Kamis, 26 Maret 2015

Keluar dari Zona Nyaman sebagai Kunci Sukses Mengembangkan Diri



Tinggal nyaman di dalam comfort zone alias zona nyaman ibarat katak dalam tempurung. Apa yang kita tahu dan alami itu-itu saja. Pada gilirannya, apa yang kita dapat, yach, hanya itu-itu saja juga. Atau, lebih parah lagi, zona nyaman kita menjadi tidak lagi nyaman karena serbuan dari dunia luar. Hiiiiih, sereeem!

Dalam kehidupan ini, sejatinya, tidak seorang pun anak manusia yang berada di dalam zona nyaman. Setiap orang, baik anak yang masih kecil, atau pun nenek yang sudah tua renta, senantiasa berada di zona yang tidak nyaman, hidup di dalam ketidakpastian. Seorang anak kecil, tidak selamanya dapat berada di dalam lindungan orangtuanya. Jika orangtuanya meninggal karena suatu sebab, sementara tidak ada orang yang mau peduli dengannya, maka ia harus berjuang demi hidupnya sendiri (meskipun kita tidak berharap peristiwa seperti ini terjadi). Banyak contoh yang dapat kita saksikan mengenai kenyataan seperti ini.

Demikian juga orang yang sudah tua renta. Kita tidak bisa menjamin bahwa anak dan cucu kita akan peduli terhadap nasib kita saat kita sudah tidak dalam usia produktif. Inilah kenyataan hidup di hari ini. Penuh ketidakpastian!

Dalam dunia yang penuh ketidakpastian ini, zona nyaman merupakan musuh utama umat manusia. Barangsiapa yang tidak siap untuk keluar dari zona nyaman, maka pertama, dia tidak akan berkembang; Kedua, ada kemungkinan zona nyamannya sudah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman.

Misalnya, sudah belasan tahun kita bekerja di suatu perusahaan. Kita sudah sangat nyaman dengan situasi kita. Kita menjadi pegawai tetap dengan jaminan pensiun yang tinggi, gaji yang lebih dari cukup, serta jaminan kesehatan yang membuat kita merasa aman. Tetapi, tiba-tiba, karena satu hal atau lainnya, perusahaan tempat kita bekerja mengalami kebangkrutan. Maka, mau tak mau kita harus keluar dari zona nyaman kita. Kita harus mencari tempat baru yang belum pernah kita kenal sama sekali dan memulai lagi dari nol.

Nah, oleh karena itulah, keluar dari zona nyaman merupakan salah satu seni menjalani hidup yang harus kita pelajari dan kuasai.

Memang sudah menjadi sifat alami kita merasa takut dan cemas berada di dalam situasi yang asing. Saat kita berada di dalam situasi yang asing, hal itu secara alami akan menimbulkan kecemasan dan ketakutan di dalam diri kita. Parahnya, kecemasan dan ketakutan ini akan menghasilkan pemikiran atau persepsi-persepsi negatif yang mendukung rasa cemas dan takut itu. Pada gilirannya, persepsi-persepsi ini akan membuat ketakutan dan kecemasan kita semakin menjadi-jadi.

Untuk itu, kita perlu menata pikiran sedemikian rupa sehingga pemikiran-pemikiran negatif, yang tidak mendukung dapat dihilangkan. Merubah persepsi dapat membantu kita mengurangi rasa cemas dan takut berada di dalam situasi yang tidak menentu. Selain merubah persepsi, masih ada beberapa cara untuk keluar dari zona nyaman.

Penasaran? Yuk, langsung saja kita simak penjabarannya berikut ini.

Belajar sesuatu yang baru

Setidaknya, mempelajari sesuatu yang baru memiliki dua keuntungan. Yang pertama, kita membiasakan diri berada di dalam situasi yang baru.

Berada di dalam situasi yang baru niscaya membuat kita merasa cemas dan takut. Nah, dengan terbiasa mempelajari sesuatu yang baru, kita pun terbiasa menghadapi kecemasan dan ketakutan. Saat kita terbiasa dengan kecemasan dan ketakutan, kita pun tidak lagi kaget dengan perasaan seperti itu.
Keuntungan yang kedua yaitu, dengan mempelajari hal-hal baru, pengetahuan kita pun bertambah, demikian juga dengan skill kita.

Pengetahuan dan skill baru ini dapat kita gunakan sebagai senjata untuk menghadapi kondisi baru, situasi yang masih asing bagi kita.

Perluas sudut pandang

Untuk keluar dari zona nyaman, kita perlu memperluas perspektif kita. Ini dikarenakan, situasi baru harus didekati dengan perspektif yang berbeda. Orang-orang yang berada di dalam situasi itu memiliki pandangan yang sama sekali berbeda dengan pandangan kita.

Nah, jika kita tidak memperluas perspektif kita, kita pun tidak akan dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan orang-orang yang berada di dalam situasi itu.

Salah satu cara memperluas sudut pandang yaitu dengan bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Kita dapat mempelajari tradisi, budaya, dan situasi yang berbeda.

Tentukan tujuan

Keluar dari zona nyaman akan berkali lipat lebih sulit manakala kita tidak memiliki tujuan yang jelas. Ini sama artinya kita tidak memiliki persiapan. Kita sama sekali buta dengan situasi baru; Kita sama sekali tidak tahu apa yang ada di luar sana. Jika kita tidak siap dengan kegagalan, maka keluar dari zona nyaman justru akan membuat kita jera.

Oleh karena itulah, kita perlu mempersiapkan diri manakala kita ingin keluar dari zona nyaman kita.
Salah satu persiapan untuk menghadapi situasi yang baru yaitu menentukan tujuan yang jelas.
Menentukan tujuan berarti mengetahui ke mana kita akan pergi, mengetahui risiko apa saja yang akan kita hadapi, orang-orang macam apa yang akan menjadi teman kita, juga orang-orang yang seperti apa yang akan kita hadapi.

Bersosialisasi dengan orang-orang baru

Kelua dari zona nyaman berarti keluar dari lingkungan di mana kita berada. Ini berarti kita bergaul dan berurusan dengan orang-orang baru.

Nah, persiapkanlah diri Anda untuk keluar dari zona nyaman dengan cara memperbanyak teman, bersosialisasi dengan berbagai kalangan.

Luasnya pergaulan dapat membantu mengurangi kecemasan kita manakala berada di dalam situasi yang asing. Setidaknya, orang-orang yang baru kita kenal dapat membantu kita mengadapi situasi yang baru.

Ingat, mereka adalah orang-orang yang sudah ahli dan sudah familiar dengan situasi itu. Dengan demikian, ketika Anda sudah mengenal mereka, mereka pun dengan senang hati akan membantu Anda.

Jangan menjadi perfeksionis

Salah satu penyebab kecemasan yaitu terlalu berharap meraih hasil yang sempurna.
Tinggal di dalam situasi yang sudah familiar membuat kita nyaman di dalamnya. Ini dikarenakan, saat kita sudah familiar dengan suatu hal, maka kita pun akan menjadi ahli di dalam hal itu. Dan, saat kita menjadi ahli, kita pun akan lebih mudah meraih kesempurnaan.

Sebagai contoh, sudah belasan tahun Anda bekerja di perusahaan A sebagai seorang staf keuangan. Anda sudah sangat familiar dengan situasi kerja di perusahaan itu. Anda sudah paham dengan ritme kerjanya, paham bagaimana berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan itu, serta paham bagaimana prosedur kerja di perusahaan itu.

Karena sudah sangat familiar dengan situasi di perusahaan itu, Anda pun sudah sangat nyaman berada di dalamnya. Anda sudah tidak perlu menyesuaikan diri dengan ritme kerja, dengan orang-orang di dalamnya, juga sudah tidak perlu beradaptasi dengan aturan-aturan kerjanya. Anda sudah sangat ahli di dalamnya. Anda sudah tidak memerlukan bantuan orang lain untuk membimbing Anda.

Saat Anda sudah sangat familiar di tempat kerja Anda, bukanlah hal yang sulit untuk bekerja secara maksimal di dalamnya. Sudah tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Oleh karenanya, Anda dapat meningkatkan produktivitas Anda kapan pun Anda mau.

Nah, keluar dari zona nyaman bisa berarti kegagalan demi kegagalan. Ini dikarenakan, kita melakukan apa yang belum pernah kita lakukan, kita masih sangat asing dengan apa yang kita lakukan. Kita asing dengan orang-orang yang berada di lingkungan baru itu. Kita masih harus banyak belajar dan menyesuaikan diri.

Apa kosekuensinya? Tentu saja, saat kita belum familiar atau belum mengenal situasi baru dengan baik, niscaya kita akan mengalami banyak kegagalan.

Orang yang perfeksionis senantiasa takut dan cemas manakala berada di dalam situasi yang baru, melakukan sesuatu yang baru, yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ini dikarenakan, ia takut kalau-kalau hasilnya mengecewakan, kalau-kalau ia gagal dalam melakukan hal itu.

Oleh karena itulah, agar Anda tidak canggung dengan situasi yang masih asing bagi Anda, berhentilah menjadi orang yang perfeksionis. Maklumilah diri Anda jika Anda berbuat banyak kesalahan. Tanamkan di dalam benak Anda bahwa Anda gagal karena Anda masih belum mengenal dan belum ahli di dalam situasi baru tersebut.

Realistis

Sehubungan dengan tantangan, secara umum, ada tiga zona yang dapat kita temui dalam kehidupan ini. Yang pertama adalah zona nyaman. Zona ini merupakan zona yang sudah sangat familiar bagi kita. Dan, karena familiar, kita pun merasa nyaman di dalamnya.

Kita merasa nyaman berada di zona ini karena secara alamiah, kita cemas dan takut terhadap sesuatu yang baru. Sebaliknya, kita merasa nyaman berada di dalam situasi di mana kita sudah terbiasa hidup di dalamnya. Sudah tidak ada lagi tantangan di dalam zona ini.

Zona yang kedua adalah zona pembelajaran (learning zone). Berada di zona ini membuat kita cemas tetapi, kecemasan itu masih dapat kita atasi. Contoh zona ini yaitu situasi penuh tantangan, yang pernah kita alami sebelum-sebelumnya.

Sudah beberapa kali Anda mengikuti meeting bersama direksi. Anda pun tidak memiliki fobia untuk mempresentasikan rencana kerja Anda. Menghadapi situasi itu, sekali pun Anda tidak memiliki fobia, niscaya tetap muncul kecemasan di dalam diri Anda. Ini dikarenakan, banyak keputusan (benar) yang harus Anda buat. Rasa cemas ini sangat rasional dan masih dapat ditoleransi. Anda pun masih dapat mengatasinya dengan berbagai cara.

Para pakar menyebut kecemasan ini sebagai optimal level of anxiety (tingkat kecemasan yang moderat yang masih dapat dihadapi).

Ketiga, zona panik alias panic zone. Zona ini merupakan zona yang sangat asing bagi kita. Dinamakan zona panik karena bisa jadi, kita belum pernah sekali pun berada di dalam zona ini, yang menyebabkan kita panik berada di dalamnya. Atau, bisa jadi juga, kita sudah pernah berada di dalam zona ini, tetapi kita memiliki masalah adaptasi di dalamnya. Misalnya, kita memiliki alergi konsumsi masakan laut alias sea food. Saat kita mengonsumsi cumi, misalkan, timbul bentol-bentol di tubuh kita. Ini berarti, sea food menjadi zona panik kita.

Saat Anda ingin keluar dari zona nyaman, pastikan bahwa Anda memasuki zona pembelajaran alias learning zone, bukan panic zone. Memilih zona pembelajaran, alih-alih zona panik merupakan pilihan yang realistis. Ini dikarenakan, Anda memilih zona yang sesuai dengan batas kemampuan Anda.

Jika Anda memilih berada di zona panik, tidak menutup kemungkinan yang terjadi justru Anda akan jera untuk sekali lagi mencoba keluar dari zona nyaman. Penyebabnya, situasi yang Anda hadapi tidak sesuai dengan batas kemampuan Anda. Mungkin Anda akan menasihati diri Anda seperti ini: “Ga lagi-lagi, deh, keluar dari zona nyaman. Situasi di luar penuh dengan risiko dan sangat berbahaya.”

Salah satu contoh berada di dalam zona panik yaitu, maju ke atas panggung dan bernyanyi di hadapan ribuan penonton untuk pertama kalinya, padahal kita memiliki demam panggung.

Memaksakan diri untuk berada di atas panggung sementara kita memiliki fobia berada di atas panggung merupakan ide yang buruk. Kepanikan bisa menyerang kita. Dalam banyak kasus, bahkan sampai ada yang perutnya mual dan muntah karena sangking paniknya.

Ujungnya, kita pun malah malu dan menyalahkan diri kita sendiri karena telah memilih keputusan yang salah (memutuskan untuk mencoba tampil di atas panggung). Pada gilirannya, kesan yang timbul di dalam benak kita mengani situasi baru sangatlah buruk. Kita akan trauma untuk keluar dari zona nyaman.

Merubah perspektif 

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, pikiran kita turut memengaruhi bagaimana kita menghadapi situasi baru. Pikiran turut memengaruhi perasaan dan perilaku kita.

Ini seperti yang dijelaskan oleh Dennis Greenberger dan Christine A. Padesky dalam buku mereka yang berjudul Manajemen Pikiran: Metode Ampuh Menata Pikiran untuk Mengatasi Depresi, Kemarahan, Kecemasan, dan Persaan Merusak Lainnya. Berkaitan dengan hal itu, mereka menyontohkannya dengan keadaan berikut.

Bayangkan Anda berada di dalam sebuah pesta. Banyak orang yang tidak Anda kenal, tetapi tak sedikit pula orang yang sudah Anda kenal, sekali pun hanya sebatas kenal.

Saat Anda melihat orang yang sudah Anda kenal (maksudnya, sebatas kenal, bukan teman dekat), Anda pun dengan antusias menyapanya. Tetapi, ia hanya diam, tidak merespons sapaan Anda. Nah, reaksi Anda ketika mendapatinya tidak merespons sapaan Anda senantiasa dipengaruhi oleh pikiran Anda.

Jika Anda berpikir bahwa orang itu sombong, maka Anda pun akan merasa jengkel dengan perilakunya. Jika Anda berpikir bahwa dia tidak melihat kehadiran Anda, maka Anda pun akan segera menghampirinya, menepuk pundaknya untuk menyapanya. Dan, jika Anda berpikir dia sedang asyik mengobrol dengan pasangannya, Anda pun akan membiarkannya supaya tidak menganggu keduanya.

Nah, demikian juga ketika Anda memasuki situasi yang baru. Pikiran-pikiran negatif, yang tidak mendukung bisa memengaruhi perasaan Anda. Berada di dalam situasi baru saja sudah cukup membuat Anda cemas, apalagi diperparah dengan pikiran-pikiran negatif tentang situasi asing itu. Berpikir bahwa keadaan di luar sana penuh dengan bahaya yang bisa menjatuhkan diri Anda akan membuat rasa cemas dan takut Anda semakin menjadi-jadi.

Pemikian-pemikiran yang tidak mendukung ini dapat Anda hilangkan atau minimalisir dengan cara mencari bukti-bukti yang mendukung pemikian Anda serta bukti-bukti yang menyangkal pemikiran itu.

Dengan mengetahui bukti-bukti yang menyangkal pikiran Anda, kecemasan dan ketakutan Anda pun berkurang karena Anda menyadari bahwa pikiran-pikiran itu tidak masuk akal. Anda sadar bahwa kecemasan dan ketakutan sungguh tidak diperlukan untuk menghadapi situasi baru itu.

Sementara itu, dengan bukti yang mendukung pemikiran Anda, Anda dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi kenyataan yang digambarkan oleh pemikiran itu.

Keluar dari zona nyaman bukan hanya merupakan pilihan, melainkan keharusan.  Orang yang tidak berani keluar dari zona nyaman tidak akan bisa maju. Bahkan, bisa jadi, ia tidak dapat bertahan hidup. Istilah populernya, ia akan mengalami seleksi alam. Hal ini dikarenakan, dunia kita sekarang ini merupakan dunia yang penuh ketidakpastian. Setiap langkah yang kita tempuh, setiap tempat yang kita pijaki, senyaman apa pun ia, tetap saja mengandung ketidakpastian. Keluar dari zona nyaman merupakan salah satu seni untuk bertahan di dunia yang penuh dengan ketidakpastan ini.

Nah, agar respons kita terhadap situasi baru tidak berlebihan, atau dalam kata lain, agar kita dapat mengontrol diri kita manakala berada di dalam situasi yang baru, kita harus mempersiapkan diri untuk mengahadapinya. Kita harus tahu cara untuk menyesuaikan diri dengan situasi itu.
Kunci untuk menghadapi situasi baru adalah memiliki tujuan, berpikir positif, dan berani.

Sardana







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amnesti Pajak Berakhir, Objek Baru Lahir

Hiruk pikuk pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang berlangsung selama periode Juli 2016 sampai dengan Maret 2017 tel...