Jumat, 05 April 2013

Bagaimana harta kita belanjakan ?


Ketika mendengar kata ”harta”  tentu setiap orang ingin memilikinya. Karena harta merupakan salah satu simbol kesuksesan hidup dan tentunya sekaligus sebagai salah satu sarana untuk menuju hidup yang lebih sukses lagi. Kemacetan Jakarta yang sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagi warga ibu kota adalah sebagai salah satu akibat dari aktivitas berjuta manusia yang mencari harta di sekitar Jakarta. Tidak sedikit suami yang harus berpisah dengan istri dan anak-anaknya, ada yang berjumpa keluarga sepekan sekali (kalau yang ini... curcol diri sendiri nih.. he .. he..), mungkin sebulan sekali, bahkan ada yang sampai bertahun-tahun baru bisa berjumpa dengan istri dan keluarganya. Ini semua mereka lakukan demi untuk mencari harta.

Tulisan tidak dimaksudkan untuk membicarakan bagaimana cara mendapatkan harta tersebut, sebab semua tentu sepakat harta yang ingin kita dapatkan adalah harta yang halal.

Adapun sisi lain yang juga penting harus diperhatikan pada harta adalah: “Bagaimana harta kita belanjakan ?” Sebab dalam ajaran agama (Islam) ketika berbicara harta maka ada dua aspek yang disinggung yaitu dari mana diperolehnya dan kemana membelajakannya.  Sabda Nabi Muhammad Saw: Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sampai ditanya tentang empat perkara: (antara lain)…. tentang hartanya, dari mana harta tersebut didapatkan dan untuk apa harta tersebut dibelanjakan, …..” (HR. At-Tirmidzi)

Sebagaimana disinggung bahwa harta bukan semata-mata simbol sukses atas usaha kita selama ini, tetapi dengan harta itu kita juga ingin meraih kesuksesan yang lebih lagi yaitu sukses dunia dan akhirat. Sehingga diperlukan manajemen bagaimana pengeluaran harta agar obsesi kesuksesan itu bisa tercapai.

Pertama, penuhi hak Allah swt. Harta walaupun didapatkan dari jerih payah kita bekerja, tetapi sesungguhnya yang memberikan adalah Allah swt sebagai yang Maha Pemberi Rizqi (Arrozzaak). Ketika memang Allah swt mewajibkan untuk menunaikan zakat, maka tidak ada pilihan lain kecuali kita menunaikan zakat dengan sepenuhnya. Khalifah Abu Bakar marah besar ketika ada kabilah-kabilah arab yang berani mengusir amil zakat utusan khalifah untuk memungut zakat di kabilah mereka. Khalifah Abu Bakar mengatakan: "Demi Allah, saya akan perangi setiap orang yang memisahkan salat dan zakat. Zakat adalah kewajiban yang jatuh pada kekayaan. Demi Allah kalau mereka menolak saya dalam membayarkan apa-apa yang dulu mereka bayarkan kepada Rasul Allah, Sallallahu'alaihi wassalam, saya akan perangi mereka!"  Dan ucapan beliau benar-benar dibuktikan dengan mengirimkan laskar untuk memerangi mereka, agar mereka bertaubat dan mau membayar zakat. Belum lagi ketika al-qur’an memberitakan kabar gembira balasan bagi mereka yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah dilipatgandakan hingga 700 kali (Al-Baqarah : 261). Sungguh begitu banyak keutamaan bagi orang yang mau menafkahkan hartanya di jalan Allah dengan infaq dan shodaqoh. Maka segera penuhi hak Allah ini sebelum dibelanjakan bagi yang lainnya.

Kedua, penuhi hak pihak ketiga (hutang-hutang). Hal yang terkadang tidak bisa kita hindari dalam hidup yaitu terpaksa kita harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Jangan anggap sepele masalah hutang, karena ayat terpanjang dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah : 282) mengulas tentang bagaimana kalau kita berhutang yakni “disuruh menuliskan atas transaksi yang tidak tunai”. Yuk.. catat itu hutang-hutang kita, jangan sampai lupa, apalagi sengaja melupakannya. Dari Jabir ra ia berkata,”Rasulullah SAW tidak menshalatkan orang yang meninggal dalam kondisi berhutang”. Kemudian didatangkan 1 jenazah. Rasul bertanya “Apakah dia punya hutang?”Sahabat menjawab,”Ya, 2 dinar.” Rasul bersabda,”Shalatkanlah teman kalian.”Berkata Abu Qatadah Al Anshari,”Ke 2 nya tanggungan saya wahai Rasulullah SAW”. Kemudian Rasulullah SAW menshalatinya. 
Bagaimana Rasulullah saw tidak bersedia menshalatkan jenazah yang masih memiliki hutang, sampai ada pihak yang menanggung tas hutang-hutangnya.
Jika kita saat ini sedang idberi rizki yang lebih, buka catatan hutang-hutang kita. Ayo segera lunasi. Ada pernyataan nabi yang membuat merinding: “Diampuni bagi orang yang mati syahid semua dosa nya kecuali hutang.” (HR. Muslim).
Berat resiko yang ditanggung bagi orang yang memiliki hutang.


Ketiga, belanjakan untuk masa depan (pendidikan anak-anak, sakit, tua).  Penghasilan yang kita terima tidak selalu tetap, terkadang naik terkadang turun. Kondisi fisik juga tak selamanya sehat. Bahkan tidak ada yang memastikan kalau tempat kita bekerja tidak akan bangkrut. Resiko PHK bisa saja mengancam kita.  Usia tua? Pasti, tidak ditunggupun akan tiba juga. Sebelum semua itu terjadi harus diantisipasi. Sebagaimana nabi Yusuf telah menyampaikan ta’wil atas mimpi sang raja Al-‘Aziz bahwa akan masa subur 7 tahun dan akan suatu masa  paceklik selama 7 tahun, maka untuk menghadapinya harus menyimpan sebagaian hasil panen di saat masa subur tersebut (QS.  Yusuf : 46-48). Mari ambil sebagian penghasilan kita untuk menabung (saving) ataupun investasi sebagai bentuk antisipasi. Apalagi kalau memiliki pasif income, tentu lebih mantap lagi. Jangan sampai ketika anak membutuhkan biaya pendidikan tidak ada uang, ketika ada anggota keluarga yang jatuh sakit tidak ada untuk biaya berobatnya. Jangan sampai di saat usia tua dan sudah tak berdaya, tak ada lagi dana untuk biaya sehari-hari. Tentu kita tidak berharap hidup ini jadi berantakan hanya karena keteledoran atau acuh tak acuh diri kita akan ketersediaan dana darurat. Perlu ketegasan dalam mengalokasikan panghasilan yang kita peroleh untuk saving atau investasi ini.

Keempat, belanjakan sesuai kebutuhan saat ini. Keinginan untuk membelajakan uang saat ini semakin mudah. Iklan berbagai produk terus ditayangkan menggoda hasrat kita untuk membeli. Produsen gadget yang semakin inovatif terus membuat produk-produk terbaru dengan berbagai keunggulannya. Produksi kendaraan juga demikian, hampir setiap triwulan selalu ada model baru yang ditawarkan oleh produsen. Tawaran wisata, kuliner, dan sebagainya dikemas begitu sangat menarik agar kita mau mencobanya. Semua menyerbu kita sebagai calon konsumen. Maka saatnya untuk mengendalikan syahwat belanja kita. Kalaupun gak punya duit untuk belanja, tetap juga harus menjaga syahwat belanja ini. Banyaknya tindak kriminal bisa jadi karena kegagalan menjaga sayhwat ini. Jangan sampai mudah tergoda oleh barang-barang baru yang belum tentu kita butuhkan. Saat akan membeli suatu produk tertentu, pikirkan dulu apakah memang itu tuntutan kebutuhan atau hanya sekedar trend. Kalau hanya karena trend lebih baik ditunda dulu, karena nanti penggunaannya kurang optimal. Pedoman dalam berbelanja adalah: belanja sesuatu yang penting, bukan yang penting belanja. Ingat-ingat itu, karena kalau tidak akan jadi mubadzir (pemboros), sedangkan mubadzir (pemboros) itu saudaranya syaithon (QS. Al-Kahfi: 27).


Wallahu’alam bishowab
Sardana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amnesti Pajak Berakhir, Objek Baru Lahir

Hiruk pikuk pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang berlangsung selama periode Juli 2016 sampai dengan Maret 2017 tel...