Rabu, 12 November 2014

Statistik Goals Persib, Menjaga Optimisme



Dalam pekan ini warga kota Bandung khususnya para bobotoh Persib tengah bersuka ria atas kemenangan Persib yang tampil sebagai jawara Liga Super Indonesia 2014. Sambutan yang meriah ketika iring-iringan pemain Persib mengelilingi jalan-jalan protokol kota Bandung.  Setelah penantian lama 19 tahun sejak Persib meraih gelar juara liga Indonesia pertama 1995, kerinduan para pendukung pun kini terobati.

Ada hal menarik dari Persib dalam berbagai laga pertandingan yang dijalaninya selama musim liga tahun 2014 ini dan telah mengantarkannya sebagai tim terbaik di tahun ini adalah statistik goals yang dilesakannya Persib ke gawang lawan. Tribunnews.com misalkan merilis statistik goals yang dibuat Persib, dari 17 goal yang dicetak sebanyak 14 goals dibuat pada babak kedua. Dari 14 goals yang dihasilkan pada babak kedua sebanyak 8 goals disarangkan ke gawang lawan pada 15 menit terakhir. Artinya 47% goals Persib tercipta pada 15 menit akhir laga dari 90 menit waktu tanding. Bahkan dalam beberapa laga Persib terlebih dulu kecolongan goals dari pihak lawan, namun akhirnya Persib mampu membalikkan keadaan dan memenangi dalam pertandingan tersebut.

Pesan yang dapat diambil dari data statistik goals Persib tersebut adalah bahwa dalam hidup harus senantiasa optimis, tidak mudah berputus asa. Tidak segera menyimpulkan bahwa pada laga ini akan berakhir dengan kekalahan, kemenangan tidak mungkin terwujud, keadaan begitu sulit untuk ditaklukkan. Padahal waktu masih ada, kesempatan untuk mengubah keadaan masih sangat terbuka. Kesabaran, keuletan, kreatifitas, dan inovasi sangat dibutuhkan untuk mengatasi kondisi yang tidak kondusif menjadi yang lebih baik.

Juga sebaliknya, tidak ada yang menjamin bahwa situasi yang menyenangkan akan selalu bersamanya. Bisa saja akibat kelengahan, kurang konsentrasi, meremehkan pihak lawan, atau megendurkan intensitas kerja, maka kemenangan yang didepan mata menjadi sirna. Selama laga belum berakhir, nafas kehidupan masih berdenyut, maka mengurangi semangat bekerja, bersantai ria atau tidak focus lagi akan membawa pada kemunduran bahkan kekalahan.

Yang terpenting adalah bagaimana membangun rasa optimisme, agar hidup menjadi semakin lebih baik, lebih baik, dan berkahir dengan lebih baik. Barangkali tiga sikap ini dapat menjaga ras optimism hidup:

Pertama, rasa sulit dalam hidup harus dipandang sebagai garis datar atau garis turun sementara yang ada dalam sebuah grafik yang suatu saat bisa berubah. Masa sulit tidak akan berlangsung selamanya, situasi pasti akan berbalik menjadi baik. Tidak merasa telah divonis untuk terus menerus menjalani rangkaian kisah sedih, kecewa, dan kegagalan. Kesulitan harus dipandang sebagi pintu kesuksesan yang harus diusahakan agar pintu tersebut terbuka. Kesulitan bukan tembok raksasa yang memisahkan dari kesuksesan.

Kedua, masalah dalam kehidupan adalah ujian. Ujian adalah sarana untuk memperkaya pengalaman untuk mengarungi kehidupan. Tak ada siswa yang lulus sekolah tanpa ujian. Tak ada mahasiswa yang diwisuda sebagai sarjana tanpa ujian. Ujian adalah lompatan untuk menjadi lebih baik. Karena dari ujian itu menjadi tahu akan diri kita sendiri. Kegagalan tidak dilimpahkan kesalahannya pada orang lain melainkan berintrospeksi pada diri sendiri, apa kelamahannya dan bagaimana mengatasinya.

Ketiga, segera bangkit dari setiap kegagalan bukan menyerah pada nasib. Ada ungkapan, “The real champion is not just winning the competition but everyone who can stand up for every failure”. Kedewasaan dan ketegaran sesorang dihitung dari kemampuannya untuk bangkit dari setiap kegagalan yang dialaminya, bukan yang terus menerus larut dalam kesedihan.

Sardana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amnesti Pajak Berakhir, Objek Baru Lahir

Hiruk pikuk pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang berlangsung selama periode Juli 2016 sampai dengan Maret 2017 tel...