Kamis, 06 Oktober 2016

Mata Ini Penuh Keterbatasan

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-An’am : 103)

Ayat ini memberikan satu informasi kepada kita bahwa manusia memiliki suatu keterbatasan, di antaranya adalah keterbatasan penglihatan mata. Begitu banyak peristiwa di sekitar kita yang membuat mata tertipu ataupun tak mampu dijangkau oleh mata kita.

Mata sering tertipu oleh sesuatu yang tiada namun dilihatnya ada. Fatamorgana yang merupakan sebuah fenomena di mana optic yang biasanya terjadi di tanah lapang yang luas semisal padang pasir dengan adanya pembiasan cahaya melalui kepadatan yang berbeda, sehingga bisa membuat sesuatu yang tiada menjadi seolah ada. Dari kejauhan nampak ada genangan air yang luas namun saat didekati tidak ada, mata tertipu.

Pada saat kita berada di tepi pantai, kemudian kita memandang lautan yang luas menghampar maka akan nampak laut dan langit. Antara laut dan langit itu ada yang namanya batas horizontal yang menghubungkan dari ujung kiri ke ujung kanan, yang memisahkan antara laut dan langit. Itulah yang biasa disebut cakrawala, horiaon, kaki langit, atau ufuk. Namun dimanakah posisi garis itu? Adakah orang yang pernah mendapatkan garis itu? Tidak pernah ada garis itu, sekali lagi mata kita tertipu.

Paling sederhana aja, berjalanlah di tengah rel kereta api dan fokuskan pandangan jauh ke depan. Maka akan terlihat rel sebelah kiri dan kanan seolah-olah menyatu dalam satu titik. Betulkah itu menyatu? Teruslah berjalan menyusuri rel namun tak akan pernah mendapatkan titik pertemuan kedua rel tersebut. Kembali mata kita tertipu.

Fenomana yang yang lain dari keterbatasan mata kita yakni, sesuatu yang pasti ada tapi dilihatnya tiada. Di rumah memiliki alat elektronik semisal tv, kulkas, radio, dll yang akan berfungsi bila terdapat aliran listrik. Adakah kita yang tahu bentuk aliran listrik atau strum tersebut seperti apa? Kita setiap hari bergantung dan menggunakan aliran listrik, namun tak pernah tahu seperti apa wujud fisiknya. Padahal aliran juga listrik itu juga ada pada tubuh manusia, tapi nyatanya mata kita tak mampu melihatnya.

Manusia hidup pasti akan menghirup oksigen yang ada di udara. Pernahkah ada orang yang melihat udara? Tentu tidak ada yang pernah melihat udara, tapi udara dirasakan oleh kita. Karena tanpa udara manusia tak akan bisa hidup. Udara atau oksigen secara bentuk tidak dapat dirumuskan secara fisik oleh mata kita. Itulah keterbatasan mata manusia.

Dengan demikian untuk menyaksikan hal-hal yang fisik saja mata sering tertipu atau tidak mampu, apalagi memaksakan diri kepada hal-hal yang ghoib. Karenanya keyakinan kepada Allah swt dan hal-hal ghoib lainnya tidak musti diwujudkan dalam bentuk sesuatu yang bersifat fisik.

Ada tulisan kiriman dari grup WA yang cukup menarik dialog seorang anak muda dan ustadz. 
Pemuda tersebut lama sekolah di Russia, sekembali ke tanah air meminta kepad orang tuanya untuk mencari seorang guru (ustadz) yang mampu menjawab 3 pertanyaan darinya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang (ustadz) yang dimaksud.

Pemuda : (dengan nada sombong) ”Anda siapa ? dan apakah anda bisa menjawab pertanyaan saya?”
Ustadz : “Saya hanyalah hamab Allah dan denagn seizing-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda”
Pemuda : (tetap dengan  nada sombong) “Anda yakin?! Sedang professor dan banyak orang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya”
Ustadz : “InsyaAllah saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.”
Pemuda : “Saya punya 3 buah pertanyaan … pertama, kalau memang TUAHN itu ada, tunjukkan wujud TUHAN kepada saya!!, .. kedua, apakah yang dinamakan TAKDIR ?? … ketiga, kalau SETAN diciptakan dari api, kenapa dimasukkan ke nara yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat setan, sebab mereka memiliki unsur yang sama? Apakah TUHAN tidak berfikir sejauh itu ?”
Selesai pemuda menyampaikan pertanyaan tersebut, tiba-tiba ustadz MENAMPAR pemuda SOMBONG dengan keras.
Pemuda : (kaget dan sambal menahan rasa sakit) “Kenapa ?? Anda maraha kepada saya??”
Ustadz : “Saya tidak marah .!! TAMPARAN itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya”
Pemuda : “saya sungguh tidak mengerti ?!!”
Ustadz : “Bagaimana rasanya tamparan saya?”
Pemuda : “Tentu saja saya merasakan sakit!”
Ustadz :”Jadi Anda percaya bahwa sakit itu ada?”
Pemuada : “Ya, saya percaya”
Ustadz : “Tunjukkan pada saya wujud sakit itu !”
Pemuda : “Saya tidak bisa”
Ustadz : “Itulah jawaban pertama, kita semua merasakan keberadaan TUHAN tanpa mampu melihat wujud-NYA”
Ustadz : “Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?”
Pemuda : “Tidak.”
Ustadz : “Itulah yang dinamakan TAKDIR.”
Ustadz : “Terbuat dari apakah tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?”
Pemuda : “Kulit.”
Ustadz : “Terbuat dari apa pipin anda?”
Pemuda : “Kulit.”
Ustadz : “Bagaimana rasanya tamparan saya?”
Pemuda : “sakit.”
Ustadz : “walaupun setan terbuat dari api dan neraka terbuat dari api, jika TUHAN berkehendak, maka neraka akan menjadi tempat menyakitkan bagi setan”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amnesti Pajak Berakhir, Objek Baru Lahir

Hiruk pikuk pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang berlangsung selama periode Juli 2016 sampai dengan Maret 2017 tel...