Selasa, 23 April 2013

Menjadi cermin bagi yang lain



Rasulullah saw membuat permisalan yang begitu sangat sederhana, tetapi di balik kesederhanaan kata tersebut terkandung makna yang begitu luas dan mendalam. Nabi saw bersabda: “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lainnya” HR. Abu Daud. Cermin sebuah kata yang tidak asing buat siapapun, dan itulah peran yang harus kita jalankan sebagai seorang mukmin. Kita diperintahkan sebagai cermin bagi yang lain.

Dalam memainkan peran sebagai cermin, seorang mukmin terlebih dahulu perlu memahami karakteristik sebuah cermin. Ada rahasia besar ketika memperhatikan sebuah cermin.

Pertama, memiliki kualitas terbaik. Cermin apabila dibandingkan dengan benda-benda yang juga terbuat dari bahan yang sama, maka cermin adalah produk yang dihasilkan dari bahan yang terbaik. Tegel, keramik, batako, dan juga cermin terbuat dari bahan pasir. Akan tetapi untuk membuat cermin dibutuhkan pasir silika denagn kualitas yang terbaik. Apabila pasir yang digunakan kurang baik, maka cermin yang dihasilkan tidak memberikan pantulan yang sempurna dan tentu gambar yang yang dihasilkan tidak tampak seperti aslinya. Dengan demikian agar peran sebagai cermin optimal, maka kualitas personal mukmin harus terus ditingkatkan gara memperoleh yang terbaik. Kesadaran ini semoga akan membentuk sikap penuh izah, bangga menjadi seorang mukmin, serta menjaga penampilan, tutur kata, serta perilaku yang terpuji.

Kedua, bermanfaat bagi semua orang. Cermin akan dengan mudah kita temui di berbagai tempat. Ketika di terminal bis, stasiun kereta api, bandara, atau tempat umum lain akan kita jumpai cermin. Di perkantoran, pusat perbelanjaan, rumah mewah, bahkan rumah yang gubuk pun aka nada cermin. Pesan yang dapat kita ambil adalah seorang mumkin harus memberikan manfaat bagi dirinya, keluarganya, lingkungannya, dan masyarakatnya. Mukmin bukan jadi benalu di tengah-tengah masyarakat, tetapi harus menjadi problem solving bagi meraka. Rasulullah saw memesankan: “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesame manusia lainnya”.

Ketiga, mengajak kepada kebaikan dengan bijak. Kalau kita perhatikan, setiap orang yang bercermin tentu akan melakukan perubahan diri dari yang buruk kepada yang lebih baik. Apabila ia melihat dirinya di cermin dalam keadaan rambutnya acak-acakan, maka ia akan ambil sisir untuk merapihkan rambutnya tersebut. Ia tidak marah apalagi tersinggung ketika cermin menasihati bahwa rambutnya acak-acakan. Justru dengan kesadarannya sendiri ia mengubah penampilannya tersebut.Oleh karena itu, setiap mukmin hendaklah meneladani cermin dalam memberikan nasihat atau mengajak kepada orang lain. Perhatikan adab-adab dalam meberikan nasihat. Nasihat tidak diwujudkan dengan kata-kata kasar atau dengan mengejek orang yang dinasihati, karena akan membuat tersinggung dan menyebabkan penolakan atas nasihat tersebut, bahkan bisa jadi akan beralku kasar karena merasa harga dirinya dinodai.

Itu artinya seorang mukmin yang menjadi cermin bagi mukmin lainnya , harus bersikap lemah lembut dalam menyampaikan nasihat dan tidak kasar serta keras hati terhadap saudaranya yang sedang dinasihati. Ingatlah firman Allha swt: “Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…” (QS Ali Imran: 159)

Keempat, pandai menyimpan rahasia. Watak cermin adalah tidak pernah menceritakan bentuk wajah orang yang pernah bercermin kepada orang yang berdiri dihadapnnya, sekalipun ia dipecahkan. Artinya seorang mu’min tidak boleh menceritakan aib orang yang telah meminta nasehat kepada dia kemarin kepada orang lain Karena menceritakan aib orang lain yang telah meminta nasehat padanya adalah dilarang Alloh dan merupakan bentuk khianat. Alloh SWT berfirman ; “..dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya..” (QS. Al Hujurot : 12). Menutupi aurat dan aib seorang muslim adalah keharusan dan dengan itu Alloh akan menutup aibnya kelak dihari kiamat. “Tiada seorang yang menutupi aib (kejelekan) orang didunia, melainkan Alloh akan menutupi kejelekannya di hari kiamat.” (HR. Muslim). Sikap yang baik dalam hal ini adalah diam jika tidak bisa berkata baik dan benar, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam ; “Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau dia diam.” (HR. Bukhari- Muslim).

Kelima, bersikap objektif dan tidak pilih kasih. iantara karakter cermin yang lainnya adalah keterbukaan dan terus terang dalam memunculkan bentuk orang yang bercermin. Artinya ia tidak pernah merubah wajah yang ganteng menjadi jelek dan sebaliknya, serta tidak pula menampakkan hal hal lain, tapi yang ditampakkan adalah hakikat dan kenyataan. Dalam hal ini cermin mengajarkan jangan sampai mengatakan sesuatu yang bertolak belakang terhadap orang yang sedang dinasehati, tetapi harus mengatakan yang sebenarnya dan ada pada orang tersebut. Tidak asal orang tersebut senang. Selain itu cermin tidak pernah menolak siapapun orang yang bercermin kepadanya. Baik orang yang ganteng, buruk, pria, wanita, kaya, miskin, dewasa, anak-anak dan seterusnya. Pendek kata seorang mu’min tidak boleh pilih kasih dalam memberikan nasihat ataupun cerminan terhadap saudaranya, karena manusia tidak terkasta atau terkotak-kotak. Manusia adalah sama derajatnya, yang membedakannya adalah taqwanya. “…Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Alloh ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu…” (QS. Al Hujurot : 13).

Keenam, butuh orang lain yang merawat dan manjaganya. Sekalipun cermin memiliki berbagai sifat kebaikan, namun ia juga tetap memiliki kekurangan. Ia adalah material yang mudah kotor, rapuh, dan gampang pecah. Karenanya ia membutuhkan orang lain yang bisa merawat dan menjaganya. Artinya seorang mukmin membutuhkan nasihat dari orang lain, karena keimanan setiap saat selalu beribah. Terkadang iman itu naik terkadang juga turun. Lingkungan yang baik dibutuhkan agar ia senantiasa terjaga dalam keadaan yang baik imannya Tidak pernah mengklaim sebagai orang paling soleh, tetapi dia bergaul dengan orang-orang soleh untuk merawat dan menjaga kesolehannnya.

Ketujuh, sabar dan telaten. Cermin tidak pernah protes ataupun marah terhadap berbagai gaya maupun tingkah orang yang berdiri dihadapannya ataupun enggan untuk menampilkan wajah orang tersebut. Ia dengan penuh kesabaran melayani setiap orang dengan berbagai karakternya. Hal ini berarti seorang mu’min harus menjadikan dirinya sebagai orang yang sabar dan harus memahamkan dirinya bahwa setiap orang tidaklah sama karakternya, sehingga ia akan berusaha untuk memahami setiap permasalahan dengan lebih sabar dan telaten. Mengenai keutamaan orang-orang yang sabar, Alloh SWT telah berfirman dalam Al Qur’an : “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Alloh tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.”(QS. Hud : 115)“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”(QS. Az Zumar : 10).Dengan sikap sabar ini Alloh SWT akan meng-anugerahkan sifat-sifat yang baik dan keberuntungan yang besar terhadap kita.
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.”(QS. Fushshilat : 35)

Gambaran di atas merupakan beberapa karakter khusus sebuah cermin, yang tentunya harus ditiru dan diikuti oleh setiap mukmin agar ia mampu menjalankan perannya sebagi cermin bagi mukmin yang lainnya.

Sardana

Senin, 22 April 2013

Haruskah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) ?


Setiap Pengusaha yang dikenakan Pajak Pertambahan Nilai berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dan kepadanya diberikan Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (SPPKP). SPPKP adalah surat yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak yang berisikan identitas dan kewajiban perpajakan Pengusaha Kena Pajak..

Fungsi Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak selain dipergunakan untuk mengetahui identitas Pengusaha Kena Pajak yang sebenarnya, juga berguna dalam pemenuhan kewajiban Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah serta untuk pengawasan administrasi perpajakan.

Pengusaha Kena Pajak (PKP) adalah orang pribadi atau badan yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaanya melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai Pajak Pertambahan NIlai (PPN),  tidak termasuk Pengusaha Kecil.  Menurut Pasal 4 UU PPN mengatur bahwa Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas :
a.       menyerahkan Barang Kena Pajak (BKP) di dalam daerah pabean;
b.      mengimpor BKP;
c.       menyerahkan Jasa Kena Pajak (JKP) di dalam daerah pabean;
d.      memanfaatkan BKP Tidak Berwujud dari luar daerah pabean;
e.      mengekspor BKP;
f.        mengekspor BKP Tidak Berwujud;
g.       mengekspor JKP.

Kewajiban melaporkan diri untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) ditujukan kepada Wajib Pajak apabila memenuhi salah satu keadaan sebagai berikut:

1.     Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan pekerjaan bebas atau Wajib Pajak Badan yang memenuhi ketentuan sebagai PKP sebelum penyerahan BKP/JKP;
2.     Wajib Pajak sebagai pengusaha kecil yang memilih sebahai PKP;
3.     Wajib Pajak sebagai pengusaha kecil yang tidak memilih sebagai PKP, tetapi sampai dengan suatu masa pajak dalam satu tahun buku nilai peredaran bruto telah melampaui batasan sebagai pengusaha kecil.
Dalam Pasal 1 PMK Nomor 68/PMK.03/2010 diatur batasan pengusaha kecil adalah pengusaha yang selama satu tahun buku melakukan penyerahan BKP/JKP dengan jumlah peredaran bruto tidak lebih dari Rp.600.000.000 (enam ratus juta rupiah).

Menteri Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 197/PMK.03/2013 mengubah batasan perederan bruto dari Rp.600.000.000,- menjadi Rp.4.800.000.000,- yang berlaku mulai 1 Januari 2014.

Pengukuhan PKP secara Jabatan
Direktur Jenderal Pajak mengukuhkan secara jabatan apabila PKP tidak melaksanakan kewajibannya untuk dikukuhkan sebagai PKP.

Kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak yang dikukuhkan sebagai PKP secara jabatan sejak saat memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai ketentuan peraturan perpajakan, paling lama lima tahun sebelum dikukuhkan sebagai PKP.


Sardana

Jumat, 19 April 2013

Dokumen pendukung untuk mendaftarkan NPWP atau Pengukuhan PKP

Apabila kita telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sebagai wajib pajak atau pengusaha kena pajak, maka wajib mendaftarkan diri untuk memilki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau pun untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP).
Karena itu sebelum kita mendatangi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) untuk mendaftarkan diri atau usaha kita sebaiknya dipersiapkan terlebih dahulu dokumen-dokumen yang memang wajib dilampiri untuk mendaftarkan NPWP atau pengukuhan PKP tersebut.
Berikut ini matrik dokumen-dokumen pendukung yang disiapkan untuk mendaftarkan NPWP atau pengukuhan PKP:

 
NO
PENDAFTAR
PERSYARATAN
1.
WP OP
WNI
KTP
WNA
Paspor
2.
OPPT (NPWP cabang untuk masing-masing tempat usaha OPPT yang berbeda dengan tempat tinggalnya)
1.    NPWP domisili,
2.    KTP
3.
NPWP bagi anggota keluarga (termasuk istri yang tidak pisah harta dengan suaminya)
1.    NPWP suami atau Penanggung Biaya Hidup
2.    Kartu Keluarga
3.    Surat Pernyataan Susunan Anggota Keluarga
4.    KTP bagi penduduk Indonesia, atau Paspor bagi orang asing.

4.

WP Badan


Dalam Negeri
1.     Akte pendirian dan perubahan
2.     KTP/Paspor sebagai penanggung jawab badan
3.     NPWP pimpinan/penanggung jawab badan


BUT
1.     Surat penunjukan dari kantor pusat untuk BUT
2.     KTP/Paspor sebagai penanggung jawab badan
3.     NPWP pimpinan/penanggung jawab badan
5.
Cabang WP Badan
1.     NPWP pusat
2.     Akte pendirian / surat penunjukan dari kantor pusat untuk BUT
3.     KTP/Paspor sebagai penanggung jawab badan
4.     NPWP pimpinan/penanggung jawab badan
6.

Bendahara Pemerintah
1.     Surat penunjukan sebagai bendahara
2.     KTP bendahara
7.
Joint Operation (JO)
1.     Perjanjian kerja sama / akte pendirian sebagai JO
2.     KTP/Paspor sebagai penanggung jawab JO
3.     NPWP sebagai pimpinan/penanggung jawab JO

Sedangkan Formulir Permohonan Pendaftaran WP dan/atau Fromulir Permohonan Pengukuhan PKP telah tersedia di KPP setempat.


Sardana

Rabu, 17 April 2013

Kapan Saat Wajib Memiliki NPWP

NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) merupakan suatu sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak, oleh karena itu kepada setiap Wajib Pajak hanya diberikan satu Nomor Pokok Wajib Pajak. Dengan diperolehnya Nomor Pokok Wajib Pajak, berarti Wajib Pajak telah terdaftar di Direktorat Jenderal Pajak.

Fungsi Nomor Pokok Wajib Pajak tersebut selain dipergunakan untuk mengetahui identitas Wajib Pajak yang sebenarnya, juga berguna untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam pengawasan administrasi perpajakan. Setiap Wajib Pajak dalam hal yang berhubungan dengan dokumen perpajakan diharuskan mencantumkan Nomor Pokok Wajib Pajak yang dimilikinya.

Lantas kapan saatnya kita harus memilki NPWP tersebut? NPWP wajib dimiliki oleh setiap wajib pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif.  Menurut pasal 2 ayat 3 UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan yang menjadi subjek pajak dalam negeri adalah:

a. orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia;   
b.   badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, kecuali unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi criteria.
c.    warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak.

Sedangkan syarat objektif diatur dalam pasal 4 ayat 1 UU yang sama adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun.

Dari ketentuan tersebut, wajib pajak harus segera mendaftarkan ke Direktorat Jenderal Pajak (KPP) untuk mendapatkan NPWP pada saat:

a.    Wajib Pajak Badan dan Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan
        pekerjaan bebas

  • Wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP paling lambat satu bulan setelah Saat Usaha Mulai Dijalankan pada KPP atau KP2KP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak.

  • Wajib pajak orang pribadi pengusaha tertentu selain mendaftarkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak juga mendaftarkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat-tempat kegiatan usaha Wajib Pajak.

b.   Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak menjalankan usaha atau tidak melakukan pekerjaan bebas sampai dengan suatu bulan yang disetahunkan telah melebihi  Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), Wajib Pajak tersebut wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP paling lama pada akhir bulan berikutnya.


NPWP Wanita Kawin

Berdasarkan penjelasan pasal 8 UU PPh “Sistem pengenaan pajak berdasarkan Undang-Undang ini menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis, artinya penghasilan atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabungkan sebagai satu kesatuan yang dikenai pajak dan pemenuhan kewajiban pajaknya dilakukan oleh kepala keluarga. Namun, dalam hal-hal tertentu pemenuhan kewajiban pajak tersebut dilakukan secara terpisah.”  Maksudnya, karena UU PPh menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis, maka bagi wanita kawin yang berpenghasilan digabung dengan kewajiban perpajakan suami. Dengan demikian wanita kawin tidak wajib memiliki NPWP dan pemenuhan kewajiban perpajakannya menggunakan NPWP suami.

Namun UU PPh juga memberikan pilihan bagi wanita kawin apabila hendak melakukan kewajiban pajaknya secara terpisah dari suami, sehingga atas pilihannya tersebut wanita kawin wajib memiliki NPWP. Wanita kawin yang wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP sendiri adalah wanita kawin yang  telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif, serta

  1. dikenakai pajak secara terpisah karena hidup terpisah dengan suami berdasarkan keputusan hakim. (Tidak termasuk dalam pengertian hidup terpisah dengan suami antara lain karena tugas, pekerjaan, atau usaha), atau
  2. dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta, atau
  3. ingin melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan terpisah dari hak dan kewajiban perpajakan suami.
Dalam hal wanita kawin telah memiliki NPWP sebelum kawin, maka harus mengajukan permohonan penghapusan NPWP dengan alasan bahwa pemenuhan hak dan kewajiban perpajakan digabung dengan hak dan kewajiban perpajakan suami.

Penghasilan Anak  Belum Dewasa


Saat ini banyak anak-anak di bawah umur yang terjun di dunia usaha terutama di dunia hiburan, menjadi artis, penyanyi, pemain sinteron, bahkan bayi pun ada yang sudah jadi bintang iklan. Tentu mereka walaupun masih belum dewasa memiliki penghasilan di atas PTKP.  Lalu bagaimana kewajiban perpajakan mereka.


Berdasarkan pada pasal 8 ayat (4) dan penjelasannya  UU PPh yang menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis, maka kewajiban perpajakan anak belum dewasa ini digabung dengan penghasilan orang tuanya .

Apabila seorang anak belum dewasa, yang orang tuanya telah berpisah, menerima atau memperoleh penghasilan, pengenaan pajaknya digabungkan dengan penghasilan ayah atau ibunya berdasarkan keadaan sebenarnya.

Seorang anak yang memiliki penghasilan di atas PTKP  baru memiliki kewajiban mendaftarkan dirinya untuk mendapatkan NPWP apabila telah berumur 18  tahun atau belum berumur 18 tahun tapi sudah menikah.

Mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP keluarga

Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 51/PJ/2008 mengatur bahwa bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP bagi anggota keluarga adalah:
  1. Anggota keluarga yang diakui oleh Penanggung Biaya Hidup, termasuk anak yang belum dewasa serta memiliki penghasilan dari mana pun sumber penghasilannya dan apa pun sifat pekerjaannya.
  2. Wanita kawin yang :
    1. menjalankan usaha dan/atau melakukan pekerjaan bebas; dan/atau
    2. tidak menjalankan usaha atau tidak melakukan pekerjaan bebas dan memiliki penghasilan sampai dengan suatu bulan yang disetahunkan telah melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak,

dan tidak terikat perjanjian pisah harta, serta tidak menghendaki untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri.
Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP bagi anggota keluarga yang tidak mengajukan permohonan NPWP harus melampirkan fotokopi NPWP Penanggung Biaya Hidup dan Kartu Keluarga serta Surat Pernyataan Susunan Anggota Keluarga untuk diserahkan kepada pemberi kerja atau pihak lain yang berkepentingan.
Dalam hal Wajib Pajak orang pribadi sebagaimana yang dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP bagi anggota keluarga telah memenuhi syarat subjektif dan objektif untuk memperoleh NPWP dan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan untuk dirinya sendiri sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku, NPWP bagi anggota keluarga yang telah diberikan kepadanya menjadi tidak berlaku. 

NPWP atas Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak

Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak dalam kedudukan sebagai subjek pajak menggunakan NPWP dari orang pribadi yang meninggalkan warisan tersebut dan diwakili oleh : 
a. salah seorang ahli waris;
b. pelaksana wasiat; atau
c. pihak yang mengurus harta peninggalan.

Wakil dari wajib pajak orang pribadi yang meninggalkan warisan ini wajib melaporkan perubahan data ke KPP tempat wajib pajak terdaftar.

Penerbitan NPWP secara Jabatan

Direktur Jenderal Pajak mengukuhkan secara jabatan apabila Wajib Pajak tidak melaksanakan kewajibannya mendaftarkan diri  untuk diberikan NPWP.

Kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak yang diterbitkan NPWP secara jabatan sejak saat memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, paling lama lima tahun sebelum diterbitkan NPWP. 


Catatan Penting:
Sehubungan dengan terbitnya Peraturan Menteri Keuangan No. 182/PMK.03/2015
Maka diharapkan untuk membaca tulisan ini, karena adanya perubahan ketentuan tentang tata cara pendaftaran NPWP dan pengukuhan PKP.




Sardana

Selasa, 16 April 2013

Iwan Setyawan, Anak Sopir Angkot Penakluk New York


VIVAlife - Seorang pria memasuki dunia lain. Sedikit pun tak pernah tersirat ia akan berada di tempat ini. Bandara John F Kennedy. Ya, ini New York!

Ia melanjutkan perjalanannya dengan mobil. Melewati Manhattan, nafasnya tertahan sejenak: gedung-gedung menjulang, dan puncak Chrysler Building berkilau seperti berlian. Lalu Empire State Building pamer kemegahan. Juga Sungai Hudson, seperti menenggelamkan jiwanya.

Bronx, ia juga melewatinya. Sedikit menyurut dari kemewahan Manhattan, di sini lebih banyak kedai cepat saji, pemusik jalanan, dan lalu lalang orang di subway station.
Lepas dari Bronx ia menapakkan kaki di Westchester. Kebetulan saat itu sedang musim gugur. Daun hijau menjelma keemasan, merah muda, merah tua, merah keemasan. Makin romantis dengan terpaan sinar matahari.
"Ini sambutan untuk saya, saya tidak sedang bermimpi," gumam Iwan Setyawan. Demikian nama lelaki ini.

Gagap Bahasa Inggris

Dari Batu, Malang, Iwan datang ke New York untuk mewujudkan mimpi. Mimpi yang sangat sederhana: memiliki kamar tidur sendiri di rumahnya.
Cita-citanya masa kecil sederhana sekali, dia ingin menjadi Hansip. Dulu itu pekerjaan yang mengagumkan untuknya. "Di lingkungan saya kecil dulu, nggak ada orang yang bekerja pakai seragam. Ya cuma Hansip itu yang pakai baju serba hijau, belt, sepatu. Itu canggih," ujarnya.
Ke New York, Iwan juga ingin membalas perjuangan keras orang tuanya, menyekolahkan hingga perguruan tinggi. Iwan memang tak besar di lingkungan cukup. Ayahnya sopir angkot, dan ibunya hanya di rumah, mendidik, dan membentuk hati anak-anaknya.

Keinginan membahagiakan keluarga begitu kuat, sampai akhirnya ia berangkat mengisi posisi data processing di Nielsen Research New York yang merupakan perusahaan riset terkemuka asal Amerika. Sebenarnya, dari hati kecil ia tak ingin meninggalkan orang-orang dekatnya di tanah air. Bapak, ibu, kakak, dan adik.

Dari kecil lelaki kelahiran 2 Desember 1974 ini tak pernah jauh dari keluarga. Ia memang pernah pekerja di Jakarta, di perusahaan sama. Ia juga merasakan kuliah di Bogor, tempatnya menimba ilmu statistik.

Tapi New York sangat jauh. Ia tak bisa pulang sewaktu-waktu saat rindu menyerang. Ini sangat menyedihkan untuknya. Tiga bulan pertama di New York, Iwan tinggal bersama rekan yang sudah dianggap sebagai kakaknya, Mbak Ati. Ke mana pun ingin pergi pria bertubuh kecil ini selalu ditemani. Kesedihan makin parah saat Mbak Ati, teman satu-satunya ini memutuskan pindah ke Australia. Meninggalkan dia seorang diri di negara asing.
Iwan harus melakukan segala sesuatunya sendiri. Ia mulai belajar memasak, mengurus segala tagihan rekening listrik dan telepon sendirian. Dan terpaksa harus mencari teman baru. Masa penyesuaian ini sangat sulit. Sesulit penyesuaian dirinya pada pekerjaan, mengingat bahasa Inggris-nya juga tidak canggih.

"What? What did you say? Would you repeat again?" ceritanya setiap kali ia mencoba berbahasa Inggris. Saat bekerja, ia lebih banyak diam. Bukan karena tak mau bergaul, tapi karena ia tidak tahu bagaimana harus bicara.
Namun lelaki yang dipanggil Bayek semasa kecil ini tak mau jalan di tempat. Ia sudah kadung nyemplung ke dunia profesional, dunia yang sangat langka karena tidak semua orang beruntung seperti dirinya. Ia lalu memberanikan diri menunjukkan bahasa Inggris-nya di lingkungan kerja.
"Saya jadi banyak membaca, menonton TV. Pertama kali ngomong, orang sering banyak nggak ngerti. Ini orang aksennya lucu," ujarnya.
Berkarya di luar negeri bukan hanya soal kepiawaian berbahasa, tapi juga kemampuan. Ia sempat minder saat kinerjanya dipertanyakan, mengingat ia hanya lulusan Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Bukan dari sekolah popular di Amerika seperti kebanyakan rekannya.
Iwan membuktikan bahwa dirinya mampu bersaing. Ia bekerja lebih keras dibanding yang lain. Bekerja lebih lama dibandingkan yang lain. Dan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dari yang seharusnya.
"Aku pikir, minder itu menutup kita untuk maju. Jadi buat apa minder? Lawan terus, usaha, banyak belajar. Aku coba untuk menantang diriku sendiri. Semakin diremehkan, semakin aku mau nunjukkan aku bisa. Setiap dikasih pekerjaan ABC aku mengerjakannya ABCD. Jam kerjaku seharusnya delapan jam, tapi aku bekerja sepuluh jam," bebernya.

Kerja kerasnya mendapat apresiasi. Iwan yang mengaku penakut ini meraih penghargaan Employee of the Month di bulan keempat dan kedelapan dirinya bekerja.

Sendiri Itu Sulit

New York memang kota mewah, tapi Iwan tak lantas menjadi glamour. Ia tetap orang Batu yang sederhana. Ia mengatakan biaya hidup di sana sangat tinggi. "Aku sering beli lauk di luar terus masak nasi di rumah. Atau bikin rendang, kan bisa buat beberapa hari," ujarnya.

Soal makanan, Iwan juga sempat melewati kesulitan mengakrabi pasta dan pizza. Lidahnya tetap sambal terasi. Ia memutari kota mencari toko yang menjual bumbu rempah, membuat sambal untuk teman makan sehari-hari.

Pada VIVAlife Iwan yang gemar menebar senyum ini menceritakan bagaimana ia melewati hari-harinya sendiri. Saat sedih ia hanya bisa mengungkapkan perasaannya lewat tulisan. Setiap hari ia menelepon keluarganya di Batu. Menceritakan hal apapun kepada ibunya.
Iwan juga mulai menekuni yoga. Awalnya ia memang tak tertarik dengan yoga, menurutnya yoga hanyalah kegiatan untuk perempuan. Sampai akhirnya ia menemukan khasiat yoga. Obat ampuh untuk menyembuhkan kesedihan, kesendirian, dan mengusir kesepiannya.

Lelaki yang hobi bertualang ini juga menceritakan kejadian paling tragis saat ia tinggal di Westchester. Meski daerah ini terbilang paling aman di New York, tapi justru di sinilah ia babak belur. Pipinya biru terkena pukulan. Badannya berkeringat dingin, gemetar. Iwan dirampok sesaat setelah ia ke luar dari ATM.
"Saya nggak ngelawan, nangis-nangis iya," ujar pria yang mengaku tidak pernah berkelahi seumur hidupnya ini. Namun kejadian itu tidak lantas membuatnya menyerah dan pulang. Iwan tetap bertahan demi mencapai apa yang ia inginkan.

Ia masih terus membahagiakan keluarganya, lebih dan lebih. Setiap bulan atau bahkan sebulan dua kali ia mentransfer sebagian gaji dan bonusnya untuk keluarga lewat sang ibu. Wanita yang selama ini menjadi 'menteri keuangan' keluarga.

Mencintai New York

Lambat laun penyesuaian dirinya makin mulus. Ia bahkan betah tinggal di negeri yang tak pernah tidur ini. Meski rasa rindu untuk pulang kerap menyelinap. Iwan sudah bisa menikmati New York.
New York yang sempat mencengangkannya saat pertama kali menginjakkan kaki. "Noraknya tuh pas aku tahu, oh passport tuh kayak gini, bandara John F Kennedy tuh gini ya, gini toh rasanya naik pesawat," ujarnya mengenang.

Pulang kerja, ia berjalan melewati pertokoan. Sekadar membuang penat atau malah berbelanja. Iwan jadi lebih mengenal fesyen. Ia sadar penampilan menjadi kebutuhan, bukan hanya bagian gaya hidup.

Dikatakannya, orang-orang di sekeliling turut memberi pengaruh. "Saya merasa jadi suka baca buku, liat orang-orang baca buku di taman, di bus, di kafe. Saya juga liat fesyen orang-orang, cara mereka berpakaian."

Iwan menemukan energinya. Energi yang mampu membuatnya menaiki karier lebih tinggi bahkan menjadi sangat hebat. Ia mendapat promosi menjadi Senior Data Processing Executive. Lalu Manager Data Processing Executive, Senior Manager Operations, dan akhirnya sebagai Director Internal Client Management. Anak buahnya tak hanya di kantor tapi tersebar di New York, Chicago, San Fransisco, dan India. Ini bukan posisi main-main.

Membingkai kisah dalam tulisan

Pada 2011 Iwan kembali ke Indonesia. Ia memutuskan pulang setelah menghabiskan 9 musim panas dan 10 musim gugur di New York. Keinginannya memiliki kamar sendiri di rumahnya juga sudah kesampaian.

Baginya New York sudah mengubah hidupnya sangat banyak. Saatnya ia kembali dan menata hidupnya yang baru.

Belum lama menikmati kemerdekaannya berkumpul bersama keluarga di Batu, Malang, Iwan mendapat tawaran untuk bekerja di Singapura. Sebagai Director Marketing Science di perusahaan marketing research multinasional yang mengawasi enam negara di Asia Tenggara. Gaji yang diberikan jauh lebih besar dari yang ia terima di New York. Tapi ia menolak.
Alasannya sederhana, ia ingin melakukan sesuatu untuk keluarganya. Membingkai perjalanan hidupnya, perjuangan orangtuanya, dan kenangan bersama kakak adiknya dalam sebuah buku. Iwan menjadi penulis.
"Keponakan-keponakan saya itu tahunya, om nya sudah pernah jadi direktur, kakeknya bukan lagi sopir angkot. Keluarga saya juga tidak pernah punya foto keluarga, jadi saya membuatkan potret keluarga lewat tulisan."
Selama enam bulan di Batu ia menyelesaikan 9 Summers 10 Autumns, novel pertama sebagai hadiah untuk bapak. "Saya nggak bisa nulis kalau nggak di Batu, tempat ibu saya ini bikin saya tenang," ujarnya. Enam bulan itu pula ia mengenang masa lalunya.

Bagaimana dulu ia merengek minta sepatu baru karena sepatunya sudah jebol. Bagaimana sesaknya rumah berukuran 6 x 7 meter yang dulu ditinggali bapak, ibuk, dan lima anaknya.

Bagaimana ia harus berbagi sepiring nasi goreng dengan dua telur ceplok sebagai sarapan istimewa keluarga. Bagaimana sang bapak harus menjual angkot, satu-satunya mesin penghasil uang keluarga demi ia bisa kuliah. Bagaimana bapak harus menjadi sopir truk untuk tetap mengepulkan dapur. Hingga perjalanan kariernya di New York selama 10 tahun.

Tak sedikit air mata yang keluar saat ia merangkai kata. "Terkadang kesibukan itu bikin kita lupa evaluasi diri. Dengan menulis, aku jadi mengerti benar masa laluku," ungkap lelaki berambut kelimis ini.

9 Summers 10 Autumns menjadi nasional best seller. Bertengger juga dalam daftar 10 besar Katulistiwa Literary Award, ajang penghargaan karya sastra terbaik di nusantara. Menyabet penghargaan sebagai Buku Terbaik Jakarta Book Award 2011, dan dicetak dalan versi Inggris berjudul 9 Summers 10 Autumns From the City of Apples to The Big Apple.

Novel ini juga sudah difilm-kan dengan judul sama, dan segera meluncur di bioskop 25 April mendatang. Ia juga sudah menelurkan novel kedua berjudul Ibuk. Novel yang kali ini ia dedikasikan untuk sang ibu tercinta.

Namun pencapaian-pencapaian ini tak lantas mengubah hidup dan kebiasaan keluarganya. "Ibu saya masih suka nyuruh saya ngepel. Saya suka bilang gini, 'Bu, aku nih penulis terkenal loh'," kelakarnya.
Setelah dua novelnya terbit, Iwan yang kini mendirikan perusahaan data analis mulai sering berkelana keliling Indonesia. Perjalanan backpack-nya menggunakan bus, kereta api, angkot, pesawat, ojek, bajaj, becak, dan perahu. Ia mendapat undangan untuk menceritakan kisah hidupnya, membagikan semangatnya.

Hati kecilnya menjalankan dengan senang hati. Ia tak pernah lelah. Tujuannya mencari dua tiga anak sopir angkot untuk bisa seperti dirinya. Ia ingin semua orang melebihi dirinya, meski kendala selalu ada di depan mata.
"Kalau mau maju, berbuat lebih dari orang lain, bekerja lebih dari orang lain. Jangan hanya sesuai job desc," ujarnya. (umi)
Sumber: Vivalife

Sholat Berjama'ah: Imam dan Permasalahannya

Setiap kamis pekan kedua di masjid kantor tempatku bekerja ada jadwal rutin kajian fiqih yang diasuh oleh KH. Drs. Sulhan Abu Fitra, MA. Dalam beberapa pekan terakhir tengah membahas tentang "sholat berjamaah". Sangat menarik cara beliau memaparkan materinya, sehingga bukan hanya menambah pengetahuan fiqih ibadah, tetapi juga membuat ada rasa rugi kalau meninggalkan kajian ini. Bahkan ketika beliau membawakan buku yang dijadikan rujukan setiap kajian, saya pun langsung membelinya.

Kebetulan di masjid kantor, saya diberi kepercayaan oleh jama'ah untuk menjadi ketua DKM. Masjid Al-Muhajirin begitu nama masjid itu. Hampir dua tahun amanah itu saya jalani, setiap waktu sholat wajib tiba (tentunya zhuhur dan ashar), saya lebih sering menjadi imam dibandingkan menjadi makmum. Karenanya saya tertarik untuk membuat tulisan singkat mengenai "Imam dan Permasalahannya" yang disarikan dari buku yang ditulis oleh beliau.

1. Syarat Sahnya Imam yang harus penuhi, diantaranya:
    a. Islam
    b. Baligh dan berakal
    c. Laki-laki sejati, kecuali sesama wanita
    d. Suci dari hadats
    e. Menguasai rukun dan bacaan sholat dengan benar

2. Sifat yang harus dimiliki oleh imam, yaitu :
    a. Hendaklah dia melaksanakan amanah (tugas) dengan penuh keikhlasan
    b. Hendaklah dia dicintai dan disenangi oleh jamaa'ahnya karena ketaatannya.
    d. Mempunyai ilmu agama yang cukup, minimal mengetahui hukum-hukum sholat seperti:
        rukun, sunat, syarat dan hal-hal yang membatalkan sholat.
    e. Mempunyai pengaruh di masyarakat, dihormati, dan disegani serta menjadi teladan
        karena kebaikan dan ketaatannya kepada Allah.

3. Adab-adab yang disyari'atkan bagi imam, antara lain:
    a. Adab sebelum sholat:
       - Hendaknya imam menyempurnakan thaharahnya, karena Allah tidak menerima
         sholat  yang dilakukan tanpa bersuci.
       - Mengingatkan dan memerintahkan makmum agar menegakkan shaf sesuai
         dengan syari'at.
       - Janganlah imam memulai sholat (takbiratul ihram) sebelum memeriksa
         dan membetulkan shaf makmum.
       - Membetulkan posisi atau tempat makmum, yakni jika sendirian dia sebelah kanan dan
         jika lebih dari dua orang dibelakang
   b. Adab ketika dalam sholat:
       - Hendaklah imam mengeraskan bacaan takbirnya, bacaan dan gerakannya.
         Imam itu untuk diikuti makmum.
       - Hendaklah imam mengerjakan sholat dengan kaifiyah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
         yakni melaksanakan hal-hal yang sunah dan rukun-rukunnya.
       - Hendaklah imam memenjangkan bacaan surat pada raka'at pertama sekiranya diketahui
         ada yang ikut menjadi makmum atau baru masuk jadi makmum,
         biar dapat mengikutinya.
       - Selanjutnya imam hendaknya  memendekkan bacaannya sesuai dengan
         kondisi makmum sesuai dengan sunah.
       - Hendaklah imam menyesuaikan bacaan takbur (panjang atau pendeknya)
         sesuai dengan gerakan yang dilakukan, sehingga makmum tidak mendahului
         gerakan imam.


Sardana


sumber buku bacaan: Tuntunan Sholat Khusyu', sempurna & Diterima,
Penulis : KH. Drs. Sulhan Abu Fitra, MA (Anggota Komisi Fatwa  MUI Pusat & Ketua Dept. Dakwah PP PUI)

Minggu, 14 April 2013

Jangan Mau Berhenti Belajar

Sebuah tulisan yang say baca dari salah satu harian ibu kota itu membuat saya tersenyum. Namun dibalik kelucuannya itu ada hikmah yang dapat kita ambil pelajarannya. Karena bisa jadi kita pun sering mengakami hal seperti itu. Membuat orang lain bingung atau bahkan tertawa lantaran ulah dan pemahaman kita. 

Suatu hari seorang lelaki paruh baya berbelanja ke toko untuk membeli sabuk kulit buaya, terjadilah tawar menawar, sambil menunjuk salah satu sabuk kulit, lelaki tadi bertanya :

“Bang, berapa nih harganya?”  
“Tiga ratus ribu pak” jelas pelayanan toko.
“Wah mahal sekali?” kata lelaki itu.
“Ya pak, ini kan asli kulit buaya. Kalau pingin murah cari buaya sendiri aja pak”, kata pelayanan dengan bernada canda.
Mendengar ucapan pelayanan toko, maka lelaki itu pergi meninggalkan toko tersebut. Setelah tiga hari berlalu, lelaki itu kembali mendatangi toko dengan raut muka marah, sambil berkata agak keras ke pelayanan toko, “Kamu jangan coba tipu saya ya!!”.

“Emang kenapa pak?” ucap pelayanan toko kebingungan.
“Saya sudah tiga hari dan telah menembak tiga buaya, tapi dari ketiga buaya yang berhasil saya tembak…  tidak satupun yang mengenakan sabuk. Kamu telah membohongi saya” jelas lelaki tersebut.

Sebuah sindiran buat kita, bahwa kita harus mau untuk terus belajar. Tidak merasa puas dengan pengetahuan yang kita miliki. 
Ada sebuah ungkapan yang berbunyi, “Learning is never ending adventures.” Yang artinya, pembelajaran adalah proses petualangan yang tiada akhirnya.  Juga ada slogan, “Stop Learning Stop Growing”, berhenti belajar berhenti berkembang.


Nabi Muhammad saw pun menyuruh umatnya untuk terus belajar,  

اُطْلُبُوا العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلى اللَّحْدِ

 Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat” (HR. Bukhori)

Bahkan jarak yang jauhpun bukan penghalang untuk terus belajar, Rasulullah saw bersabda:

اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ

"Tuntutlah ilmu sampai sampai ke negeri Cina"
Mengapa harus terus belajar sepanjang kehidupan kita, bukannya kita di masa muda telah menamatkan sekolah hingga jenjang pendidikan tinggi. Bukankah usia tua adalah saat-saat menuai hasil dari proses belajar kita di masa lalu. Mungkin inilah sedikit alasan agar kita terus mau belajar.


Pertama, karena kunci meraih suskes itu adalah dengan ilmu. Pingin sukses jadi pengusaha tentu harus tahu pengetahuan tentang entrepreneurship, pingin sukses jadi seorang manajer tentu harus belajar ilmu-ilmu dan skill manajemen. Apalagi kalau ingin sukses dunia dan akhirat tentu harus berbekal ilmu bagaimana meraihnya. Umar bin Abdul Aziz berkata: "Barang siapa menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, barang siapa menghendaki kehidupan ukhrowi maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu." Jadi kalau mau sukses ya harus mau belajar.  
Mengapa kalangan para sahabat Rasulullah saw menjadi generasi terbaik? Salah satu jawabannya adalah karena mereka merupakan orang-orang pembelajar dan pencari ilmu yang gigih. Suatu ketika Rasulullah mengatakan "Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga", dan mengulanginya sampai 3 hari berturut. Di antara sahabat Rasulullah saw mencoba mencari tahu kelebihan dari seorang lelaki tersebut yang menyebabkan Rasulullah menyebutnya sebagai calon penghuni surga. Itulah bentuk semangatnya mencari ilmu demi kebahagiaan hidup terutama kehidupan di akhirat.

Kedua,  karena memang ilmu yang kita miliki sangat sedikit sementara pelajaran yang terhampar di luar sana begitu sangat banyak. Dalam Al-Qur'an sendiri menyatakan:

وَمَا أُوتُوا مِنْ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

"dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" (QS. Al-Israa: 85)

Maka belajar adalah satu-satunya pintu untuk memasukan ilmu-ilmu tersebut masuk ke dalam diri kita. Modal yang diperlukan untuk termotivasi hal ini adalah jangan puas terhadap ilmu yang kita miliki. Buka pintu kita selebar-lebarnya bagi ilmu dan pengetahuan.


Ketiga,  orang berilmu lebih baik dibanding orang berharta. Kalau harta dinafkahkan akan habis sehingga pemiliknya sering disibukkan untuk menjaganya, sedangkan ilmu kalau dinafkahkan tak akan pernah habis bahkan terus berkembang. Ilmu akan menjaga pemiliknya. Jadi belajar dan mengajarkan akan menjadikan kita lebih baik. Sabda Rasulullah: 

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ


Yang terbaik dari kalian adalah yang mempelajari al-qur'an dan mengajarkannya”.  

Allah swt akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. "  (QS. Al-Mujadilah: 11)

Keempat, konsepsi pemahaman kita terhadap sesuatu bisa jadi kurang tepat. Seperti  pada cerita di atas, sebuah sindiran yang mungkin tidak sedikit orang ngotot akan persepsinya sendiri padahal keliru. Kita terus meyakini terhadap apa yang kita tahu sehingga semua perilaku kita didasari oleh keyakinan tersebut. Mungkin benar menurut kita, karena sebatas itulah ilmu kita. Tetapi belum tentu menurut orang lain. Bisa saja, saat kita ngotot berdebat, merasa pintar, dan orang lain kita persalahkan, padahal di belakang kita, lawan debat kita, orang yang mendengarkan omongan kita malah menertawakan kita. Belajar terus untuk mengkonfirmasi apakah ilmu kita telah tepat atau belum.

Kelima,  pengetahuan yang kita miliki bisa jadi sudah telah usang, sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman. Mau tidak mau kita harus mengupgrade-meningkatkan, mengupdate-memperbaharui dengan pengetahuan yang terus berkembang. Caranya.. ya tetap belajar.


Apa pun kondisi kita saat ini, profesi  apa pun yang sedang kita jalani. Walaupun saat ini kita sedang menikmati puncak keberhasilan, jangan pernah mengurangi kewaspadaan sedikit pun untuk menatap masa depan, jangan pernah berhenti belajar, dan jangan pernah berhenti memperbaiki diri. Hanya dengan cara demikian kita akan tetap eksis dan bersiap menghadapi berbagai perubahan. 


Sardana



Amnesti Pajak Berakhir, Objek Baru Lahir

Hiruk pikuk pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang berlangsung selama periode Juli 2016 sampai dengan Maret 2017 tel...