Selasa, 14 Mei 2013

MENGEJAR IMPIAN : Mengapa harus memiliki mimpi ?


Impian bagi seseorang memiliki peran yang sangat penting bagi perjalanan hidupnya di masa yang akan datang. Berikut ini disampaikan fungsi-fungsi yang sangat penting dari suatu mimpi atau cita-cita seseorang.

Pertama, petunjuk arah tujuan. Mimpi, angan-angan atau cita-cita akan menjadi peta dan petunjuk arah bagi seseorang dalam mengarungi kehidupan dunia, sehingga ia lebih cepat dan lebih terarah dalam merealisasikan hal-hal yang akan mendatangkan kemaslahatan baginya. Seorang yang tidak memiliki mimpi dan cita-cita dalam kehidupan ini seringkali kebingungan dalam menentukan arah hidupnya. Ia senantiasa terombang-ambing dalam berbagai urusan dan melakukan sesuatu karena orang lain melakukannya tanpa mengerti arti dan urgensi dari apa yang dilakukannya bagi kehidupan dunia dan akhiratnya. Jadi, seorang muslim hendaknya memiliki mimpi, angan-angan dan cita-cita yang halal agar memiliki arah yang jelas dalam mengarungi kehidupan.

Kedua, memberikan kekuatan. Mimpi, angan-angan dan cita-cita akan memberikan kekuatan yang luar biasa bagi pemiliknya, sehingga ia mampu merealisasikan apa-apa yang sulit diwujudkan oleh orang-orang yang tidak pernah bermimpi dan berangan-angan. Sebagai contoh adalah para ulama yang banyak berpuasa di siang hari, melakukan shalat di malam hari, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar dan mengajar, menjauhi gemerlap dunia, dan hidup serba kekurangan. Semua itu mampu mereka lakukan karena adanya harapan yang besar mereka untuk meraih ridha dan surge Allah yang abadi.

Ketiga, menentukan prioritas. Seseorang yang telah menetapkan mimpinya, tidak mudah tergoda untuk melakukan hal-hal yang menurutnya tidak mendukung perealisasian mimpi dan cita-citanya. Ia akan memiliki prioritas yang jelas dalam menata agenda kegiatan dan melakukan berbagai aktivitas. Ia akan nmendahulukan kegiatan atau aktivitas yang memiliki manfaat besar bagi perealisasian mimpi dan cita-citanya, dan menomorsekiankan hal-hal yang kurang bermanfaat. Bahkan ia tidak segan-segan untuk meninggalkannya, karena justru akan mengganggu proses perealisasian cita-cita dan mimpinya.

Keempat, menambah nilai pekerjaan. Cita-cita dan mimpio seseorang akan memberikan nilai tambah pada setiap pekerjaan yang dilakukannya. Karena sekecil apa pun pekerjaan yang dilakukan, akan menjadi batu-bata bagi bangunan mimpi dan cita-citanya. Serbagai contoh, seseorang yang membeli sebatang kayu jati. Apa yang dibelinya, akan memiliki nilai tambah, jika ia memiliki cita-cita untuk membangun sebuah rumah. Ia dapat menggunakannya untuk kusen, daun pintu, tiang, reng, atau perkakas rumah lainnya. Namun, jika ia tidak memiliki impian untuk membangun rumah, sebatang pohon kayu jati itu pada akhirnya akan habis untuk kayu bakar.

Kelima, memprediksi masa depan. Dengan memiliki mimpi dan angan-angan, seseorang akan mampu menggambarkan dan memprediksi masa depannya. Hal itu karena Allah akan mentakdirkan apa yang menjadi harapan hamba-hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam hadits Qudsi, “Aku akan mengikuti prsangka hamba-Ku kepada Ku. Jika prasangkanya baik, maka Aku akan menetapkan kebaikan untuknya. Jika prasangkanya buruk, maka Aku akan menetapkan keburukan untuknya” (HR. Ahmad). Esensi ini telah lama dipahami orang-orang Barat sebagai hokum pengharapan. Mereka memahami bahwa sesorang akan menjadi apa yang dimimpikan dan diharapkannya. Jika seseorang berharap menjadi pengusaha sukses di masa depan, maka dengan izin Allah ia akan menjadi pengusaha yang sukses sebagaimana yang ia impikan.

Hendaklah memiliki impian yang besar

Agama menyuruh penganutnya untuk memiliki mimpi yang besar. Ada beberapa alasan mengapa kita harus memiliki angan-angan dan impian yang besar.

Pertama, mimpi atau angan-angan adalah do’a dan permohonan kepada Allah. Sedangkan Allah adalah Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Kaya, Maha Luas rahmat dan karunia-Nya. Sudah sepaptutnya apabila kita tidak memohon kepadanya kecuali sesuatu yang sangat besar dan sangat berarti bagi kita. Hal itu sebagai suatu adab dan etika untuk mengagungkan dan memuliakan-Nya. Rasul saw bersadba, “Tidak boleh dimohon dengan menyebut wajah Allah, kecuali surga”. (HR. Abu Dawud)

Hadits ini menunjukkan bahwa kita tidak sepaptutnya menggunakan wajah Allah untuk memohon kecuali sesuatu yang menjadi puncak kebutuhan dan keinginan kita sebagai bentuk pengagungan, pemuliaan dan penghormatan diri kita kepada Allah. Sebagian ulama berkata, “Maksudnya adalah janganlah kamu meminta sesuatu kepada orang lain dengan menyebut wajah Allah, karena terlalu agung dan mulia untuk kita gunakan sebagai sarana meminta sesuatu kebutuhan dunia yang tidak berarti”. (Taisirul ‘Azizil Hamid: 661)

Kedua, semakin besar angan-angan dan impian seseorang, maka akan semakin bersungguh-sungguh dalam mewujudkannya. Ia tidak akan merasa cepat lelah meskipun sudah menempuh jarak yang sangat jauh untuk meraih angan-angan dan impiannya. Sebaliknya, orang yang memiliki angan-angan kecil akan merasa mudah lelah dan akhirnya berhenti meraihnya. Seperti orang yang bertekad lari menempuh jarak puluhan kilometer, ia tidak merasa lelah meskipun sudah menempuh jarak beberapa kilometer. Sebaliknya, orang yang bertekad lari menempuh jarak dua kilometer, ia akan merasa lelah meskipun baru menempuh jarak satu kilometer.

Ketiga, angan-angan dan impian yang besar akan menjadikan seorang muslim menjauhkan diri dari hal-hal yang kecil dan sia-sia, serta menyibukkan diri dengan hal-hal yang besar dan bermanfaat. Sehingga ia menjadi orang yang dicintai Allah karena telah melakukan hal-hal yang dicintai-Nya. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai hal-hal yang tinggi dan mulia, serta membenci hal-hal yang rendah/remeh”.

Ketika ada seseorang datang kepada Ibnu Abbas seraya berkata, “Aku ingin bertanya kepadamu tentang masalah-masalah kecil”. Beliau berkata, “Kalau begitu, jangan Tanya kepadaku, tanyakan saja kepada orang-orang kecil”.

Keempat, angan dan mimpi yang besar akan lebih menantang sehingga ia lebih bersemangat untuk merealisasikannya. Sebab, secara umum manusia memiliki ketertarikan untuk mencoba tantangan baru. Semakin besar dan berat suatu tantangan, semakin terpacu rasa penasaran dan adrenalinnya untuk mencoba. Tetapi kalau cita-cita itu sederhana dan tidak menantang, maka ia juga tidak akan bersemangat dalam mengerahkan seluruh potensi untuk mewujudkannya. Karena tanpa itu semua, ia yakin tidak akan dapat mewujudkannya.

Sardana

Sumber: Syarah Lengkap Arba’in Ruhiyah
Penulis : Fachruddin Nursyam, Lc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amnesti Pajak Berakhir, Objek Baru Lahir

Hiruk pikuk pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang berlangsung selama periode Juli 2016 sampai dengan Maret 2017 tel...