Senin, 03 Februari 2014

Mutasi Kerja.… (Syukur: jembatan antara harapan dan kenyataan)


Banyak rekan yang memberikan ucapan selamat ketika pengumuman mutasi itu menempatkan saya di kota Purwakarta. Walau ada pula yang nyindir.. “Kok cepet-cepet ngerem sih pak.. padahal kalau agak sabar satu jam lagi nyampe tuh ke Bandung.” Adapula rekan saat di kantor lama delapan tahun  lalu yang saat ini sudah menjabat sebagai kepala kantor pajak salah satu kota di Sumatera memberikan ucapan dengan selipan bahasa daerahnya: “Selamat ya sanak, sekarang ke kantor cukup sepuluh menit ya?.” Entah “muji” atau “ngejek” gak jelas apa maksudnya ucapan teman yang satu ini, tapi emang begitulah gayanya dia. Dia sudah tahu kalau home base saya di Bandung, dan pastinya dia juga tahu betul kalau jarak Bandung – Purwakarta itu sekitar 60 km, waktu tempuh via jalan tol pun setidaknya butuh 40 menit. Tetapi kok bisa-bisanya bilang “cukup sepuluh menit”. He he he.. ya itulah yang saya maksud gak jelas apakah ini “pujian” atau “ejekan”. Tapi ya sudah lah.. sabar aja saya mah.

Memang sih kalau ditanya pilih mana di Bandung atau di Purwakarta, saya tentu akan memilih di Bandung. Walaupun Purwakarta pernah menjadi kota yang diharapkan, tapi perjalanan waktu dan keadaan yang menjadikan Bandung lebih utama untuk dipilih.

Namun dalam hidup, siapapun pastilah akan pernah bahkan mungkin sering mendapatkan kenyataan yang berbeda dengan harapan yang didambakan. Ada pasangan muda yang berharap anak pertamanya lelaki, tetapi kenyataan justru memberinya anak wanita. Ribuan peserta audisi kontes tertentu, tetapi kenyataan hanya beberapa peserta saja yang diloloskan oleh juri.  

Itulah fakta, namun jarak Purwakarta dan Bandung yang tidak dekat dan dipisahkan oleh banyak bukit maupun lembah  itu telah disambung oleh banyak jembatan. Pada jalur tol Cipularang misalnya antara dua kota itu disambung oleh jembatan Ciujung yang panjangnya 550 meter, Cisomang 252 meter, Cikubang 500 meter, Cipada 720 meter, dan Cimeta 400 meter. Akhirnya dengan banyaknya jembatan penyambung itu menjadikan banyak orang berlalu lalang mendapatkan manfaat, laju ekonomi terus melaju.

Jadi ketika harapan berbeda dengan kenyataan dibutuhkan jembatan penghubung agar perbedaan itu tidak menjadikan hidupnya mandek, buntu, apalagi gak bisa gerak. Jembatan penghubung itu adalah syukur. Bahkan Allah menjanjikan kepada hambanya yang bersyukur atas nikmat-Nya maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya lagi. Sesungguhnya apa yang terjadi pada kehidupan seorang anak manusia tidak terkecuali semua telah tercatat pada ilmunya Allah. Semakin jauh jarak antara harapan dan kenyataan, harus semakin banyak jembatan syukur yang menghubungkannya agar nikmat Allah tetap bertambah.

Ya Allah bimbinglah, tunjukilah, dan jangan cabut hidayah-Mu. Tetapkanlah agar diri ini menjadi hamba yang selalu berdo’a, meminta pertolongan, dan beribadah kepada-Mu. Sungguh begitu besar nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami. Masukan kami kedalam kelompok hamba yang senantiasa bersyukur kepada-Mu. Jangan masukan kedalam orang yang mendustkan nikmat-Mu.

Maka nikmat Tuhanmu yan manakah yang kamu dustakan?

Sardana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amnesti Pajak Berakhir, Objek Baru Lahir

Hiruk pikuk pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang berlangsung selama periode Juli 2016 sampai dengan Maret 2017 tel...