Kamis, 04 Agustus 2016

Skouw, Pasar Ujung Timur Indonesia

“Belum lengkap tinggal di Jayapura kalau belum berkunjung ke perbatasan Indonesia – Papua Nugini”, begitu celoteh pak Rahul (Rahmad Auladi) saat mengajakku main-main ke perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Sabtu 23 Juli 2016, adalah hari keempat penulis tugas di Jayapura. Tentu saja mendapat ajakannya langsung saya amini, pikirku kapan lagi bisa ke sana dan mumpung ada teman.

Sekitar jam 8-an kami (Penulis, Pak Dwi Krisnanto, pak Muh. Yahya, dan mas Tri Bowo Cahyono) telah berkumpul di rumah dinasnya pak Rahul yang bersebelahan dengan rumah dinas penulis.  Kami memang tinggal satu komplek yang biasa disebut kompleks Pajak 4 Skyline. Dari sini kami menuju ke kompleks rumah dinas KPP Pratama Jayapura, persis posisinya di belakang kantor terdapat dua rumah dinas. Ini mengingatkan pada KPP Pratama Purwakarta yang memiliki rumah dinas satu kompleks dengan kantor. Jarak dari Skyline ke KPP Pratama Jayapura tidak begitu jauh sekitar 1 km. Rupanya di sana, kami disambut dengan menu sarapan pagi yang dimasak oleh para Chef bujang lokal (bulok), pak I Made Darma dan Pak Urip Widodo, mereka adalah Kasi di KPP Pratama Jayapura. Usai menuntaskan program sarapan pagi ala para bulok ini, kami mampir dulu ke Hypermart Tanah Hitam untuk melengkapi perbekalan menuju perbatasan Indonesia-Papua Nugini.

Perjalanan pun dimulai, kondisi jalan raya mulus, naik turun dan berkelok, di kelilingi hutan yang masih hijau. Pada jarak yang belum terlalu jauh dari Tanah Hitam nampak di sisi kiri jalan laut yang begitu indah. Karena terpesonanya melihat pemandangan pak Darma yang dari Bali bilang, “Nih kalau di Bali, akan jadi tempat wisata yang menarik”. Papua memang memiliki banyak panorama indah yang belum terekspose banyak orang.

Setelah berjalan lebih kurang 20 km, akan ditemui perkampungan asli Papua yang dikenal dengan Kampung Nafri. Di kampung tersebut terdapat pos polisi yang dijaga oleh beberapa orang polisi. Sekilas kehidupan di kampung yang dibelah oleh jalan raya ini nampak adem ayem, di pekarangan rumah mereka berlarian hewan ternak, terutama babi berkeliaran kesana-kemari termasuk menyeberangi jalan. Namun dibalik suasana yang adem ayem, kampung tersebut mendapat julukan yang mebuat bulu kuduk berdiri, “kampung sadis”. Menurut berbagai informasi, penduduk kampung tersebut sering melakukan kekerasan fisik bahkan nyawa. Jangan coba-coba berbuat salah di kampung tersebut bila tak ingin mendapat masalah. Kalau sampai melindas babi mereka misalnya, mungkin akan dapat masalah rumit. Mereka dengan mudahnya melakukan kekerasan fisik bila ada orang luar dianggap bersalah di kampung tersebut. Tidak ada jalan lain untuk keluar atau masuk kota Jayapura dari arah timur selain melewati kampung tersebut. Tidak tahu akan kebenaran informasi itu, namun hal itu menjadikan kami harus berhati-hati saat melintasi perkampungan tersebut.

Selepas perkampungan Nafri, perjalanan masih panjang dengan suasana jalan yang masih sepi dengan kanan-kiri dikelilingi pepohonan nan hijau menghampar. Hampir dua jam kami berkendaraan dengan jarak tempuh sekitar 45 km, akhirnya sampai juga mendekati daerah perbatasan. Sebelum melewati pos penjagaan, di sebelah kiri terdapat pasar yang cukup ramai dikunjungi pembeli. Itulah Pasar Skouw, pasar ini tidak setiap hari buka. Sepekan hanya ada tiga hari pasar yaitu Selasa, Kamis, dan Sabtu. Kebetulan sekali kami berkunjung ke sini di waktu yang tepat, hari Sabtu, hari bukanya pasar Skouw. Sebagian besar pembeli di pasar ini adalah warga Papua Nugini. WNI setempat pun dapat berbelanja pada desa terdekat di Papua Nugini. Beberapa ratus meter dari pasar tersebut terdapat Pos Penjagaan yang dijaga oleh Tentara Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Indonesia Papua Nugini. Di pos ini kami diperiksa dan ditanyakan maksud dan tujuan kedatangan. Setelah menjelaskan maksud dan tujuannya, satu satu KTP kami diminta oleh petugas pos. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju gapura perbatasan. Antara pos penjagaan dan gapura batas tengah dilakukan pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw yang nampaknya kalau rampung akan jadi bangunan megah.

Tepat disamping pagar dan gapura perbatasan terdapat monumen pos lintas batas yang prasasti peresmiannya ditandatangi oleh Presiden RI (SBY) dan PM Papua Nugini. Persis tak jauh di belakang monumen tersebut terdapat menara perbatasan berwarna putih yang menjulang tinggi. Ngobrol-ngobrol sebentar dengan petugas yang menjaga gerbang perbatasan, atas izin petugas jaga kami melewati pagar perbatasan Indonesia. Untuk masuk ke Papua Nugini masih harus melewati pagar batas lagi, dan akhirnya kami pun menginjakkan kakinya ke luar negeri tanpa harus menggunakan paspor.

Kampung Wutung di Papua Nugini, adalah kampung yang berbatasan langsung dengan desa Skouw yang berada di Indonesia. Hari itu, mereka berlalu lalang membawa barang belanjaan yang dibeli dari pasar Skouw. Sejumlah angkutan umum telah menanti di terminal untuk mengangkut para pembeli itu menuju tujuannya masing-masing. Perjuangan mereka membawa barang belanjaan lumayan berat, karena harus berjalan kaki dari pasar Skouw ke terminal Wutung yang berjarak hampir 1 km.

Di balik pagar batas Papua Nugini terdapat bangunan kantor imigrasi serta beberapa bangunan tempat tinggal yang digunakan para petugas perbatasan mereka. Di sana pun ada juga yang berjualan, tetapi hanya beberapa saja, dan tak seramai bila dibandingkan di pasar Skouw.

Alhamdulillah, petualangan pertama di kota Jayapura ini, kami dapat menginjakkan kaki ke negera tetangga Papua Nugini yang bertepatan juga dengan hari pasar Skouw, sehingga suasanya cukup ramai.


Jayapura, 4 Agustus 2016

Sardana



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amnesti Pajak Berakhir, Objek Baru Lahir

Hiruk pikuk pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang berlangsung selama periode Juli 2016 sampai dengan Maret 2017 tel...