Selasa, 30 Juni 2015

Mengenang Kejutan Akhir Masa Kuliah Di Yogyakarta

Tak terasa 12 tahun telah berlalu saya telah meninggalkan kampus Universitas Gajah Mada Yogyakarta seusai menuntaskan jenjang pendidikan S2 di Fakultas Teknik Geodesi.

Begitu banyak kenangan yang sering terngiang baik bersama rekan mahasiswa - dosen di ruang kuliah, sahabat mahasiswa dari prodi lain terutama yang juga aktif di HIMMPAS UGM (Himpunan Mahasiswa Muslim Pasca Sarjana), ataupun dengan lingkungan di sekitar tempat kost.

Satu di antara kenangan yang tak terlupakan adalah saat salah satu dosen pembimbing tesisku, bapak Rochmad Muryamto, menyampaikan bahwa tesis saya dipilih olehnya untuk dimuat di Majalah Ilmiah Teknologi UGM. Bagi saya sih... ini "sesuatu" banget, surprise, mengejutkan banget. Tidak disangka, dari sekian banyak tesis yang dibimbing oleh beliau, satu tesis diantaranya adalah tulisan saya. Sebuah kehormatan yang besar bagi saya atas terpilihnya ini.

Terima kasih banyak buat bapak Ir. Rochmad Muyamto, M.Eng.Sc. juga buat bapak Ir. H. Sumaryo Joyosumaryo, M.Si. (pembimbing utama/ Ketua Jurusan Teknik Geodesi) atas pengajaran di ruang kuliah, di laboratorium, serta bimbingan yang penuh ketelatenan saat saya menyusun tesis tersebut. Semoga Allah Swt membalas segala kebaikannya dengan pahala yang banyak. Amin.

http://jurnal.ugm.ac.id/mft/article/view/1086

Pemanfaatan Sistem Informasi Geografik untuk Penentuan Bank Tempat Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Pelaksana Payment Online System
S Sardana, Rochmad Muryamto

Abstract

The research  aims to  do the  spatial analysis  in selecting  banks for paying  land and  building tax  (TP  banks)  which will be nominated  as  POS  banks (Payment  Online System)  banks  in Bandung  city by applying GIS (Geographic Information Systems)  technology. GIS spafial  analysis was  conducted  using three  coverages; administrative boundaries  of Bandung city, land  use, and distibution  of  TP banks, including  their corresponding attribute data.  verything technique  and  overlay operations  using Arc/Info GIS  software were  conducted to select  the  priority of TP banks based  on some  determined  criteria.

Nineteen TP banks were  nominated  as POS, eight of them were considered  as the major priority where their locations are equally distributed in Bandung city.


Sardana

Senin, 29 Juni 2015

Sepenggal Do’a Untuk Menghilangkan Kemalasan

Adakalanya seseorang dirundung oleh rasa malas yang teramat sangat, dan berupaya bagaimana cara menghilangkan kemalasan tersebut. Sebenarnya kemalasan itu adalah manusiawi, sudah lumrah adanya. Jadi tidak perlu dihilangkan, yang perlu adalah bagaimana kita mengendalikannya. Karena kita memiliki massa, maka kita punya yang namanya kemalasan. Karena sebenarnya massa itu adalah ukuran kelembaman (kemalasan) dari suatu benda. Sekarang yang penting bagi kita adalah bagaimana agar kemalasan itu mempunyai sisi positif. Misalnya kita malas untuk berbuat maksiat, kita malas untuk bermain-main, kita malas untuk membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Nah, bingung? Tapi sudahlah, sementara kita akhiri permainan bahasa yang seperti ini.
Diantara solusi mengatasi rasa malas adalah dengan berdo'a. Ya dengan sepenggal do’a untuk menghilangkan kemalasan dan turunannya. Mengapa mesti do’a? karena Kita mungkin sudah tahu efek yang dihasilkan oleh kemalasan, kita mungkin sudah mendengar aliran kata-kata bagaimana rupa kemalasan itu, kita barangkali juga membaca buku atau tulisan tentang kemalasan beserta kiat-kiatnya untuk menghindari. Oleh karena kita sudah berusaha menggunakan kiat-kiat tersebut untuk mengenyahkan kemalasan, tapi tetap saja kemalasan itu dengan tenang bersemayam di dalam diri kita maka kita perlu berdo’a. Karena setiap ikhtiar harus dibarengi dengan do’a. Tanpa do’a, maka kemalasan itu akan tetap menggumpal dipikiran kita, menghambat perilaku kita sehari-hari. Karena itu setelah segala ikhtiar kita coba, maka kita harus banyak-banyaklah berdo’a; tentunya agar doa kita terkabul, maka harus rajin-rajin beribadah dan harus mengetahui pula syarat-syarat agar doa kita dikabulkan-Nya.
Jadi apapun masalah yang dihadapi kita, sebenarnya tak akan bisa teratasi kecuali hanya dengan pertolongan-Nya. Maka alangkah bijaknya jika kita yang bermasalah dengan kemalasan memohon pertolongan Allah agar dihindarkan dari sifat malas dan kembali semangat dalam kebaikan.
Nah, bagi yang berminat meninggalkan kemalasan, agar kemalasan tidak berlarut, kita coba berbenah diri dengan cara mengukuhkan ketaqwaan kita kepada-Nya, dengan cara menghapal do’a berikut? Do’a yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Abu Ummamah :

اللَّـــهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْحَـمِّ وَالْحَزَنِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْـِز وَاْلكَسَلِ .وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُـبْنِ وَالْبُخْـلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَتِ الدَّيْنِ وَقَـهْرِ الرِّجَالِ
“Ya Allah ya Tuhan kami, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu daripada keluh kesah dan dukacita, aku berlindung kepada-Mu dari lemah kemauan dan malas, aku berlindung kepada-Mu daripada sifat pengecut dan kikir, aku berlindung kepada-Mu daripada tekanan hutang dan kezaliman manusia.” (HR Abu Dawud 4/353)
Dalam hadits tersebut ada 8 penyakit jiwa yang sangat berbahaya, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan dari Allah swt:
  1. Penyakit suka berkeluh kesah atau merasa susah (hamm) yang dapat menimbulkan rasa sedih (hazan); kita memohon agar Allah memberikan petunjuk (al huda).
    Hidup akan terasa indah jika kita mengisinya dengan rasa syukur, bukan denga keluh kesah. Cuma memang sifat manusia sering suka berkeluh kesah. Jika kita dapat menghindarkan sifat ini; maka nikmat Allah akan senantiasa melimpah. Jika ujian hidup disikapi dengan ratapan keluh kesah, bukannya masalah tambah terang, namun biasanya malah bertambah runyam. Sebaliknya hati akan tenang ketika rasa syukur mampu kita hadirkan dalam perjalanan hidup kita. Sehingga hilanglah rasa sedih. Bukankah Allah SWT telah berjanji akan menambah nikmatNya jika kita bersyukur dan memberi peringatan akan siksaNya yang pedih atas sifat kufur nikmat kita.
  2. Penyakit Lemah (’ajz) yang dapat memicu munculnya penyakit malas (kasal); penyakit ini hanya bisa disembuhkan dengan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Orang yang lemah terutama lemah dalam kemauan biasanya akan malas dan tidak kreatif dalam menjalani perjuangan hidup. Ia akan mudah dikendalikan oleh nafsu (yang biasanya menyuruh kepada kejelekan). Orang terkendali nafsu akan muncul penyakit malas yaitu malas untuk berbuat kebaikan.
  3. Penyakit Pengecut (jubn) yang dapat menyebabkan penyakit kikir (bukhl); penyakit yang bisa disembuhkan dengan cara memelihara kehormataan dan kemuliaan diri (‘ataf).
    Syetan menakut-nakuti manusia dengan dibayang-bayangi kefakiran supaya seseorang tidak mau infaq, shodaqoh, zakat. “Syetan menjanjikan kefakiran kepadamu dan menyuruh yang jahat, dan Alloh menjanjikan kepadamu pengampunan dan keutamaan dariNya, Alloh itu maha luas rezekinya dan maha mengetahui.” (Al Quran Surah Al Baqarah : (2) : 268). Padahal dengan jelas Alloh menjanjikan kebahagiaan bagi orang yang tidak bakhil.  “Barangsiapa dijaga dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang berbahagia.” (QS Al Hasyr : 9)
  4. Penyakit Lilitan utang (ghalabatuddayn) yang menyebabkan tekanan manusia (qahrirrijaal); supaya terhindar dari penyakit ini maka kita harus selalu merasa cukup (ghina) terhadap setiap pemberian Alllah Subhanahu Wa Ta’ala.
Orang-orang yang pasif dan malas, sesungguhnya tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sebagian dari harga dirinya, yang lebih jauh mengakibatkan kehidupannya menjadi mundur.
Demikian sepenggal doa untuk bisa menghilangkan atau minimal mengurangi rasa malas kita. Dan, semuanya kembali kepada diri kita sendiri karena rasa malas akan terus mengendalikan kita kalau kitanya sendiri tidak memiliki keinginan yang kuat untuk mengendalikannya.

Sardana

Sumber:
http://rinisetia.tumblr.com/post/36739719396/sepenggal-doa-untuk-menghilangkan-kemalasan

Sabtu, 27 Juni 2015

Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Suatu saat, Chrisye minta Taufiq Ismail untuk menuliskan syair religi untuk satu lagunya. Dan disanggupi sebulan.

Ternyata, minggu pertama macet, tidak ada ide. Minggu kedua macet, ketiga macet hingga menjelang hari terakhir masih juga tidak ada ide. 

Taufiq gelisah dan berniat telpon Chrisye dan bilang: Chris maaf, macet!

Malam harinya, Taufiq mengaji. Ketika sampai ayat 65 surat Yaasiin dia berhenti. 

Makna ayat ini tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa, kata Taufiq. 

Dan segera dia pindahkan pesan ayat tersebut ke dalam lirik-lirik lagu.

Ketika pita rekaman itu sudah di tangan Chrisye, terjadi hal yang tidak biasa. Ketika berlatih di kamar, baru dua baris Chrisye menangis, mencoba lagi, menangis lagi. Dan begitu berkali-kali.

Menurut Chrisye, lirik yang dibuat adalah satu-satunya lirik paling dahsyat sepanjang karirnya. 

Ada kekuatan misterius yang mencekam dan menggetarkan. Setiap menyanyi dua baris, air mata sudah membanjir. Yanti, istri Chrisye, sampai syok melihat hal tidak biasa tersebut.

Lirik lagu tersebut begitu merasuk kalbu dan menghadapkan kenyataan betapa manusia tidak berdaya ketika hari akhir tiba. 

Sepanjang malam dia gelisah, lalu ditelponlah Taufiq dan diceritakan kegelisahannya. 

Taufiq mengatakan bahwa lirik lagu tersebut diilhami surat Yaasiin: 65. Disarankan kepada Chrisye, agar tenang.

Di studio rekaman hal itu terjadi lagi. Chrisye mencoba, tetapi baru dua baris sudah menangis. Dan berulang kali hasilnya sama.

Erwin Gutawa yang menunggu sampai senewen. Yanti lalu shalat untuk khusus mendoakannya. 

Akhirnya dengan susah payah, Chrisye berhasil menyanyikannya hingga selesai. Rekaman itu sekali jadi, tidak diulang karena Chrisye tak sanggup menyanyikannya lagi.

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan" [QS. Yaasiin(36): 65]

KETIKA TANGAN DAN KAKI BERKATA
Lirik: Taufiq Ismail
Lagu: Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu  kita  bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah

Kukuhkanlah
Di jalan cahaya... sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu... yang hina....

Sardana

(Sumber: copas dari grup WA)

Tanda-tanda Orang yang Diterima Taubatnya

Sudah menjadi kelaziman umum bahwasannya manusia adalah tempat salah dan lupa. Hal ini merupakan sebuah proses bagi manusia untuk senantiasa meningkatkan kualitasnya dari hari demi hari. Perkembangan tersebut dapat dipantau dengan tingkat ketenangan batin yang bisa diperoleh dari kelihaian seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan dan persoalan, serta pergaulan.


Sebagai sebuah bentuk kontrol diri, dalam islam dikenal dengan adanya konsep taubat. Taubat merupakan titik awal sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Kesalahan dan kealpaan yang ada, dijadikan sebagai sebuah pengalaman yang tidak boleh terulang. Baik dalam sebuah hubungan antara sesama manusia, hubungan dengan alam, terlebih lagi hubungan dengan Sang Pencipta. Kesemua sisi kehidupan tersebut merupakan fasilitas penempaan diri seorang manusia dalam memperoleh hasil maksimal bagi tingkat kualitas hidupnya.


Para ulama memberikan kesimpulannya, bagaimana seseorang yang bertaubat diterima permohonan taubatnya. Tidak kurang dari enam ciri-ciri yang disebutkan oleh para Ulama tentang orang yang diterima taubatnya. keenam ciri-ciri tersebut antara lain:


1. Seseorang tersebut tidak merasa dirinya terpelihara dari kemaksiatan, sehingga ia senantiasa berhati-hati dan waspada terhadap kemaksiatan dari berbagai jenis dan bentuknya.

2. Hati seseorang tersebut senantiasa melihat jauh ke depan, bahwasannya kebahagiaan hakiki perlu perjuangan, karena itu ia melihat dunia adalah ladang untuk memperoleh kebahagiaan di akhirat.


3. Seseorang tersebut condong untuk belajar tentang kebaikan, dibandingkan terlena dengan sesuatu yang sebenarnya sia-sia, bahkan menyesatkan.


4. Memandang apa yang dianugerahkan kepadanya berupa harta adalah amanat sehingga sebanyak apapun meski dimintai pertanggungjawaban, serta haus akan perbuatan baik yang dilakukan karena Alloh semata.


5. Meliputi segala aktifitas kehidupan dengan diiringi niat karena Alloh, Baik kegiatan ibadah ansikh, maupun aktifitas muamalah/hubungan sosial, perdagangan, bisnis, organisasi dan lain sebagainya.


6. Senantiasa menjaga dirinya agar tidak merugikan diri sendiri, terlebih lagi merugikan orang lain, baik secara lisan maupun perbuatan.

Demikian beberapa ciri-ciri orang yang InsyaAlloh diterima taubatnya oleh Allah SWT. semoga kita termasuk di dalamnya. amin.
(dari berbagai sumber)

Sardana


Sumber:
http://walau-satuayat.blogspot.com/2009/07/tanda-tanda-orang-yang diterima.html?m=1

Jumat, 19 Juni 2015

Delapan Tanda Keikhlasan

Amal yang kita lakukan akan diterima Allah jika memenuhi dua rukun. Pertama, amal itu harus didasari oleh keikhlasan dan niat yang murni: hanya mengharap keridhaan Allah swt. Kedua, amal perbuatan yang kita lakukan itu harus sesuai dengan sunnah Nabi saw.

Syarat pertama menyangkut masalah batin. Niat ikhlas artinya saat melakukan amal perbuatan, batin kita harus benar-benar bersih. Rasulullah saw. bersabda, “Innamal a’maalu bin-niyyaat, sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (Bukhari dan Muslim). Berdasarkan hadits itu, maka diterima atau tidaknya suatu amal perbuatan yang kita lakukan oleh Allah swt. sangat bergantung pada niat kita.
Sedangkan syarat yang kedua, harus sesuai dengan syariat Islam. Syarat ini menyangkut segi lahiriah. Nabi saw. berkata, “Man ‘amala ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa raddun, barangsiapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak pernah kami diperintahkan, maka perbuatan itu ditolak.” (Muslim).

Tentang dua syarat tersebut, Allah swt. menerangkannya di sejumlah ayat dalam Alquran. Di antaranya dua ayat ini. “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh….” (Luqman: 22). “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan….” (An-Nisa: 125)

Yang dimaksud dengan “menyerahkan diri kepada Allah” di dua ayat di atas adalah mengikhlaskan niat dan amal perbuatan hanya karena Allah semata. Sedangkan yang yang dimaksud dengan “mengerjakan kebaikan” di dalam ayat itu ialah mengerjakan kebaikan dengan serius dan sesuai dengan sunnah Rasulullah saw.

Fudhail bin Iyadh pernah memberi komentar tentang ayat 2 surat Al-Mulk, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” Menurutnya, maksud “yang lebih baik amalnya” adalah amal yang didasari keikhlasan dan sesuai dengan sunnah Nabi saw.

Seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang dimaksud dengan amal yang ikhlas dan benar itu?” Fudhail menjawab, “Sesungguhnya amal yang dilandasi keikhlasan tetapi tidak benar, tidak diterima oleh Allah swt. Sebaliknya, amal yang benar tetapi tidak dilandasi keikhlasan juga tidak diterima oleh Allah swt. Amal perbuatan itu baru bisa diterima Allah jika didasari keikhlasan dan dilaksanakan dengan benar. Yang dimaksud ‘ikhlas’ adalah amal perbuatan yang dikerjakan semata-mata karena Allah, dan yang dimaksud ‘benar’ adalah amal perbuatan itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.” Setelah itu Fudhail bin Iyad membacakan surat Al-Kahfi ayat 110, “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

Jadi, niat yang ikhlas saja belum menjamin amal kita diterima oleh Allah swt., jika dilakukan tidak sesuai dengan apa yang digariskan syariat. Begitu juga dengan perbuatan mulia, tidak diterima jika dilakukan dengan tujuan tidak mencari keridhaan Allah swt.

Delapan Tanda Keikhlasan

Ada delapan tanda-tanda keikhlasan yang bisa kita gunakan untuk mengecek apakah rasa ikhlas telah mengisi relung-relung hati kita. Kedelapan tanda itu adalah:

1. Keikhlasan hadir bila Anda takut akan popularitas

Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata, “Sedikit sekali kita melihat orang yang tidak menyukai kedudukan dan jabatan. Seseorang bisa menahan diri dari makanan, minuman, dan harta, namun ia tidak sanggup menahan diri dari iming-iming kedudukan. Bahkan, ia tidak segan-segan merebutnya meskipun harus menjegal kawan atau lawan.” Karena itu tak heran jika para ulama salaf banyak menulis buku tentang larangan mencintai popularitas, jabatan, dan riya.

Fudhail bin Iyadh berkata, “Jika Anda mampu untuk tidak dikenal oleh orang lain, maka laksanakanlah. Anda tidak merugi sekiranya Anda tidak terkenal. Anda juga tidak merugi sekiranya Anda tidak disanjung ornag lain. Demikian pula, janganlah gusar jika Anda menjadi orang yang tercela di mata manusia, tetapi menjadi manusia terpuji dan terhormat di sisi Allah.”

Meski demikian, ucapan para ulama tersebut bukan menyeru agar kita mengasingkan diri dari khalayak ramai (uzlah). Ucapan itu adalah peringatan agar dalam mengarungi kehidupan kita tidak terjebak pada jerat hawa nafsu ingin mendapat pujian manusia. Apalagi, para nabi dan orang-orang saleh adalah orang-orang yang popular. Yang dilarang adalah meminta nama kita dipopulerkan, meminta jabatan, dan sikap rakus pada kedudukan. Jika tanpa ambisi dan tanpa meminta kita menjadi dikenal orang, itu tidak mengapa. Meskipun itu bisa menjadi malapetaka bagi orang yang lemah dan tidak siap menghadapinya.

2. Ikhlah ada saat Anda mengakui bahwa diri Anda punya banyak kekurangan

Orang yang ikhlas selalu merasa dirinya memiliki banyak kekurangan. Ia  merasa belum maksimal dalam menjalankan segala kewajiban yang dibebankan Allah swt. Karena itu ia tidak pernah merasa ujub dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya. Sebaliknya, ia cemasi apa-apa yang dilakukannya tidak diterima Allah swt. karena itu ia kerap menangis.

Aisyah r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang maksud firman Allah: “Dan orang-ornag yang mengeluarkan rezeki yang dikaruniai kepada mereka, sedang hati mereka takut bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” Apakah mereka itu orang-orang yang mencuri, orang-orang yang berzina, dan para peminum minuman keras, sedang mereka takut akan siksa dan murka Allah ‘Azza wa jalla? Rasulullah saw. menjawab, “Bukan, wahai Putri Abu Bakar. Mereka itu adalah orang-orang yang rajin shalat, berpuasa, dan sering bersedekah, sementera mereka khawatir amal mereka tidak diterima. Mereka bergegas dalam menjalankan kebaikan dan mereka orang-orang yang berlomba.” (Ahmad).

3. Keikhlasan hadir ketika Anda lebih cenderung untuk menyembunyikan amal kebajikan

Orang yang tulus adalah orang yang tidak ingin amal perbuatannya diketahui orang lain. Ibarat pohon, mereka lebih senang menjadi akar yang tertutup tanah tapi menghidupi keseluruhan pohon. Ibarat rumah, mereka pondasi yang berkalang tanah namun menopang keseluruhan bangunan.

Suatu hari Umar bin Khaththab pergi ke Masjid Nabawi. Ia mendapati Mu’adz sedang menangis di dekat makam Rasulullah saw. Umar menegurnya, “Mengapa kau menangis?” Mu’adz menjawab, “Aku telah mendengar hadits dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, ‘Riya sekalipun hanya sedikit, ia termasuk syirik. Dan barang siapa memusuhi kekasih-kekasih Allah maka ia telah menyatakan perang terhadap Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang baik, takwa, serta tidak dikenal. Sekalipun mereka tidak ada, mereka tidak hilang dan sekalipun mereka ada, mereka tidak dikenal. Hati mereka bagaikan pelita yang menerangi petunjuk. Mereka keluar dari segala tempat yang gelap gulita.” (Ibnu Majah dan Baihaqi)

4. Ikhlas ada saat Anda tak masalah ditempatkan sebagai pemimpin atau prajurit

Rasulullah saw. melukiskan tipe orang seperti ini dengan berkataan, “Beruntunglah seorang hamba yang memegang tali kendali kudanya di jalan Allah sementara kepala dan tumitnya berdebu. Apabila ia bertugas menjaga benteng pertahanan, ia benar-benar menjaganya. Dan jika ia bertugas sebagai pemberi minuman, ia benar-benar melaksanakannya.”

Itulah yang terjadi pada diri Khalid bin Walid saat Khalifah Umar bin Khaththab memberhentikannya dari jabatan panglima perang. Khalid tidak kecewa apalagi sakit hati. Sebab, ia berjuang bukan untuk Umar, bukan pula untuk komandan barunya Abu Ubaidah. Khalid berjuang untuk mendapat ridha Allah swt.

5. Keikhalasan ada ketika Anda mengutamakan keridhaan Allah daripada keridhaan manusia

Tidak sedikit manusia hidup di bawah bayang-bayang orang lain. Bila orang itu menuntun pada keridhaan Allah, sungguh kita sangat beruntung. Tapi tak jarang orang itu memakai kekuasaannya untuk memaksa kita bermaksiat kepada Allah swt. Di sinilah keikhlasan kita diuji. Memilih keridhaan Allah swt. atau keridhaan manusia yang mendominasi diri kita? Pilihan kita seharusnya seperti pilihan Masyithoh si tukang sisir anak Fir’aun. Ia lebih memilih keridhaan Allah daripada harus menyembah Fir’aun.

6. Ikhlas ada saat Anda cinta dan marah karena Allah

Adalah ikhlas saat Anda menyatakan cinta dan benci, memberi atau menolak, ridha dan marah kepada seseorang atau sesuatu karena kecintaan Anda kepada Allah dan keinginan membela agamaNya, bukan untuk kepentingan pribadi Anda. Sebaliknya, Allah swt. mencela orang yang berbuat kebalikan dari itu. “Dan di antara mereka ada orang yang mencela tentang (pembagian) zakat. Jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (At-Taubah: 58)

7. Keikhalasan hadir saat Anda sabar terhadap panjangnya jalan

Keikhlasan Anda akan diuji oleh waktu. Sepanjang hidup Anda adalah ujian. Ketegaran Anda untuk menegakkan kalimatNya di muka bumi meski tahu jalannya sangat jauh, sementara hasilnya belum pasti dan kesulitan sudah di depan mata, amat sangat diuji. Hanya orang-orang yang mengharap keridhaan Allah yang bisa tegar menempuh jalan panjang itu. Seperti Nabi Nuh a.s. yang giat tanpa lelah selama 950 tahun berdakwah. Seperti Umar bin Khaththab yang berkata, “Jika ada seribu mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada seratus mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada sepuluh mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada satu mujahid berjuang di medan juang, itulah aku!”

8. Ikhlas ada saat Anda merasa gembira jika kawan Anda memiliki kelebihan

Yang paling sulit adalah menerima orang lain memiliki kelebihan yang tidak kita miliki. Apalagi orang itu junior kita. Hasad. Itulah sifat yang menutup keikhlasan hadir di relung hati kita. Hanya orang yang ada sifat ikhlas dalam dirinya yang mau memberi kesempatan kepada orang yang mempunyai kemampuan yang memadai untuk mengambil bagian dari tanggung jawab yang dipikulnya. Tanpa beban ia mempersilakan orang yang lebih baik dari dirinya untuk tampil menggantikan dirinya. Tak ada rasa iri. Tak ada rasa dendam. Jika seorang leader, orang seperti ini tidak segan-segan membagi tugas kepada siapapun yang dianggap punya kemampuan.

Sardana

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2009/08/25/3616/delapan-tanda-orang-ikhlas/#ixzz3da4ToB6Y

Kamis, 11 Juni 2015

DJP dan PKP Siap Melaksanakan e-Faktur

E-Faktur atau Faktur Pajak yang berbentuk elektronik merupakan faktur pajak yang dibuat melalui aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh DJP. Sejak Juli 2014, sebanyak 45 perusahaan telah ditetapkan sebagai peserta pilot project e-Faktur.

Bulan Juli 2015 direncanakan program ini akan diberlakukan untuk Pengusaha Kena Pajak (PKP) seluruh Jawa dan Bali. Sedangkan pemberlakukan e-Faktur secara nasional akan secara serentak dimulai pada 1 Juli 2016.

Saat ini seluruh Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar, Kantor Pelayanan Pajak Khusus, Kantor Pelayanan Pajak Madya dan seluruh Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Jawa dan Bali sedang mengadakan sosialisasi e-faktur kepada PKP yang terdaftar di KPP nya, sehingga pada saat penerapan efaktur per 1 Juli 2015 semua PKP yang diwajibkan e-faktur telah siap melaksanakan.

Untuk menerapkan pembuatan e-faktur ini, Direktorat Jenderal Pajak telah menyediakan aplikasi yang dapat diinstall di perangkat komputer Pengusaha Kena Pajak dan e-Faktur ini otomatis terhubung ke program e-SPT, sehingga akan memudahkan Pengusaha Kena Pajak dalam membuat SPT Masa PPN secara elektronik menggunakan program e-SPT.

Latar belakang DJP membuat aplikasi ini adalah karena memperhatikan masih terdapat penyalahgunaan faktur pajak, diantaranya wajib pajak non PKP yang menerbitkan faktur pajak padahal tidak berhak menerbitkan faktur pajak, faktur pajak yang terlambat diterbitkan, faktur pajak fiktif, atau faktur pajak ganda. 

Selain itu karena beban administrasi yang begitu besar bagi pihak DJP sehingga suatu sistem elektronik untuk faktur pajak dipandang sangat memberikan efisiensi bagi DJP maupun PKP itu sendiri. Jika berbicara mengenai manfaat, dalam dunia modern tentu semua aplikasi berbentuk elektronik sangat memberikan efisiensi bagi penggunanya.

Pengguna akan merasa nyaman baik dalam hal proses pekerjaan maupun penyimpanan hasil pekerjaan. Penerbitan Faktur Pajak tidak lagi membutuhkan tanda tangan basah karena Faktur pajak elektronik ini menggunakan tanda tangan digital (digital signature) berbentuk QR code, kemudian tidak ada kewajiban untuk mencetak faktur pajak, serta aplikasi ini merupakan satu kesatuan dengan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) yang selama ini dilaporkan melalui e-SPT.

Sedangkan bagi DJP melalui aplikasi e-faktur ini kita makin mudah melakukan pengawasan dengan adanya proses validasi Pajak Keluaran - Pajak Masukan (PK-PM), adanya data lengkap dari setiap faktur pajak serta meminimalisir proses penyimpanan dokumen.

E-faktur mempermudah pelayanan karena akan mempercepat proses pemeriksaan, pelaporan, dan pemberian nomor seri faktur pajak. Selain itu juga sistem berbasis elektronik ini akan meminimalkan penyalahgunaan penggunaan faktur pajak oleh perusahaan fiktif atau pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga potensi pajak yang hilang menjadi sangat kecil.

Melalui e-faktur DJP berharap dapat mengatasi permasalahan dalam administrasi PPN sehingga penerimaan pajak dari sektor PPN dapat semakin optimal, selain bagi PKP dapat menjalankan usahanya menjadi jauh lebih baik. Sinergi antara Ditjen Pajak dan Wajib Pajak diharapkan mampu membangun sistem perpajakan yang lebih baik di masa depan.

Jadi ayo siapkan diri kita untuk lebih maju!

Sardana

Sumber:
http://www.pajak.go.id/content/article/djp-dan-pkp-siap-melaksanakan-e-faktur

Rabu, 10 Juni 2015

Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak (Pajak Pertambahan Nilai)

Bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP) berkewajiban untuk menerbitkan Faktur Pajak PPN setiap kali melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) ataupun Jasa Kena Pajak (JKP). Terhitung mulai tanggal 1 April 2013 seluruh PKP wajib menggunakan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-24/PJ/2012. Dengan diberlakukan peraturan tersebut, penomoran Faktur Pajak tidak lagi dilakukan sendiri oleh PKP, tetapi dikendalikan oleh DJP melalui pemberian Nomor Seri Faktur Pajak, di mana bentuk dan tata caranya ditentukan oleh DJP. Aturan ini juga mengembalikan pengaturan Faktur Pajak sesuai dengan UU KUP dan UU PPN, sehingga mempunyai basis legal yang kuat dan lebih memberikan kepastian hukum baik bagi PKP maupun bagi DJP.

PKP harus membuat Faktur Pajak dengan menggunakan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak yang diberikan oleh DJP yang terdiri dari 16 digit, yaitu:
  • 2 (dua) digit Kode Transaksi
  • 1 (satu) digit Kode Status, dan
  • 13 (tiga belas) digit Nomor Seri Faktur Pajak yang ditentukan oleh DJP

KPP tempat PKP dikukuhkan akan memberikan Nomor Seri Faktur Pajak sesuai dengan tata cara yang telah ditentukan dimulai dari Nomor Seri 900.13.00000001 untuk Faktur Pajak yang diterbitkan tanggal 1 April 2013. Untuk tahun pajak 2014 akan dimulai dari Nomor Seri Faktur Pajak  900.14.00000001 demikian seterusnya.

Penggunaan Kode Transaksi

Kode Transaksi (dua digit)  diisi dengan ketentuan sebagai berikut:

01 - digunakan untuk penyerahan BKP dan/atau JKP yang terutang PPN dan PPNnya dipungut oleh PKP Penjual  yang melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP. Kode ini digunakan dalam hal bukan merupakan jenis penyerahan sebagaimana dimaksud pada kode 04 sampai dengan kode 09.

02 - digunakan untuk penyerahan BKP dan/atau JKP kepada Pemungut PPN Bendahara Pemerintah yang PPNnya dipungut oleh Pemungut Bendahara Pemerintah.

03 - digunakan untuk penyerahan BKP dan/atau JKP kepada Pemungut PPN Lainnya (selain Bendahara Pemerintah) yang PPNnya dipungut oleh Pemungut PPN Lainnya (selain Bendahara Pemerintah).

04 - digunakan untuk penyerahan BKP dan/atau JKP yang menggunakan DPP Nilai Lain yang PPNnya dipungut oleh PKP Penjual yang melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP.

05 - kode ini tidak digunakan.

06 - digunakan untuk penyerahan lainnya yang PPNnya dipungut oleh PKP Penjual yang melakukan  penyerahan BKP dan/atau JKP, dan penyerahan kepada orang pribadi pemegang paspor luar negeri (turis asing) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16E UU PPN, antara lain:
a. Penyerahan yang menggunakan tarif selain 10%
b. Penyerahan hasil tembakau yang dibuat di dalam negeri oleh Pabrikan Pabrik hasil tembakau atau hasil tembakau yang dibuat di luat negeri oleh importir hasil tembakau sesuai Keputusan Menteri Keuangan Nomor 62/KMK.03/2002
c. Penyerahan BKP kepada orang pribadi pemegang paspor luar negeri (turis asing) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16E UU PPN.

07 - digunakan untuk penyerahan BKP dan/atau JKP yang mendapat fasilitas PPN Tidak Dipungut atau Ditanggung Pemerintah (DTP), berdasarkan peraturan khusus yang berlaku.

08 - digunakan untuk penyerahan BKP dan/atau JKP yang mendapat fasilitas dibebaskan dari pengenaan PPN.

09 - digunakan untuk penyerahan Aktiva Pasal 16D yang PPNnya dipungut oleh PKP Penjual yang melakukan penyerahan BKP.

Penggunaan Kode Status

Kode Status diisi dengan ketentuan sebagai berikut:

0 (nol)   - untuk status normal
1 (satu) - untuk status penggantian
Dalam hal diterbitkan Faktur Pajak pengganti ke-2, ke-3, dan seterusnya, maka Kode Status yang digunakan Kode Status “1”

Penggunaan Nomor Seri  Faktur Pajak

  1. Nomor Seri Faktur Pajak (NSFP) diberikan dalam bentuk blok nomor dengan jumlah sesuai permintaan PKP, contoh PKP meminta 100 NSFP, maka DJP memberikan sebanyak 100 NSFP.
  2. NSFP digunakan untuk penerbitan FP dalam tahun yang sama dengan 2 (dua) digit tahun penerbitan yang tertera dalam NSFP.
  3. NSFP yang tidak digunakan dalam suatu tahun pajak tertentu dilaporkan ke KPP tempat PKP dikukuhkan bersamaan dengan SPT Masa PPN Masa Pajak Desember tahun pajak yang bersangkutan.
  4. PKP yang melakukan pengisian Kode dan NSFP yang tidak sesuai dengan ketentuan PER-24/PJ/2012, maka FP yang diterbitkan merupakan Faktur Pajak Tidak Lengkap.
  5. NSFP yang diberikan oleh DJP digunakan untuk membuat FP pada tanggal Surat Pemberitahuan NSFP atau tanggal sesudahnya dalam tahun yang sama dengan Kode Tahun yang tertera pada NSFP tersebut. (SE-26/PJ/2015).

Dalam hal PKP telah membuat FP dengan mencantumkan tanggal sebelum tanggal Surat Pemberitahuan NSFP, maka FP tersebut merupakan Faktur Pajak Tidak Lengkap.
Terhadap FP Tidak Lengkap tersebut dapat dilakukan pembatalan FP, dibuat FP baru dengan menggunakan NSFP yang sama dengan FP Tidak Lengkap yang telah dibatalkan tersebut. Tanggal pada FP yang baru dibuat tidak boleh mendahului tanggal Surat Pemberitahuan NSFP. Pembatalan dan pembuatan FP dapat dilakukan sepanjang SPT Masa PPN di mana FP tersebut dilaporkan belum dilakukan pemeriksaan, atau belum dilakukan pemeriksaan bukti permulaan yang bersifat terbuka, dan/atau PKP belum menerima SPT Hasil Verifikasi.

Efek hukum atas pembatalan dan pembuatan FP tersebut:
  1. Dalam hal FP yang dibuat PKP diketahui bukan pada saat seharusnya FP dibuat, maka FP tersebut merupakan FP yang dibuat tidak tepat waktu oleh PKP. Maka PKP yabg tidak membuat FP maupun PKP yang membuat FP, tetapi tidak tepat waktu atau tidak selengkapnya mengisi FP dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua persen) dari Dasar Pengenaan Pajak.
  2. Dalam hal FP yang tidak tepat waktu dibuat setelah melewati jangja waktu 3 (tiga) bulan sejak saat FP seharusnya dibuat, PKP dianggap tidak menerbitkan FP. Bagi pembeli, FP ini tidak dapat dikreditkan.


Semoga bermanfaat,

Sardana

Sumber Referensi:
1. PER-24/PJ/2012
2. SE-26/PJ/2015

Selasa, 09 Juni 2015

Waspada, 4 Hal yang Terlihat Sepele Ini Bikin Perceraian Lebih Mudah Terjadi

Ada beberapa hal yang terlihat sepele akan tetapi bisa menyebabkan perceraian lebih mudah terjadi, apa sajakah hal tersebut? Berikut beberapa di antaranya:

1.Paradigma bahwa perceraian adalah hal yang biasa-biasa saja dan wajar
Paradigma seperti ini terlihat sepele memang, dan mungkin sebagian masyarakat telah memiliki paradigma seperti ini akibat tingginya tingkat perceraian dan gugat cerai di kalangan tokoh masyarakat dan selebritis belakangan ini.
Padahal, paradigma seperti ini sangat berbahaya karena bisa membuat seseorang dengan mudah berpikiran tentang cerai. Ketika berpikir tentang perceraian begitu mudahnya, mengucapkannya pun jadi begitu entengnya, akhirnya tanpa pikir panjang dan berpikir ulang puluhan kali pun seseorang akan lebih mudah bercerai.

2.Kurangnya perhatian pada pasangan hidup
Kapan terakhir kali menelepon suami atau istri kita bukan sekadar untuk menanyakan kapan pulang? Kita bisa menilai seberapa besar sih perhatian kita kepada pasangan hidup dengan mengevaluasi diri sendiri dan juga perhatian pasangan hidup kepada diri kita.
Kurangnya perhatian pada pasangan hidup akan memudahkan perceraian terjadi, karena tidak adanya ikatan hati. Ibarat tanaman yang tidak pernah disiram dan tak pernah diberi pupuk, tentu saja cepat atau lambat akan layu.

3.Bosan dan tidak melakukan sesuatu untuk mengatasi kebosanan tersebut
Jangan remehkan rasa bosan terhadap pasangan hidup! Karena hal yang terlihat sepele ini bisa sekali menggiring pada perceraian, apalagi kalau terpicu dengan kehadiran orang ketiga, maka sebelum hal buruk ini terjadi, segera sadari betapa bahayanya membiarkan rasa jenuh terhadap pasangan hidup, lakukanlah sesuatu untuk menyingkirkan kejenuhan tersebut! 

4.Selalu mempermasalahkan hal-hal kecil
Siapa yang tidak lelah kalau segala hal-hal kecil selalu dipermasalahkan? Tidur ngorok, taro sepatu sembarangan, mandi cuma 3 menit, penjet pasta gigi dari atas tube dan bukan dari bagian bawahnya, jika pasangan hidup tak bisa menoleransi hal-hal kecil seperti ini, lama-kelamaan akan menjadi hal besar yang buntut-buntutnya bisa bermuara ke perceraian.
Biasakan untuk tidak mempersoalkan hal sepele dan mulailah berdamai dengan perbedaan yang ada, apalagi jika perbedaan tersebut tidak prinsipil.

Sardana

Sumber:
http://www.ummi-online.com/waspada-4-hal-yang-terlihat-sepele-ini-bikin-perceraian-lebih-mudah-terjadi.html

Amnesti Pajak Berakhir, Objek Baru Lahir

Hiruk pikuk pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang berlangsung selama periode Juli 2016 sampai dengan Maret 2017 tel...