Selasa, 16 Desember 2014

21 Hukum Kepemimpinan Yang Tak Terbantahkan (bagian 5/terakhir)

Pada bagian sebelumnya (bagian 4), telah disampaikan 16 hukum kepemimpinan yang tak terbantahkan. Pada bagian terakhir ini disajikan lima hukum lainnya.
Selamat menyimak...


Ketujuh belas: Hukum Prioritas (The Law of Priorities)

Pemimpin memahami bahwa aktivitas belum tentu prestasi penting. Pemimpin tidak pernah melanjutkan suatu langkah yang lebih jauh tanpa prioritas. Dalam penentuan prioritas menggunakan Prinsip Pareto : Jika Anda memusatkan upaya pada 20 persen dari aktivitas terpenting, akan menghasilkan 80 persen dari upaya tersebut.

Juga dengan menggunakan kekuatan Tiga R: Requirement (kebutuhan), Return (hasil), Reward (balasan) dalam penentuan prioritas:

Pertama, apa kebutuhan pemimpin? Jawabnya: Apa yang harus pemimpin lakukan bahwa tanpa orang lain yang dapat atau harus melakukan untuk dirinya.

Kedua, apa yang memberikan keuntungan terbesar? Pemimpin harus menghabiskan sebagian besar waktu kerja dalam bidang yang berkekuatan terbesar. Jika orang lain bisa melakukan tugas 80 persen dari yang seperti pemimpin lakukan, maka dpat dilakukan pendelegasian.

Ketiga, apa memberikan balasan terbesar? Hal ini berkaitan dengan kepuasan pribadi. Luangkan waktu untuk hal-hal yang dicintai, karena akan memberikan energi dan gairah.

 

Kedelapan belas: Hukum Pengorbanan (The Law of Sacrifice)

Pemimpin harus berkorban untuk peningkatan. Ada kesalahan pemahaman di antara orang-orang yang bukan pemimpin. Mereka beranggapan bahwa  kepemimpinan adalah posisi, tunjangan, dan kekuasaan. Namun faktanya kepemimpinan membutuhkan pengorbanan.

Empat aturan untuk menjaga pemahaman tersebut:

Pertama, tidak ada kesuskesesan tanpa ada pengorbanan. Banyak para pekerja mendedikasikan waktunya selama empat tahun atau lebih untuk menghadiri kuliah sehingga mereka akan memiliki alat yang mereka butuhkan untuk karir mereka. Atlet mengorbankan waktu berjam-jam untuk latihan agar tampil di tingkat tinggi. Hidup adalah serangkaian pengorbanan.

Kedua, para pemimpin sering diminta untuk memberikan lebih dari yang lain. Inti dari kepemimpinan adalah menempatkan orang lain di depan sendiri. Dia melakukan apapun yang terbaik untuk tim. Semakin banyak tanggung jawab yang pemimpin terima, semakin sedikit pilihan yang dimilikinya.

Ketiga, pemimpin harus berkorban untuk tetap meningkat. Pemimpin seringkali mengalami kesulitan ketika mereka menganggap bahwa saatnya untuk berhenti berkorban. Tapi pengorbanan merupakan proses yang berkelanjutan. Ini bukan peristiwa satu kali transaksi.

Keempat, semakin tinggi jenjang kepemimpinan semakin besar pengorbanannnya. Semakin jauh berjalan, semakin besar biayanya.
 

Kesembilan belas: Hukum Waktu Yang Tepat (The Law of Timing)

“Saat/kapan” untuk memimpin adalah sama pentingnya dengan apa yang harus dikerjakan dan ke mana akan pergi. Waktu sering kali menjadi pembeda antara kesuksesan dan kegagalan. Ketika seorang pemimpin membuat tindakan, ada empat kemungkinan hasil:
Kemungkinan pertama: tindakan yang salah pada “waktu” yang salah menyebabkan bencana.
Kemungkinan kedua: tindakan yang tepat pada “waktu” yang salah yang menimbulkan resistensi.
Kemungkinan ketiga: tindakan yang salah pada “waktu” yang tepat adalah sebuah kesalahan
Kemungkinan keempat: tindakan yang tepat pada “waktu” yang tepat menghasilkan kesuksesan.

 
Kedua puluh: Hukum Pertumbuhan Eksplosif (The Law of Explosive Growth)

Pemimpin adalah kesabaran alami. Mereka ingin bergerak cepat. Mereka ingin melihat visi mereka terpenuhi. Mereka senang dalam proses. Para pemimpin yang baik cepat menilai arah suatu organisasi, proyek mana harus dijalankan, dan ide-ide yang kuat tentang untuk sampai ke sana. Bagaimana untuk menyelaraskan antara organisasi dan keinginan seorang pemimpin perlu menemukan hukum pertumbuhan yang eksplosif:

-          Jika membangun diri sendiri,  dapat mengalami kesuksesan pribadi
-          Jika membangun tim, organisasi dapat mengalami pertumbuhan
-          Jika membangun kepemimpinan, organisasi akan mencapai pertumbuhan yang eksplosif

Pemimpin yang handal memerlukan waktu, energy, dan sumber daya. Ada tiga alasan untuk hal ini:

Pertama, pemimpin keras untuk menemukan. Pemimpin seperti elang bukan kawanan.
Kedua, pemimpin keras untuk mengumpulkan. Mereka adalah wirausahawan dan melangkah dengan caranya sendiri. Apa yang dilakukan harus lebih menarik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Ketiga, pemimpin keras untuk menjaga. Hanya kesinambungan untuk tumbuh dan berada di depan di antara mereka yang dapat menambah nilai pertumbuhan dan menjaga kepentingannya.

Kedua puluh satu: Hukum Warisan (The Law of Legacy)

Kelanggengan seorang pemimpin diukur dengan suksesinya. Jika ingin membuat kenangan bagi generasi mendatang, maka mulailah berfikir tentang warisan.
Pertama, ketahui warisan yang hendak ditinggalkan. Suatu hari orang akan meringkas kehidupan kita dengan satu kalimat. Tulislah itu sekarang
Kedua, hidupkan warisan yang hendak ditinggalkan. Menjadi apa yang diinginkan untuk dilihat orang lain dan apa yang orang lain lihat dalam diri kita.
Ketiga, pilih orang yang akan meneruskan warisan kita. Warisan kita hanya dapat diteruskan oleh seseorang bukan oleh sebuah bangunan atau sebuah organisasi.
Keempat, pastikan Anda memuluskan tongkat kepemimpinan. Berinvestasi bagi pemimpin adalah yang dapat membawa warisan ke depan dan kemudian memberi kekuatan kepada penerus untuk melakukannya

 
Sardana

untuk blog kang dana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amnesti Pajak Berakhir, Objek Baru Lahir

Hiruk pikuk pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang berlangsung selama periode Juli 2016 sampai dengan Maret 2017 tel...