Rabu, 22 Januari 2014

Muraqabah untuk melejitkan potensi kebaikan


Seolah tak pernah ada rasa takut, berulang kali kali kita membaca, mendengar, mendapat informasi akan tertangkapnya pelaku kejahatan baik pencurian, perampokan sampai para koruptor. Padahal tidak sedikit petugas keamanan yang berjaga satuan pengamanan lingkungan, polisi, petugas KPK untuk mengawasi agar tidak terjadi tindak kejahatan ataupun kecurangan. Akan tetapi fakta terkadang berbicara berbeda. Mengapa itu dapat terjadi? Diantara penyebabnya adalah tidak adanya sikap muraqabah pada diri pelaku tersebut.

Dari segi bahasa, muraqabah memiliki arti pengawasan dan pantauan. Sikap muraqabah tercermin dengan adanya pengawasan dan pemantauan Allah terhadap dirinya. Adapun dari segi istilah, muraqabah adalah suatu keyakinan yang dimiliki sesorang bahwa Allah swt senantiasa mengawasinya, melihatnya, mendengarnya, dan mengetahui sega apapun yang dilakukannya dalam setiap waktu, setiap saat, setiap hirupan nafas, bahkan setiap kedipan mata sekalipun.

Sikap muraqabah yang dimiliki oleh seorang hamba akan memberikan dampak positif yang begitu besar pada sikap dan perilaku dalam menjalani kehidupannya. Muraqabah akan menjadikan seseorang akan optimal dalam beribadah dan dapat mencegah dari perbuatan maksiat. Karena ada perasaan Allah swt mengawasi dalam setiap beramal maka dia akan melakukan yang terbaik dalam ibadahnya. Begitupula ketika ada godaan untuk melakukan kemaksiatan, hatinya diingatkan bahwa Allah swt mengawasinya sehingga diapun akan menghindari perbuatan buruk tersebut karena Allah pasti mengetahuinya.

Abdullah bin Dinar mengemukakan, bahwa suatu ketika saya pergi bersama Umar bin Khattab ra menuju Mekah. Ktika kami sedang beristirahat, tiba-tiba muncul seorang penggembala menuruni lereng gunung menuju kami. Umar berkata kepada penggembala: “Hai penggembala, juallah seekor kambingmu kepada saya.” Ia menjawab, “Tidak! Saya ini seorang budak.” Umar menimpali lagi, “Katakan saja kepada tuanmu bahwa dombanya direkam serigala.” Penggembala mengatakan lagi, “kalau begitu, dimanakah Allah?” Mendengar jawaban seperti itu, Umar menangus. Kemudian Umar mengatakan pada penggembala tersebut, “Kamu telah dimerdekakan di dunia oleh ucapanmu dan semoga ucapan itu bis memerdekakanmu di akhirat kelak.”

Mengapa penggembala menolak tawaran Umar untuk menjual kambingnya, yang tentunya tidak akan diketahui oleh tuannya karena jumlah kambingnya yang begitu banyak. Penggembala ini sangat menyadari bahwa Allah memahami dan mengetahuinya, sehingga dia dapat mengontrol segala perilakunya. Ia takut melakukan perbuatan kemaksiatan, kendatipun hal tersebut sangat memungkinkannya. Karena tiada orang yang akan mengadukannya pada tuannya, jika dia berbohong dan menjual kambingnya tersebut. Namun sikap muraqabahnya menjadikan dirinya tidak melakukan kemaksiatan itu.

Sosok yang memiliki muraqabah juga telah memiliki andil besar dalam suksesi dan pembentukan lahirnya generasi yang terbaik dihadapan Allah dan bermanfaat bagi umat manusia.  

Umar bin Khattab sebagai seorang khalifah untuk mengetahui kondisi rakyatnya sering melakukan blusukan, ronda malam sendirian. Jalan demi jalan dilalui, lorong demi lorong dilewati, tibalah di suatu gubug yang di malam hari masih melakukan aktivitas. Khalifah Umar pun menghentikan langkahnya, pingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Khalifah Umar mengintip dan mendengar perbincangan mereka.  Tampaklah ibu dan seorang anak perempuan yang sibuk mewadahi susu sebagai barang dagangannya.

Ibunya memerintahkan kepada anak gadisnya itu untuk mencampurkan air ke dalam susu agar dapat menambah jumlah barang dagangannya sehingga keuntungannya pun bisa meningkat. Namun anaknya segera menjawab, “Tidak bu, khalifah melarang keras semua penjual susu menambahkan air.” Ibunya menggerutu, “Ah, kenapa kau dengarkan khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu.”

“Ayolah Nak, lakukanlah, mumpung tengah malam. Tengah malam begini tidak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak tahu perbuatan kita”

“Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mancampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat, Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apapun kita menyembunyikannya,” tegas anak itu.

Di luar bilik gubug itu, Umar terharu dan bangga akan kejujuran anak perempuan itu.  Umar segera bergegas pulang dan meminta salah satu anaknya Ashim bin Umar untuk menikahi anak gadis itu. Dan dari pernikahan tersebut lahiranak perempuan bernama Laila yang dipanggil Ummu Ashim. Ummu Hasyim menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan, dari penikahnnya lahirlah Umar bin Abdul Aziz. Seorang khalifah yang di masa pemerintahannya memerintah dengan adil sehingga seluruh masyarakatnya hidup dalam kemakmuran.

Begitulah ketika muraqabah telah manjadi sikap hidup seseorang, maka dia menjadi hamba yang giat beramal soleh, menjauhi maksiat, dan menghasilkan keturunan yang baik.

Jika kita ingin menjadi hamba yang ingin melejitkan potensi kebaikan dan juga berharap memperoleh keturunan yang baik, maka jadilah hamba yang memiliki sikap muraqabah.

Wallahu’alam
Sardana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amnesti Pajak Berakhir, Objek Baru Lahir

Hiruk pikuk pelaksanaan program pengampunan pajak atau tax amnesty yang berlangsung selama periode Juli 2016 sampai dengan Maret 2017 tel...