Jumat, 14 Maret 2014

Ujian, Cara Allah mencintai hamba-Nya


Setiap orang pasti merasakan masa-masa sulit. Himpitan ekonomi, penyakit yang diderita, kekhawatiran, kesedihan, bencana alam atau ujian dalam bentuk lain. Namun ternyata Nabi mengabarkan kepada kita bahwa itu adalah salah satu cara Allah mencintai suatu kaum. Nabi saw bersabda, “Apabila Allah mencitai suatu kaum, Ia akan menguji mereka”

Mungkin sebagian kita bertanya, “Mengapa mesti demikian, Allah mewujudkan rasa cinta dengan menggunakan ujian sebagai sarananya?”


Kita pernah atau sedang mengikuti pendidikan dalam suatu jenjang, SD, SMP, SMA atau bahkan perguruan tinggi dalam segala level. Atau saat mengikuti kegiatan extra kurikuler seperti karate, taekwondo, dan lain-lain. Setiap kali ada kenaikan tingkat atau jenjang mesti akan ditempuh dengan ujian. Begitu pula Allah ketika hendak mengangkat derajat suatu kaum atau meningkatkan posisi seorang manusia di hadapan-Nya, Dia akan memberi ujian kepada yang dikehendaki-Nya. Di saat seorang hamba tidak memiliki amalan-amalan yang dapat mengantarkan ke level yang lebih tinggi, Allah memberikan alternative lain yaitu dengan terus-menerus mencobanya dengan sesuatu yang tidak disukainya. Sehingga bila dia sukses melaluinya, tentu ia akan mencapai kedudukan tersebut.


Tidak sedikit orang yang ketika diberikan kelapangan hidup, kekayaan yang berlimpah, popularitas yang teratas, tapi justru itu semua menjauhkan dirinya dari Allah. Seolah apa yang ada pada dirinya adalah hasil jerih payahnya semata, karya tangannya sendiri. Mereka lupa kalau itu semua hakikatnya adalah kehendak Allah. Semua yang ada di alam semesta ini adalah milik Allah. Kesuksesannya telah manjadikan dirinya seorang yang sombong, angkuh, merendahkan orang lain. Padahal itu semua adalah dari Allah, tapi dia lupa. Ujian berupa kesusahan, kegagalan, atau bentuk lainnya merupakan sarana yang Allah rancang agar seorang anak manusia itu tidak lupa dan mengingat kembali akan keberadaan Allah yang memberi kehidupan. Ujian laksana rem kehidupan pada waktu pengemudinya terlalu asyik dengan nyaman perjalanan. Sufyan bin Uayinah berkata, “Apa yang tidak disukai seseorang, itu lebih baik daripada apa yang disukainya. Sebab, apa yang tidak disukainya dapat mendorongnya untuk berdo’a, sedangkan apa yang disukainya dapat membuat lalai.”


Sangat mustahil sesorang selama hidupnya terbebas dari perbuatan salah dan dosa. Dengan segala ketidaksempurnaannya, manusia akhirnya  pernah juga tergelincir pada perbuatan dosa. Secerdik apapun seorang bertindak, tentu akan ada kekurangan. Bahkan diam saja tidak berbuat karena khawatir salah juga sebuah kesalahan, karena tidak mau memanfaatkan kesempatan untuk beramal.  Di sinilah kemudian Allah membuktikan kecintaannya dengan memberikan ujian kepada hamba. Sakit, sedih, derita bagi seorang hamba adalah sarana yang Allah berikan untuk membersihkan sebagian dosanya. Seorang yang tatkala sehat terbiasa melakuakn berbagai ibadah misalnya sholat sunah, tapi kemudian dia tidak bisa lagi melakukannya karena sakit, maka nilai ibadah sholatnya itu akan terus dia dapatkan. Ya,  ujian akan membersihkan dirinya dari dosa.


Begitu besarnya manfaat dari ujian hidup, maka seyogyanya kita tidak perlu terlalu bersedih atas musibah yang dihadapi.  Tidak membuat kita frustasi apalagi putus asa dalam menjalani hidup. Tapi harus melihatnya dari sisi positif bahwa Allah masih mencintai dirinya. Bersabar dan melipat gandakan kesabaran adalah sebuah pilihan yang tepat untuk kita ambil, sebab hanya itulah yang akan menjadikan hidunya semakin baik dan lebih baik. Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolong kita. Janganlah kamu lemah dan sedih, jika kamu orang-orang yang beriman.




Sardana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amnesti Pajak Berakhir, Objek Baru Lahir

Hiruk pikuk pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang berlangsung selama periode Juli 2016 sampai dengan Maret 2017 tel...