Minggu, 08 Mei 2016

Produsen Amal Sholeh


Ada dua istilah yang sering digunakan oleh berbagai kalangan terutama dalam ilmu biologi dan dunia ekonomi. Agar tidak terlalu mbulet pada pengertian kedua kata tersebut,  buat istilah gampangnya saja, produsen adalah makhluk yang mampu menciptakan suatu output, sedangkan konsumen adalah makhluk yang memanfaatkan hasil dari pihak lain.

Lantas mengapa judulnya mengambil satu kata "produsen" saja, sedangkan "konsumen" tidak disertakan?

Dalam hal amal sholeh, manusia itu sudah diciptakan memang memiliki sifat konsumtif. Bukti bahwa manusia bersifat konsumtif, sejak masih dalam kandungan hingga terlahir, manusia sudah mengkonsumsi kebaikan dari  ibunya. Coba perhatikan bagaimana beratnya seorang ibu hamil membawa janin kemanpun dia pergi dan semakin hari bebanya semakin bertambah. Saat melahirkan, sifat konsumtif seorang anak manusia terhadap amal sholeh sang ibu lebih hebat lagi, rasa sakit yang tak terhingga bahkan pertaruhan antara hidup dan mati dia persembahkan  demi cintanya pada calon sang anak. Peran amal sholeh seorang ayah pun, walaupun tak langsung dirasakan oleh sang anak, jelas bukan sesuatu yang sedikit.

Itu baru cerita tentang proses hamil dan melahirkan seorang anak, sudah begitu banyak konsumsi amal kebaikan yang dirasakan oleh sosok anak manusia. Apalagi kalau harus dilanjutkan sampai proses pertumbuhan dan perkembangan hidupnya, sudah pasti asupan amal sholeh dari orang lain lebih banyak lagi dibutuhkan. Inilah bukti bahwa manusia itu memiliki sifat konsumtif, makanya "konsumen" tidak perlu dibahas pada kesempatan ini. Sebab sudah dapat dipastikan manusia akan mudah menerima, mencari, membutuhkan, dan sampai menuntut amal sholeh dari manusia lainnya.

Dengan demikian, fokusnya adalah bagaimana agar kita mampu menempatkan diri sebagai sosok produsen amal sholeh. Manusia yang bersedia dan bersenang hati menghasilkan amal sholeh setiap saat sehingga dapat memberikan manfaat sebanyak mungkin bagi manusia. Bukankan Rasulullah saw bersabda:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).

Begitu banyak keutamaan akan pentingnya produksi amal sholeh bagi manusia. Walaupun yang dirasakan oleh seseorang saat berbuat baik kepada orang lain, yang memperoleh manfaat langsung adalah orang menerima kebaikan (konsumer). Namun sesungguhnya perbuatan baiknya itu bagi dirinya sendiri.

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ
  
Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7)

Berikut ini, sebagian stimulus yang dijelaskan baik dalam al-qurán maupun al-hadits tentang keutamaan memiliki sifat sebagai produsen amal sholeh. Amal sholeh yang dilakukan sudah pastinya adalah yang dilandasi oleh keimanan yang kuat dan keikhlasan yang menghunjam ke dalam relung seorang manusia.

1.    Mendatangkan hidayah

Allah swt berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُم بِإِيمَٰنِهِمْ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ فِى جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh keni’matan. (QS. Yunus |10| : 9)


Menurut Ibn Katsir, ayat tersebut adalah kabar gembira bagi orang-orang yang bahagia, yakni mereka yang beriman kepada Allah Ta’ala, membenarkan para Rasul, melaksanakan apa yang diperintahkan, lalu mereka pun melakukan amal sholeh, bahwa sesungguhnya Allah akan memberi petunjuk kepada mereka karena keimanan mereka.

2.    Menghindari kerugian hidup

Allah swt berfirman:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

 Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).


3.    Teman sejati di alam kubur

Nabi bersabda;

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ

Suatu yang mengikuti mayat ada tiga, dua kembali pulang, dan satu ikut bersamanya…

يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Ia dihantarkan keluarganya, hartanya dan amalnya, maka yang kembali pulang keluarganya dan hartanya; sedangkan yang tersisa (bersamanya hanyalah) amalnya."

Allah swt menggambarkan akan penyesalahn orang-orang yang enggan beramal sholeh ketika hiudpnya:

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Wahai Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitan.” (QS Al Mu`minun |23|: 99-100) 

4.    Penolong dalam kesulitan

Suatu kisah yang masyhur dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari Muslim dikisahkan, ada tiga orang pemuda pergi hendak beribadah kepada Allah. Di perjalanan hujan turun sangat lebat sekali. Lalu mereka pun berlindung di dalam sebuah gua. Tiba-tiba jatuh sebuah batu sangat besar menutupi mulut gua. Ketiga-tiga pemuda itu akhirnya terkurung dan tidak dapat keluar.
Maka mereka pun berupaya dengan berdoá mengingat amal-amal terbaiknya yang pernah mereka lakukan, pemuda pertama yang mengurungkan keinginan berzinanya, pemuda kedua yang mengembalikan uang bayaran pembantunya yang berkembang biak sangat banyak, dan pemuda ketiga yang begitu besar rasa baktinya kepada kedua orangtuanya.
Akhirnya atas doá mereka, batu besar yang menutupi pintu gua pun terbuka, dan mereka dapat keluar dari dalam gua.

Penolong kesulitan bukan hanya saat di dunia, tetapi yang lebih dibutuhkan adalah pada saat di hari akhirat, Rasulullah bersabda;

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, ةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Barang siapa yang memudah kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim).


Ruang lingkup amal

Sabda Nabi Muhammad saw;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً أَفْضَلُهَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَوْضَعُهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Keimanan itu memiliki tujuh puluh sekian cabang, sebaik-baiknya adalah ucapan La ilaaha illallah, dan yang paling sederhana adalah mengyingkirkan bahaya dari jalan. Malu merupakan salah satu cabang dari keimanan.” (HR. Muslim).


Pantas jika kemudian, Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengungkapkan bahwa, “Nilai diri seseorang terletak pada kebaikan (amal sholeh) yang dilakukan.”
Dengan kata lain, amatlah banyak kebaikan (amal sholeh) yang bisa dilakukan. Misalnya, seorang ayah yang berangkat pagi, pulang malam untuk menafkahi keluarga dengan cara halal, itu amal sholeh.

Demikian pula, jika seorang ayah tadi dalam kesehariannya, ke kantor dan pulang ke rumah menggunakan sepeda motor, lalu berhati-hati dan mengikuti rambu-rambu lintas yang ada, sehingga dirinya tidak menjadi sebab terganggunya pengendara lain, maka sungguh dia telah beramal sholeh.
Begitu pula jika, sang ayah tadi banyak memberikan kesempatan pengendara lain untuk mendahului atau lewat di depannya kala ada persimpangan, sungguh ia telah memudahkan orang lain, dan insha Allah itu juga amal sholeh.

Subhanallah, andaikata seorang Muslim tidak bisa kemana-mana, lalu ia tersenyum kepada anggota keluarga, tetangga atau siapapun yang sempat ia lihat dalam waktu itu, baginya juga pahala. Karena tersenyum kepada sesama adalah bagian dari iman dan itu adalah amal sholeh.
Rasulullah bersabda;

أبي ذرّ رضي الله عنه قال : قالَ لي النبي صلى الله عليه و سلم : لاَ تَحْقِرَنَّ منَ المعْرُوفِ شَيْئاً ولوْ أنْ تَلْقَ أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Dari Abi Dzar radhiallahu anhu, Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri.” (HR. Shohih Muslim)

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” [QS: Al-Baqarah; 263]

Dan, sungguh amal sholeh lainnya masih sangat banyak dengan beragam bentuk amalan. Mulai dari sedekah, menuntut ilmu, mengajarkan ilmu, membantu urusan kaum Muslimin, mendirikan masjid, memperbaiki jalan yang rusak, mendirikan rumah sakit, hingga menegakkan hukum secara adil.

Subhanallah...

Akahkah biarkan waktu berlalu tanpa amal sholeh?

1 komentar:

Amnesti Pajak Berakhir, Objek Baru Lahir

Hiruk pikuk pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang berlangsung selama periode Juli 2016 sampai dengan Maret 2017 tel...