maknanya niscaya ia akan usang di telan waktu. Tapi bahkan sampai saat ini al Quran kitab yang sudah belasan abad ini masih tetap utuh, tidak ada perubahan akan isinya. Karena ia memang di jaga oleh Allah SWT melalaui lidah nya para huffaz (penghafal al Quran).
Dr. Al Qadhi, melalui penelitian nya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat al-Qur’an, seorang muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. Memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitian nya. Penelitian ini berikutnya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji coba nya ia berkesimpulan, bacaan Al-Qur’an berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.
Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Qur’an terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkan nya. Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitian nya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberitahu bahwa yang akan diperdengarkan nya adalah Al-Qur’an. Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’anKesimpulan nya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Alquran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an.
Secara keduniawian bahwa tidak ada sesungguhnya hal yang membuat seseorang sulit untuk membaca al Quran, bahkan efek dari al Quran itu sendiri yang mampu memberikan nilai positif baik dalam hal kesehatan fisik, ketenangan jiwa, kemampuan berpikir, dan penemuan penelitian yang tiada akhirnya dari kitab bernama al Quran ini. Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Tidak berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah Taala, sedang mereka membaca kitab-Nya dan mengkaji nya, melainkan mereka akan dilimpahi ketenangan, dicurahkan rahmat, di kelilingi para malaikat, dan di puji oleh Allah di hadapan para makhluk dan di sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud) 
Orang yang rajin membaca Al-Qur’an, terutama di bulan suci Ramadhan, pahala yang diberikan Allah SWT., bagi yang membaca Al-Qur’an ini dihitung 1 huruf saja pahalanya 700 kali. ” Tiada hari tanpa membaca Al-Qur’an. Dan sebaik-baiknya bacaan itu adalah Al-Qur’an”. Maka dari itu, perbanyaklah membaca Al-Qur’an, apalagi dibulan yang penuh keberkahan ini, semua pahala akan dilipat gandakan. 

Kedua, وَحَافِظُ اللِّسَانِ penjaga lidah. Memang lidah tak bertulang tapi ia lebih tajam dari sebilah pedang, dampaknya bisa mengakibatkan peperangan yang semula damai menjadi konflik. Efek negatifnya akan membuat orang menjadi sengsara, akan melenyapkan pahala kebaikan yang kita buat seperti api memakan kayu bakar, akan membuat puasa jadi hampa dan sia-sia. Namun bila kita menjaga nya, begitu banyak kenikmatan akan kita raih, dengan lisan kita berdakwah, dengan lisan kita bertilawah, dengan lisan kita berdo'a. Lisan yang baik adalah ketika ia berkata-kata yakni dengan kata yang penuh dengan ‘ibrah, santun dan penuh dengan ajakan kebaikan serta jauh dari ghibah, fitnah, menggunjing dan berbohong. Maka benar kata-kata bijak dari ulama bahwa :
 ألسّلامة الإنسان في حفظ اللّسان
Artinya: “Keselamatan manusia terletak pada penjagaan lisan nya”.
عَنْ أَبِي هُرَيْـرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، اَنَّ رَسُـوْلَ اللهِ صَليَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :
( مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ ،
  وَمَنْ كَــانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ ،
 وَمنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ  وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ ). رواه البخاري

Artinya:Dari Abi Hurairah Ra Sesunguhnya Rasulullah Saw. Bersada Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari yang akhir maka hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam, barangsiapa yang beriman dengan, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari yang akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya.(HR. Bukhari)

Lisan yang baik senantiasa tahu bagaimana harus berbicara baik, terhadap lawan bicara nya,  tidak pernah membuat orang merasa tersakiti dengan bahasa kita, terkadang orang menyampaikan bahwa bicaranya memang keras, tapi perlu kita garis bawahi bahwa keras ataupun kuat belum tentu menyakitkan, dan suara yang hanya sekedar keras mungkin bisa saja karena bawaan lingkungan geografis, namun jika suara sudah menyinggung perasaan, mencela, dan menghinakan orang lain, maka itu tragedi bagi kehidupan manusia, tragedi tersebut adalah di dunia tidak akan selamat, senantiasa di jauhkan orang lain, tidak di berikan kesempatan, apalagi di akhirat yaitu balasan karena prilaku manusia itu sendiri. Bahkan dalam tataran sebuah birokrasi pemerintahan di butuhkan juru bicara yang menyampaikan pesan dengan santun. Orang yang berbicara santun, mampu mendamaikan, berdiplomasi untuk sebuah kemakmuran akan lebih di cintai dari pada mulut yang menimbulkan fitnah dan perkataan kotor, semakin orang sering berkata kotor semakin menumpulkan hati, dan membuat manusia jauh dari kebaikan.

Ketiga, وَمُطْعِمُ الْجِعَانِ  pemberi makan orang yang kelaparan (dermawan). Sungguh, Allah yang Maha rahman, rahim, maha pemberi , dan hakim yang paling adil itu akan membalas sekecil apapun kebaikan kita kepada orang lain. Bila kita memberi minum kepada saudara kita yang kehausan maka Allah akan memberi kita minum pada hari kiamat nanti di saat orang-orang sedang dilanda dahaga, Bila kita memberi makan kepada saudara kita yang sedang kelaparan, niscaya Allah akan memberi kita makan di saat orang-orang kelaparan pada hari akhir nanti, Bila kita memberi pakaian kepada saudara kita di dunia ini, niscaya Allah akan memberi kita pakaian yang indah di saat orang-orang telanjang pada hari perhitungan nanti, bila kita memudahkan urusan saudara kita yang sedang kesulitan dan dihimpit permasalahan, maka  Allah akan memudahkan urusan kita sejak di dunia ini. Pertolongan Allah akan datang kepada seorang hamba manakala sang hamba menolong saudara nya. Hal ini merupakan akhlak yang sering di contohkan oleh para sahabat-sahabat nabi, yaitu memberi kepada orang yang lapar, orang yang butuh, dan orang yang kesusahan.  Mereka para rasul, para nabi, para Khalifah, dan Imam dalam Islam  memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap semua golongan, karena bagi mereka membantu, memberi, dan bersikaf bijak adalah bagian yang menjadi karakteristik sejati seorang muslim beragama. 
Ibadah puasa mengajarkan manusia untuk mengerti dan memahami apa yang dirasakan saudaranya. Memberikan makan kepada orang yang berbuka puasa juga berpahala sangat besar. Sebagaimana Hadits Rasulullah SAW., “Orang yang memberi makan orang yang berpuasa akan memperoleh pahala seperti orang yang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu.” Memberikan makan bagi orang yang kelaparan, ini satu kesempatan baik bagi kita umat Islam yang diberikan Allah kelebihan rezki, untuk rajin bersedekah terutama memberi makanan berbuka puasa untuk orang-orang yang berpuasa.

Keempat, وَصَائِمُ الرَّمَضَانِ orang-orang yang berpuasa di bulan ramadhan. Di bulan yang mulia yang penuh berkah, rahmat, ampunan , Allah menjanjikan kepada kita akan pembebasan dari panasnya api neraka, Puasa menjadi tolak ukur keberadaan seorang hamba, karena dengan puasa yang benar, Ramadhan yang di manfaatkan, akan banyak kebaikan yang di peroleh di dalamnya, dalam puasa melatih kejujuran, antara manusia dengan manusia lainnya, antara seorang hamba kepada Tuhan-Nya, dan di bulan puasa menjadi tempat yang baik untuk beramal karena setiap amal di lipat gandakan, bahkan malam lailatul qadrada di antaranya. Melatih kepekaan sebagaimana yang dirasakan orang-orang yang kurang mampu agar kita bisa hidup saling berbagi, bagaimana menahan lapar dan haus, serta bagaimana implikasi iman tersebut di luar ramadhan bisa bertahan dan di jalankan, ramadhan adalah tempat melatih semua kepekaan yaitu emosional, kecerdasan, dan spiritual di didik untuk menjadi manusia yang lebih manfaat. Jadi orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan dan memiliki semangat, motivasi, dan perubahan berarti menuju arah yang lebih baik dalam hidupnya maka tentunya Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan dan perjuangan hamba tersebut. 
Sebuah riwayat menceritakan betapa para sahabat nabi merasa sedih dan menangis karena akan ditinggal bulan Ramadhan. Para sahabat tersebut berdoa agar bulan Ramadhan dapat berlangsung sepanjang tahun. Dengan riwayat tersebut dapat disimpulkan betapa besarnya berkah dan anugrah yang ditawarkan Allah melalui bulan Ramadhan.


Sardana

Dari berbagai sumber

Kamis, 02 Juli 2015

Melihat Surga Di Depan Mata

I. Surga

Surga adalah suatu pembalasan yang agung dan pahala tertinggi bagi para hamba Allah yang taat. Surga merupakan suatu kenikmatan sempurna. Tak ada sedikit pun kekurangannya. Tak ada kemuraman di dalamnya. Penggambaran surga yang difirmankan oleh Allah swt. dan disabdakan oleh Nabi saw., memang hampir tak mampu kita gambarkan dengan otak dan imajinasi kita yang terbatas ini. Betapa sulit membayangkan kenikmatan yang demikian besar. Sungguh kemampuan imajinasi kita akan terbentur pada keterbatasannya.

Kita coba untuk memvisualisasikan dalam angan hadits Qudsi yang menceritakan tentang gambaran surga berikut ini, “Kami sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu, yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terlintas oleh hati manusia…”

“Seorang pun tak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. As-sajdah : 17)

Allah swt. menentukan hari masuknya ke surga pada waktu tertentu dan memutuskan jatah hidup di dunia pada batas waktu tertentu serta menyiapkan di dalam surga berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan terlintas dalam hati. Dia memperlihatkan dengan jelas surga kepada mereka agar dapat melihatnya dengan mata hatinya karena penglihatan mata hati lebih tajam daripada pandangan mata kepala.

“Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian meninggal dunia, maka kursinya diperlihatkan kepadanya setiap pagi dan petang. Jika ia penghuni surga, maka ia adalah penghuni surga. Jika ia penghuni neraka, maka ia adalah penghuni neraka. Kemudian dikatakan, Inilah kursimu hingga Allah Ta’ala membangkitkanmu pada hari kiamat nanti.” (HR.Bukhari-Muslim).

Sungguh Nabi Muhammad saw. telah melihat di dekatnya terdapat surga tempat tinggal sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim hadits dari Anas dalam kisah Isra’ dan Mi’raj. Pada akhir hadits tersebut dijelaskan, “Jibril berjalan terus hingga tiba di Sidratul Muntaha dan ternyata Sidratul Muntaha ditutup dengan warna yang tidak aku ketahui.” kata Rasulullah saw. lebih lanjut, “Kemudian aku masuk ke dalam surga dan ternyata di dalamnya terdapat kubah dari mutiara dan tanahnya beraroma kesturi. (HR.Bukhari-Muslim).

“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, berbahagialah kalian! Maka masukilah surga ini, sedang kalian kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zumar /39 :73)

Untuk memeri nama surga itu, Al Quran memberikan banyak gelaran seperti Jannatul Ma’wa (Surga tempat kembali), Jannatu ‘Adn (Surga sebagai tempat tinggal yang kekal), Darul Khulud (Perumahan yang kekal), Firdaus (Paradiso), Darus Salam (Perumahan kesejahteraan), Darul Maqamah (Perumahan ketenangan), Jannatun Na’im (Taman-taman kenikmatan), Maqam Amin (Kedudukan sentausa) dan lain-lain lagi.

II. Penghuni-penghuni surga

Surga itu tidak akan dimasuki melainkan oleh orang yang benar-benar mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mulia serta bersifat dengan berbagai keutamaan dan keluhuran. Allah swt. berfirman dalam surat At-Taubah ayat 111-112 : “Sesungguhnya Allah telah membeli diri dan harta orang-orang yang beriman dengan mengaruniakan surga untuk mereka itu. Mereka berperang untuk membela agama Alah, sebab itu merekapun membunuh dan terbunuh, menuruti janji Allah yang tersebut dalam kitab Taurat, Injil dan Quran. Siapakah yang lebih menepati janjinya dari pada Allah? Oleh sebab itu, maka bergembiralah dengan perjanjian yang telah kamu semua perbuat. Yang sedemikian itu adalah suatu keuntungan yang besar sekali. Orang-orang yang bertaubat kepada Allah, orang-orang yang menyembah-Nya, orang-orang yang memuji-Nya, orang-orang yang berpuasa, orang-orang yang ruku, orang-orang yang sujud, orang-orang yang menyuruh mengerjakan kebajikan, orang-orang yang melarang mengerjakan keburukan dan orang-orang yang menjaga batas-batas hukum Allah, maka sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman itu”. ”Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela, tetapi barangsiapa mencari di balik itu (zina dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, serta orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang yang akan mewarisi (surga) Firdaus, mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al Mu’Minun : 1-11)

III. Kenikmatan-Kenikmatan Surga

A. Sungai yang bermacam-macam

“Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa ialah sebagai suatu taman yang didalamnya ada sungai-sungai yang airnya tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang rasanya tetap tidak berganti-ganti, sungai-sungai dari anggur yang amat sedap rasanya bagi orang-orang yang meminumnya dan sungai-sungai dari madu yang bening jernih. Disana mereka memperoleh segala macam buah-buahan serta pengampunan dari Tuhannya” ( QS. Muhammad : 15)

B. Rezeki berupa buah-buahan

“Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman serta mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik, sesungguhnya mereka itu akan memperoleh taman-taman surga yang mengalirlah beberapa sungai di dalamnya. Setiap mereka mendapatkan pemberian rezeki dari surga dari semacam buah-buahan, mereka lalu berkata: “Ini adalah seperti rezeki yang kita terima sebelum sekarang”. Kepada mereka diberikanlah pemberian-pemberian yang serupa. Didalam surga itupun mereka akan memperoleh jodoh (pasangan) yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. ( QS. Al Baqarah : 25) “Para ahli surga menerima buah-buahan, yang mana saja mereka bebas memilihnya, dan pula daging burung, mana saja yang mereka inginkan”. (QS AlWaqi’ah : 20-21)

C. Pakaian, Dipan dan Perlengkapan Makan dan Minum

“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya (berupa) surga dan (pakaian) sutera. Di sana mereka duduk bersandar di atas dipan, di sana mereka tidak melihat (merasakan teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang berlebihan. Dan naungan (pepohonan)nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah-mudahnya untuk memetik (buah)nya. Dan kepada mereka diedarkan bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana Kristal, Kristal yang jernih terbuat dari perak, mereka tentukan ukurannya yang sesuai (dengan kehendak mereka). Dan di sana mereka diberi segelas minuman bercampur jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air (di suga) yang dinamakan Salsabil”. (QS.Al Insan : 12-18) “Kepada mereka itu diedarkanlah piring-piring dan gelas-gelas dari emas. Didalamnya terdapat semua apa yang diingini oleh hati dan yang sedap dipandang mata. Kamu semua akan kekal di situ selama-lamanya”. (QS. Az Zukhruf: 71)

D. Pelayan-pelayan di surga

“Dan mereka dikelilingi oleh para pemuda-pemuda (pelayan) yang tetap muda. Apabila kamu melihatnya, akan kamu kira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila engkau melihat (keadaan) di sana (surga), niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka berpakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan memakai gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih (dan suci)”. ( QS. Al Insan : 19-21)

E. Bangunan Bertingkat-tingkat

“Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, mereka mendapat kamar-kamar (di surga), di atasnya terdapat pula kamar-kamar yang dibangun (bertingkat-tingkat), yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Itulah) janji Allah tidak akan memungkiri janji(nya). (QS. Az Zumar : 20)

F. Gadis-gadis (bidadari)

“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan”. (QS. Yasin : 55-56) “Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung, lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan, yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya”. (QS. Al Waqi’ah : 35-37) “Dan di sisi mereka ada (bidadari-bidadari) yang bermata indah, dan membatasi pandangannya, seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik”. (QS. As-Saffat : 48-49)

G. Tidak bersifat dengki dan tidak merasa lelah

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berdiam di dalam taman-taman surga dan di tengah-tengahnya ada suatu air yang memancar. Kepada mereka dikatakan : “Masuklah kamu semua kedalamnya dengan aman sentosa”. Kami (Allah) telah membuangkan segala sifat kedengkian yang ada di dalam hati mereka, sehingga mereka itu merupakan saudara-saudara belaka, berhadap-hadapan di atas tempat duduk, Mereka tidak pernah tersentuh oleh rasa lelah dan mereka tidak akan dikeluarkan dari tempat itu”. (QS. Al Hijr : 45-48)

H. Tidak mendengarkan perkataan omong kosong

“Di dalam surga itu mereka tidak mendengarkan perkataan omong kosong dan tidak pula kata-kata yang menyebabkan dosa. Yang terdengar di situ hanyalah ucapan: “Salam (damai), salam (damai)”. (QS. Al Waqi’ah :25-26)

I. Surga memiliki delapan pintu

“Di surga terdapat delapan pintu. Ada pintu yang namanya Ar-Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang puasa.” (HR. Bukhari dan Muslim) “Barang Siapa yang berinfak dengan sepasang unta atau kuda atau lainnya di jalan Allah swt., maka ia dipanggil dari pintu-pintu surga. “Wahai hamba Allah, pintu ini lebih baik. Barang Siapa yang rajin shalat, maka ia dipanggil di pintu shalat. Barang Siapa berjihad, maka ia dipanggil di pintu jihad. Barang Siapa rajin bershadaqah, maka ia masuk dari pintu shadaqah. Dan barang siapa puasa, maka ia dipanggil dari Ar-rayyan.”Abu Bakar berkata,”Wahai Rasulullah, apakah setiap orang dipanggil dari pintu-pintu tersebut? Adakah orang dipanggil dari semua pintu tersebut? Rasulullah saw. menjawab,”Ya, dan aku berharap engkau termasuk dari mereka.”
“Siapa di antara kalian yang berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya lalu membaca Asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahulaa syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan abduhu warasuluhu, maka dibukakan baginya pintu-pintu surga yang berjumlah delapan dan ia masuk dari mana saja yang ia sukai.” (HR. Imam Muslim)
“Jika seorang muslim mempunyai tiga orang anak yang belum baligh kemudian meninggal dunia, maka mereka menjumpainya di pintu-pintu surga yang delapan dan ia bebas masuk dari pintu mana saja yang ia sukai.” (HR. Imam Muslim)

J. Tidak buang kotoran dan tidak meludah

“Mereka berbaris dalam satu regu, wajah mereka memancarkan kepuasan seperti rembulan saat pertama. Tubuh mereka bersih dari kotoran. Tidak meludah, tidak berdahak dan tidak pula buang air. Tempat-tempat singgahnya terbuat dari emas, sisirnya terbuat juga dari emas dan perak. Tempat apinya adalah kayud, keringatnya berupa minyak misyk, setiap lelaki memiliki pasangan istri yang kulitnya cemerlang seolah-olah sumsumnya tampak dari balik daging. Mereka tidak pernah berselisih, tidak saling membenci sebab mereka sehati. Bacaannya tiap kali adalah tasbih, setiap pagi maupun sore.” (HR. Imam Bukhari)

IV. Profil (penampilan) penghuni surga

“Penghuni surga masuk ke dalam surga dengan rambut pendek, belum berjenggot, matanya bercelak dan usianya tiga puluh tiga tahun.” (Imam Tirmidzi)
“Jika penghuni surga meninggal dunia, baik pada saat kecil atau tua, maka mereka dikembalikan dengan usia tiga puluh tahun di surga dan usianya tidak bertambah selama-lamanya. Begitu juga penghuni neraka.” (Imam Tirmidzi)
“Penghuni surga masuk surga dengan ketinggian Adam, enam puluh hasta dengan ukuran orang besar, dengan wajah tampan setampan Nabi Yusuf, Seusia Nabi Isa, tiga puluh tiga tahun, lidahnya fasih sefasih Nabi Muhammad, belum berjenggot dan berambut pendek.” (Ibnu Abu Dunya)

V. Kenikmatan surga yang tertinggi

“Wajah-wajah para ahli surga pada hari itu berseri-seri, karena dapat melihat kepada Tuhannya”. (QS. Al Qiyamah : 22-23)
“Dan penghuni surga yang paling tinggi atau mulia di sisi Allah adalah orang yang melihat wajah Allah setiap pagi dan petang. Kemudian Rasulullah saw. membaca ayat, “Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada saat itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat.” (HR. Tirmidzi)
Demikian uraian singkat tentang “Menatap Surga Di Depan Mata”. Mudah-mudahan kita semua diizinkan oleh Allah Ta’ala menjadi orang-orang yang senantiasa istiqamah di dalam meniti hidup dan kehidupan ini, sehingga ketika ruh ini dicabut oleh-Nya kita menerima anugerah husnul khatimah. Sehingga kita termasuk dan dimasukkan oleh Allah Ta’ala ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang dipanggil dengan penuh kelembutan: “Yaa ayyatuhan-nafsul muthma innah, irji-i ila Rabbiki raadhiatan mardhiyyah, fadkhulii fi ‘ibaadii wadkhulii jannatii.”
Wallaahu a’lam bish shawab

Daftar Pustaka :
1. Sayid Sabiq, Aqidah Islam, Pola Hidup Manusia Beriman, CV Diponegoro, Bandung, 1996
2. http//www. Al-hikmah.ac.id
3. Al Quran Dan Terjemahnya , Departemen Agama RI, CV Pustaka Agung Harapan, 2006

Sardana

Sumber:
http://agusher73.blogspot.com/2012/02/menatap-surga-di-depam-mata.html?m=1

Amnesti Pajak Berakhir, Objek Baru Lahir

Hiruk pikuk pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang berlangsung selama periode Juli 2016 sampai dengan Maret 2017 tel...